
***Lanjut lagi ya...
Selamat membaca
▶️***
Hampir 2 bulan lamanya Zahra menyusun skripsinya. Konsultasi, revisi sudah dijalaninya. Hubungannya dengan mba Sarah semakin akrab, serasa kakak beradik. Perasaannya juga bertambah besar, tapi selalu ditepisnya.
Tiba saatnya sidang skripsi, Zahra telah menyiapkan segalanya dengan baik.
Zahra masuk ke ruangan sidang, ada beberapa dosen penguji dan juga dosen pembimbingnya nya, pak Hasan.
Zahra mempresentasikan nya dengan baik dan cukup tenang.
Selesai presentasi, dosen penguji mulai memberikan beberapa pertanyaan dan dijawab Zahra dengan begitu mengesankan. Zahra dan beberapa temannya yang juga ikut sidang hari ini menunggu hasil dengan penuh kekhawatiran.
2 jam menunggu hasilnya keluar juga, Zahra dinyatakan lulus dengan predikat A.
"Alhamdulillah, bang, Zahra lulus" Zahra memeluk Fahri.
"Alhamdulillah dek, selamat ya" sambil mengusap kepala zahra
Hasan ke luar ruang sidang dan memberikan selamat kepada mahasiswi bimbingannya.
"Selamat ya Zahra Khumaira" sambil melemparkan senyumnya.
"Terima kasih pak, terima kasih sudah menjadi pembimbing saya, sudah meluangkan waktunya untuk membantu penyelesaian skripsi saya"
Salsa datang dengan hebohnya dan memeluk Zahra dengan begitu eratnya, sampai-sampai si empunya badan jadi susah nafasnya.
"Alhamdulillah sayang, selamat ya, cie yang sudah sarjana. kuliah udah, tinggal nikah nih", goda Salsa.
"Aamiin, semoga aja ya, Jodohnya cepat datangnya", sambil tersenyum manis.
Zahra tidak menyadari sedari tadi gerak geriknya diperhatikan ustadz Hasan sambil tersenyum.
__ADS_1
Fahri menyadari ada yang salah dengan tatapan sahabatnya itu, dia mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Yuk, dek kita pulang. Udah mo ashar".
▪️▪️▪️
"Mas, gimana hasil sidang Zahra?"
"Alhamdulillah lulus"
"Jadi kapan kita bicarakan soal itu ke keluarga Zahra, mas?"
"Entahlah sayang, mas gak yakin, mas terlalu malu untuk membicarakan niatan mu itu"
Hasan memijat pelipisnya, pusing dengan permintaan istrinya, yah meskipun dia sedikit menyimpan rasa kagum pada Zahra, tapi tidak pernah terlintas dibenaknya untuk poligami.
Keesokan harinya Sarah berniat berbicara empat mata dengan Zahra, untuk mengutarakan niatnya.
"Assalamu'alaikum dek," tulis Sarah di pesan aplikasi.
"Alhamdulillah baik, bisa gak kita ketemu di cafe x jam 4 sore, mba mo bicara masalah penting", tulis Sarah.
"Ok mba".
▪️▪️▪️
Di kafe x Sarah sudah menunggu kedatangan Zahra dengan tidak sabarnya.
"Assalamu'alaikum mba, maaf udah nunggu lama ya?"
"Gak kok dek, mba nya aja yang kecepetan datangnya"
"Kamu pesan apa" sambil memberikan daftar menu.
"Es krim buah aja mba"
__ADS_1
"Makanan gak"
"Masih kenyang mba"
Sambil menunggu pesanan datang, Sarah mulai mengajak Zahra ngobrol santai.
"Zahra setelah wisuda mo ngapain, apa rencana mo kerja, kuliah lagi, atau mo nikah?", Sarah begitu penasaran.
"Belum tau mba, belum kepikiran"
"Kamu mau nikah sama mas Hasan?", Sarah tidak bisa lagi menahan keinginannya.
Uhuk.. uhuk..
Zahra menepuk-nepuk dadanya kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan Sarah.
"Mba minta maaf, ini mungkin menyinggung perasaan kamu, tapi mba benar-benar berharap kamu bisa menjadi istri mas Hasan".
"Zahra tidak bisa kasih jawabannya, karena masalah itu, orang tua Zahra yang berhak memutuskannya".
"Tapi bagaimana dengan jawabanmu sendiri"
"Saya tidak bisa menjawabnya mba".
"Mba sangat berharap kamulah yang bisa menjadi istri mas Hasan, yang pantas menjadi ibu dari anak-anaknya".
Zahra meneteskan air matanya, bukan karena marah atas permintaan Sarah, tapi karena terharu akan keikhlasan hati Sarah untuk mencarikan jodoh untuk suaminya.
😭😭😭
*Baper deh.
next episode.
Terima kasih ya.
__ADS_1
Semoga kita selalu dal***am lindungan** Nya