
Akhirnya Zahra dan Salsa kembali ke kota P. Zahra disibukkan dengan kerjaannya di butik.
"Alhamdulillah ya Sa, omset kita naik"
"Iya Alhamdulillah. sekarang banyak anak muda yang memakai pakaian syar'i" ucap Salsa.
"Iya memang sudah selayaknya begitu".
▪️▪️▪️
Seminggu semenjak kepulangan mereka dari kota A. Dokter Dimas memberanikan diri menemui Zahra di rumahnya.
"Assalamu'alaikum" sapa Dimas
"Wa Alaikum salam, eh dokter mari silahkan masuk" jawab Mama Ariyani
"Bagaimana kabarnya Tante, Zahra ada"
"Alhamdulillah baik nak, Zahra masih mandi baru pulang dari butiknya" jelas mama Ariyani
Sembari menunggu Zahra, Dimas terlibat percakapan seru dengan mama Ariyani.
"Maaf Tante, apa Zahra sudah membuka hatinya untuk hubungan yang baru" tanya Dimas terbata.
"Maksud kamu"
"Misalnya ada yang ngajak ta'arufan apa Zahra mau" jelas Dimas lagi.
"Tante kurang tau nak, Zahra anaknya tertutup kalo soal pasangan"
"Oo.. gitu ya Tan"
Yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga, Zahra tersenyum ke arah mereka kemudian menunduk kembali.
"Maaf dok kelamaan ya nunggu nya"
"Gak kok, tadi ngobrol bentar sama mama kamu" ujar Dimas.
"Ayo dicicipi minuman sama camilannya" ajak mama Ariyani.
__ADS_1
"Iya Tante"
"Tante ke atas dulu mo mandi juga"
"Ma, panggilin Fais dong buat nemenin Zahra"
"Iya, nanti mama suruh kebawah".
"Maaf dok, ada perlu apa ya. Apa ada masalah mendesak"
"Ah gak ada kok, cuman silaturahmi aja.
Denis cerita katanya kalian ketemu di kota A ya" tanya Dimas penasaran
"Iya penerbangannya sama, perginya Denis pilot kita. Di sana juga kita sempat ketemu di kafe dekat hotel"
"Oh.. Kalian ngapain aja di sana" selidik Dimas.
"Ngapain maksudnya"
"Ah maaf. Maksud aku Denis ngomong apa sama kalian" jelas Dimas kikuk
"Apa!!! Ta'aruf" tanya Dimas kaget
Wah, benar-benar anak ini beraninya dia bicara ta'aruf sama Zahra. Apa dia benar-benar serius. Dimas merasa tak karuan dibuatnya, entah kenapa dia cemas kalo Zahra mau menerima niatan adiknya Denis.
"Iya. Kenapa dok" tanya Zahra heran
"Kamu mau" tanya balik Dimas
"Sekarang belum, karena saya belum melewati masa Iddah saya"
"Jadi kalo sudah kamu mau" tanya Dimas bertambah cemas.
"Zahra sih terserah sama orang tua Zahra"
"Hmmm..Kalo aku yang mau ta'arufan sama kamu gimana" tanya Dimas langsung.
Muka Zahra bersemu merah ia menundukkan pandangannya sambil memainkan jemari Fais.
__ADS_1
"Ah maaf kaget ya tiba-tiba aku ngomong gitu" jelas Dimas
"I..Iya dok"
"Dimas aja, masa Denis bisa kalo aku harus pake dokter" timpal Dimas.
"Saya usahakan. Soalnya belum terbiasa Dimas"
Sebuah mobil terparkir di halaman rumah Zahra turun seorang lelaki berpakaian rapi.
"Assalamu'alaikum" sapa lelaki itu.
"Wa Alaikum salam" jawab keduanya
Fais berlari kearah lelaki itu dan memeluknya.
"Halo om Hasan, kok baru datang" tanya Fais terbata-bata. maklum Fais baru belajar bicara.
"Om Hasan lagi sibuk. Om Hasan juga gak bisa lagi sering kemari" jelas Hasan.
Hasan bangkit menggendong Fais ke arah mereka. Pandangan mata Hasan dan Dimas bertemu. Hasan bertanya dalam hati untuk apa dokter Dimas datang ke rumah ini.
"Halo dok, kita ketemu lagi di sini" sapa Hasan
"Iya pak Hasan. Bagaimana kabarnya" tanya Dimas
"Alhamdulillah baik. Ada keperluan apa kemari" tanya Hasan menyelidik
"Silaturahmi saja, gak masalah kan pak Hasan" tanya Dimas
Mata mereka bertemu kembali seakan ada api kecemburuan yang tengah bergejolak di sana.
▪️▪️▪️
Bersambung....
Jangan lupa like, comments, rate and vote nya ya...
biar author tambah semangat.
__ADS_1
Terima kasih...