
▪️▪️▪️
Maryam yang kini sudah remaja tumbuh menjadi anak yang pendiam. Parasnya yang rupawan membuat banyak sekali teman sekolahnya yang berniat menjadikan nya pacar.
Tapi dalam kamusnya tidak ada kata pacaran.
Sudah sepuluh tahun mereka menetap di kota B, Ustadz Hasan memutuskan untuk tinggal bersama kedua orang tuanya. Selain untuk melupakan masa lalu, Hasan juga khawatir dengan kondisi orang tuanya yang sudah renta.
Sama halnya dengan Zahra, Hasan juga masih betah menyandang status sebagai duda tampan.
Hasan menghabiskan waktunya dengan membuka toko buku, Ia memutuskan untuk berhenti menjadi pengajar.
"Abi, Maryam berangkat sekolah dulu ya. Assalamu'alaikum" ucapnya.
"Wa Alaikum Salam wr. wb."
Maryam sekolah di sekolah menengah kejuruan kelas XI setahun lagi ia akan masuk perguruan tinggi usianya sudah 17 tahun.
▪️▪️▪️
"Dimas, tolongin Ummi dong" ucap Zahra dari arah dapur.
"Iya, Mi" jawabnya.
Zahra memberikan nama anak keduanya seperti nama mendiang suaminya, Dimas Saputra.
"Ummi, kenapa Ummi gak mau nikah lagi" tanya Dimas yang merasa iba melihat ibunya melakukan pekerjaan yang berat di dapur.
"Maksud kamu, Nak"
"Dimas tidak tega lihat Ummi mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan laki-laki." sambil tangannya yang masih membantu ibunya memegang keran air yang lepas.
"Ummi bahagia dengan kehadiran kalian, itu sudah cukup buat Ummi"
"Tapi sampai kapan, Mi. Dimas sedih lihatnya"
"Ummi bahagia seperti ini, Ummi tidak ingin menikah lagi karena takut kehilangan untuk yang kesekian kalinya" batin Zahra sedih.
__ADS_1
"Ummi yang sabar ya. Kalau Dimas udah besar, biar Dimas yang melindungi dan menjaga Ummi"
"Iya, Nak"
"Ummiku sayang, Nahla pulang" ucapnya sambil mencari keberadaan Ummi.
"Nahla, Ummi di dapur. Kamu ko gak ucap salam"
"Udah, Mi. Di pintu depan tadi udah, Ummi gak denger sih" jawabnya sambil menyalami sang ibu.
"Ya udah ganti baju dulu, sekalian mandi sayang"
"Siap, Ibu komandan"
Nahla berbanding terbalik dengan Maryam yang pendiam. Nahla gadis yang sangat ceria dan sedikit tomboy meskipun ia memakai hijab.
Sepeninggal Abinya, Nahla berusaha menjadi tegar dan ceria agar Umminya tidak merasa sedih kehilangan Abi mereka.
▪️▪️▪️
"Kok jauh sekali Nak, Harus ya perginya" tanya Zahra khawatir.
"Gak harus juga, Mi. Tapi ini nilai tambahan, sekolah mau mengunjungi jejak peninggalan Islam di kota itu" Nahla coba meyakinkan.
"Boleh, tapi dengan syarat Ummi juga harus ikut".
"..."
"Kamu baru kelas X, Ummi gak tenang biarin kamu pergi hanya dengan teman-teman dan guru kamu"
"Iya. Nanti coba Nahla sampaikan ke guru dulu".
"Ya udah kita tidur, besok kamu harus sekolah".
Nahla tidur bersama ibunya, sedang Dimas tidur di ruangan sebelah yang masih satu kamar dengan mereka.
▪️▪️▪️
__ADS_1
Seminggu berlalu. Hari ini adalah jadwal keberangkatan Nahla dan teman-teman, dan tentu saja sang Ummi tercinta juga ikut.
"Ma, Titip Dimas ya" ucap Zahra pada mama Ariyani.
"Iya. Kalian hati-hati di sana. Nahla jangan bandel ya, itu kampung orang lo" pesan sang nenek.
"Iya nenek ku sayang"
▪️▪️▪️
Semua tiba dengan selamat di kota B, dan mulai mengatur barang di penginapan yang sudah di booking.
Hari pertama mereka mengunjungi masjid tertua di kota itu, dan kemudian pindah di alun-alun kota.
"Maaf, saya bisa pulang sendiri. Kalian tidak usah repot-repot mengantarkan saya" ucap Maryam yang sedang digoda teman-teman lelaki sekolahnya.
Nahla mendengar perdebatan itu, dan dengan berani meninggalkan kelompok nya guna membantu gadis yang hampir seumuran dengannya.
"Hei kalian, kalian gak denger dia ngomong apa. Dia bisa pulang sendiri" ucap Nahla geram.
"Wah, bertambah lagi cewek cantiknya" ucap salah satu dari mereka.
"Kalau kita gak mau pergi kamu mau apa" sambung yang lainnya.
Nahla berpikir sejenak dan kemudian tersenyum.
"Tolong... tolong... Ada yang malakin kita".
▪️▪️▪️
Bersambung...
Maafkan Author yang lambat updatenya dan hanya bisa satu episode.
Author lagi kurang sehat.
Mohon doanya biar bisa segar kembali.
__ADS_1