
▪️▪️▪️
Akhir pekan Dimas berencana mengajak Zahra untuk makan di luar bersama dengan Denis. Zahra setuju dan ia juga mengajak serta Salsa sahabat tercinta nya.
Mobil Dimas sudah terparkir di pekarangan rumah Zahra.
Ting nong...
"Assalamu'alaikum" Sapa kedua kakak-beradik.
"Wa Alaikum salam. Eh nak Dimas. Mari masuk" Sapa Bima Arya.
"Iya om. makasih" jawab Dimas.
"Om, saya mo ngajak Zahra makan di luar" tambahnya.
"Iya tunggu sebentar, tidak lama lagi mereka turun. Ini siapa di samping kamu" tanya papa Bima.
"Ah iya om sampai lupa. Ini adik saya Denis, kebetulan lagi tidak ada jadwal terbang"
Yang ditunggu-tunggu akhirnya turun juga, seperti biasanya Zahra dan Salsa yang selalu memakai gamis syar'i masih tetap terlihat cantik.
"Maaf ya, lama nunggunya" ucap Zahra.
"Gak juga, kan bisa ngobrol bareng om Bima" jawab Hasan.
"Pah kita pergi dulu ya. Assalamu'alaikum"
"Assalamu'alaikum om kita pamit dulu" sambung Dimas juga.
"Wa Alaikum salam. Hati-hati dijalan" ucap papa Bima.
▪️▪️▪️
Angin sore yang berhembus kencang membuat Zahra dan Salsa bersusah payah menahan jilbabnya agar tidak tersingkap.
Dimas memang mengajak mereka makan di kafe yang letaknya di bibir pantai.
"Subhanallah anginnya kenceng banget" ucap Zahra.
"Kalo tau gitu kita makan di tempat lain aja" balas Dimas.
"Gak apa-apa kok, pemandangannya cantik".
"Cantikan juga kalian" sambung Denis.
__ADS_1
"Yah dasar pilot playboy" ucap Salsa sewot.
"Tau dari mana aku playboy, aku kan good boy"
"Kalian berdua kalo ketemu pasti gak akur, hati-hati nanti jodoh lo" goda Zahra.
"ogah" ucap Salsa
"Siapa juga yang mau, tipe aku tuh seperti Zahra, kalem gak pecicilan kayak itu tuh" balas Denis sambil memonyongkan bibirnya kearah Salsa.
Benar saja mendengar perkataan itu Dimas langsung melotot kearah adiknya.
"Awas aja kamu" ucap Dimas tegas.
"Becanda kak. Tapi kan semua tergantung Zahra nya mau sama siapa" Denis masih saja membuat kakaknya jengkel.
"Kalian memang seperti anak kecil" ucap Zahra tersenyum.
"Makanannya mo dianggurin nih" tanya Salsa.
Akhirnya mereka makan dengan tenang setelah sedikit saling menggoda.
▪️▪️▪️
Skip
"Amplop apa ini, nama pengirimnya juga tidak ada" batinnya.
Dimas memutuskan untuk mandi terlebih dahulu baru membuka amplop nya.
▪️▪️▪️
Dibukanya perlahan, nampak itu adalah sebuah foto.
"Apa-apaan semua ini. Inikan Zahra.
Terus ini Denis ngapain juga begini" batin Dimas geram.
Dimas berjalan ke kamar Denis dengan rasa cemburunya.
Brak... brak... brak...
Pintu kamar adiknya digedor dengan kuat.
"Denis..! Keluar kamu"
__ADS_1
"Apa sih kak, kok begitu ngetuk pintunya" tanya Denis dari arah kamar.
"Keluar kamu!!!"
Pintu pun di buka. Dimas menghamburkan beberapa lembar foto kearah adiknya.
"Maksud kakak apa. Kok marah gak jelas begini" tanya Denis penasaran.
"Liat itu. Bisa-bisanya kamu nusuk kakak dari belakang"
"Kok foto aku waktu nolong Zahra ada sama kakak" batin Denis.
"Dapat dari mana foto ini" tanya Denis.
"Masa bodoh dengan itu. Apa maksud semua ini" jawab Dimas emosi
"Ini tidak seperti yang kakak bayangkan".
"Tidak bagaimana. Kamu lupa kakak lagi pendekatan sama dia" teriak Dimas sambil mencengkram kerah baju Denis.
Mama Anita yang mendengar keributan datang melerai keduanya.
"Dimas, lepasin adik kamu" pinta mama Anita.
"Huh" dengus Dimas kesal.
"Kalian kenapa. Kok ribut-ribut begini" tanya mama Anita.
"Coba mama liat foto ini" ucap Dimas.
"Zahra dan Denis. Kalian kenapa bisa begini" tanya mama Anita lagi
"Ini tidak seperti apa yang kakak pikirkan. Ini kejadiannya pagi tadi. Zahra hampir ditabrak motor yang dengan sengaja menuju kearah Zahra yang sudah berada ditepi jalan. Aku refleks narik dia mah, dan kita terjatuh posisinya begitu juga tidak disengaja"
"Terus ngapain ekspresi kamu begitu, seakan-akan jatuh cinta sama Zahra" tanya Dimas.
"Ya Allah kakak wajar kan aku kagum sama wanita seperti Zahra. Tapi aku gak segila itu yang akan merebut dia dari kamu" ucap Denis sinis.
"Terus kenapa kamu bisa dengan Zahra disitu" selidik Dimas.
"Ih dasar dokter posesif. Aku lagi sarapan terus Zahra juga ternyata disitu. Mana aku tahu kalo ternyata butik Zahra tepat di depan warung nasi uduk itu"
"Dimas dengar sendiri kan, adik kamu tidak ada niat lain sama Zahra. Lagian kamu belum dengar penjelasan udah marah-marah gak jelas" ucap mama Anita.
"Gitu emang kalo tukang cemburu" ledek Denis.
__ADS_1
Bersambung...