
Assalamu'alaikum pembaca setia ku. Terima kasih ya masih setia dengan cerita ini.
Mohon dukungannya ya.
like 👍
comments 💬
rate ⭐⭐⭐⭐⭐
vote 🥇
Selamat membaca...
▪️▪️▪️
"Ada perlu apa mas, mo ketemu siapa. Mas Fahri masih di kantor" tanya Zahra
"Mampir aja dek, gak boleh mas silaturahmi lagi" jawab Hasan
"Boleh. Aku panggilin Papa ya"
Zahra naik ke lantai atas untuk memanggil Papa Bima di kamarnya.
"Papa pah. Ada mas Hasan di bawah" teriak Zahra dari balik pintu.
Sementara di ruang keluarga, dua orang lelaki yang entah sedang perang dingin atau apalah itu duduk mematung tanpa suara. Hingga Hasan memberanikan diri bertanya.
"Dokter tau kan Zahra masih dalam masa Iddah nya"
"Iya saya tau, meskipun saya berprofesi sebagai dokter saya sedikit banyak paham soal itu" jawab Dimas tegas.
"Terus apa maksudnya ini"
"Hanya silaturahmi seperti pak Hasan juga begitu kan" ledek Dimas.
Hasan tau dirinya sekarang tidak berhak bersikap seperti ini, tapi Hasan hanya manusia biasa. Meski dirinya paham agama, tapi hatinya tidak pernah paham akan seperti apa jika menyangkut Zahra.
"Saya hanya berusaha, hasilnya bagaimana biar Allah yang menentukan" ucap Dimas.
Bima Arya turun beserta istri dan anaknya Zahra.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum pah,mah" sapa Hasan
Di saat bersamaan dokter Dimas juga menyapa pak Bima.
"Assalamu'alaikum om" sapa Dimas
"Wa Alaikum salam nak. Kok kebetulan begini datangnya"
"Saya ada perlu sama Zahra tadi om" ucap Dimas gugup
"Gak usah gugup om gak makan orang kok" canda papa Bima.
Meski suasananya agak canggung, tapi mereka tetap berbicara dengan hangatnya. Dokter Dimas pamit duluan karena malamnya ada jadwal operasi, sementara Hasan pulang beberapa menit kemudian.
▪️▪️▪️
Malam yang cerah langit dipenuhi bintang yang berkilauan. Dua kakak beradik tengah bicara serius di balkon kamar sang kakak.
"Den, kamu serius mo ta'arufan sama Zahra" tanya Dimas
"Ta'aruf. Kenapa memang nya" tanya balik Denis.
"Kalo kamu gak serius jangan dilanjutkan"
"Karena kakak suka sama Zahra"
"Hahaha.... Suka. Katanya belum cuman kagum aja" goda Denis lagi.
"Kalo suka berjuang, mama sama papa setuju gak. Jangan nanti mama papa gak setuju" ucap Denis
"Belum tau sih" jawab Dimas lesu.
"Bilang mama papa aja belum udah gaya-gayaan mo ta'arufin anak orang" ledek Denis
Dimas berpikir sejenak, kapan waktu yang tepat buat membicarakan itu pada orangtuanya. Dimas memutuskan untuk mengutarakan niatnya keesokan harinya.
▪️▪️▪️
Hari ini Keluarga dr. Budi Santoso sarapan bersama dengan formasi lengkap. Kesempatan seperti ini sangatlah jarang terjadi.
"Pa, ma. Dimas mo ngobrol sebentar sebelum berangkat kerja" ucapnya gugup.
__ADS_1
"Masalah apa nak" tanya mama Anita.
"Dimas rencana mo nikah mah"
"Lo kok sama kalian berdua, semalam Denis juga bicara soal pernikahan" sela papa Budi.
"Hah... Denis sudah bicara sama mama papa" tanya Dimas penasaran.
"Udah dong kak. Aku kan gercep" sambung Denis
"Kok gitu sih pah. Dimas yang duluan kenal sama Zahra. Kok Denis yang duluan nikah"
"Emang siapa yang bilang Denis mo nikah" sambung mama Anita sewot.
"Itu tadi mama bilang Denis udah bicara soal pernikahan semalam"
"Iya sudah. Tapi kan bukan pernikahannya adik kamu"
"Terus..."
"Memang anak ini. Dokter kok lemot mikirnya" ucap mama Anita
"Hahaha... Kak Dimas kak Dimas. Yang mo ta'arufan itu kakak bukannya aku" Denis tertawa puas.
"Maksud kamu"
"Kakakku yang tampan tapi tidak lebih tampan dari Denis, Kakak itu kalo gak di panas-panasin gak bakalan ambil langkah seribu kayak gini kan" goda Denis.
"Jadi semua ini rencana kamu ya"
"Iya rencana aku dan disponsori oleh Pak Budi dan Bu Anita"
"Astaghfirullah. Bisa-bisanya aku ditipu" ucap Dimas frustasi.
▪️▪️▪️
Segini aja dulu ya..
Author juga butuh refreshing.
Selamat berakhir pekan....
__ADS_1
jangan lupa jempolnya....
Bersambung.....