
"Ummi... Ummi sedang apa di rumah sakit" tanya Nahla curiga.
Seseorang yang tersungkur itu ternyata adalah Ummi Zahra. Entah apa yang sedang dilakukan Ummi di rumah sakit ini. Wajah Ummi juga keliatan tegang.
"Ummi pengen ketemu kamu, kebetulan tadi ada urusan disekitar sini jadi sekalian mampir".
"Kenapa gak ke rumah aja, Mi. Ummi tidak sedang berbohong kan" cecar Nahla.
"Tidak sayang, Ummi tidak bohong".
Meskipun Ummi Zahra berusaha meyakinkan putrinya, tapi tetap saja Nahla curiga. Takut sesuatu terjadi pada ibunya.
Keduanya melanjutkan pembicaraan di ruangan Nahla. Nahla tidak memaksa Ummi nya untuk berkata yang sejujurnya karena Nahla menganggap mungkin belum saatnya dirinya tahu.
▪️▪️▪️
"Mas, tadi aku ketemu Ummi. Terus Ummi kayak gugup gitu. Kamu gak ketemu Ummi"
"Hmm... Gak sayang. Emang Ummi gak cerita" tanya Bagas berusaha tenang.
"Gak Mas, Umi kayaknya gak nyangka bakalan ketemu aku".
"Mungkin Ummi tadi ketemu Nenek kamu. Tadi kan dokter Anita berkunjung kesini". jelas Bagas.
"Oh".
Bagas sengaja tidak memberi tahukan perihal kenapa mertuanya datang ke rumah sakit. Karena itu permintaan dari Ummi Zahra sendiri.
Ummi Zahra akhir-akhir ini merasa ada yang tidak beres dengan kepalanya, karena sering terasa sakit yang amat sangat.
Mungkin itu efek dari dua kecelakaan sebelumnya.
Ummi Zahra tidak ingin membuat anaknya khawatir karena sekarang Nahla tengah berbadan dua. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dengan kandungannya.
__ADS_1
Bagas hanya berharap kondisi kesehatan mertuanya baik-baik saja, agar istrinya tidak merasa sedih.
"Aku mau balik ke ruangan dulu ya sayang" pamit Bagas.
"Iya Mas".
"Assalamu'alaikum"
"Wa Alaikum salam wr. wb." jawab Nahla.
▪️▪️▪️
Di sebuah ruangan yang gelap, Davis menyesap sebatang rokok. Davis duduk di sofa kamar tidurnya tanpa menyalakan penerangan.
Ia memutuskan untuk melancarkan sebuah rencana yang telah disusunnya secara matang. Bayangan wajah Maryam lagi-lagi melintas dipikirannya.
"Maryam... Maryam... Kenapa dirimu begitu mempesona. Padahal pakaian mu sangat tertutup. Tapi kenapa hati dan pikiran ini tidak bisa lepas darimu" ucap Davis lirih.
"Semoga rencana ini berhasil" ucapnya lagi.
Disisi lain Maryam yang baru meninggalkan pekarangan rumahnya menuju pesantren di kejutkan dengan sosok gadis kecil yang tengah terisak di pinggir jalan.
"Nak, kamu kenapa. Kenapa sendirian di jalanan. Mana orang tua kamu" tanya Maryam lembut.
"Tadi aku asik main di samping halte bus Tante, tapi tiba-tiba pas aku nengok mama udah gak ada" jelas sang anak terbata.
Maryam berpikir mungkin anak ini terpisah dari mama nya yang sudah naik ke bus tanpa tahu anaknya ternyata tidak ikut naik.
"Oh ya udah, kamu tau gak alamat rumah kamu sayang"
"Tau Tante, dijalan S. Tapi aku gak tau bagaimana mau kesana" jawab anak itu lagi.
"Sini Tante anterin" ajak Maryam...
__ADS_1
" Makasih Tante"
Maryam mengantarkan anak itu kesebuah jalan yang lumayan jauh. Dan akhirnya sampai setelah masuk kedalam gang yang lumayan kecil.
"Ini Tante rumah aku" tunjuk sang anak.
"Oh ok".
Maryam ikut masuk mengantarkannya dan bertegur sapa dengan orang tua anak itu.
"Assalamu'alaikum" ucap Maryam
"Wa Alaikum salam"
Keluarlah mama anak kecil yang diantarnya itu. Dan langsung berlari ke arah sang anak.
" Ya Allah Nak, kamu dari mana saja. Mama bingung nyariin kamu, ini papa lagi nyusul ke halte bus tadi" ucap ibu itu bahagia.
"Tadi saya melihat anak ibu nangis, jadi berniat mengantarkannya ke rumah ibu.
Alhamdulillah untung anak ibu hafal alamat rumahnya"
"Terima kasih banyak Bu, untung anak saya bertemu orang baik macam ibu"
Orang tua anak tadi menawarkan Maryam untuk duduk sejenak, dan menyuguhkan minuman dan beberapa makanan kecil sebagai ucapan terima kasih mereka.
Akhirnya Maryam menyantap sajian tersebut, tidak ada salahnya juga meluangkan waktu sejenak untuk mencicipi yang sudah di sediakan.
Beberapa saat kemudian Maryam merasa kepalanya sedikit berat dan pandangan nya mulai kabur.
"Ya Allah aku kenapa" batin Maryam.
▪️▪️▪️
__ADS_1
Bersambung