
Di rumah Dimas
Keluarga itu sarapan bersama sebelum kembali sibuk dengan aktifitas masing-masing. Mereka membicarakan soal kejadian semalam. Siapa kira-kira yang mengirimkan foto dan berniat mencelakai Zahra.
"Semalam kamu bilang ada yang sengaja nabrak Zahra kan. Coba kamu selidiki nak" pinta mama Anita.
"Iya mah, pasti Dimas cari tahu secepatnya"
"Yah itu pasti orang yang gak suka sama hubungan kalian. Buktinya orang itu juga mengirimkan foto itu biar kakak salah paham" timpal Denis.
"Iya nak. Sebaiknya kamu suruh Zahra hati-hati" sambung papa Budi.
▪️▪️▪️
Seperti biasanya Dimas selalu disibukkan dengan aktifitasnya di rumah sakit milik ayahnya.
"Pagi dok" sapa dr. Siska.
"Pagi. Tumben kamu semangat sekali" jawab Dimas ketus.
"Ah biasa aja dok. Terus kenapa dokter seperti lagi kesal" selidik Siska.
"Pasti dokter lagi marah sama Zahra, sepertinya rencanaku berhasil" batin Siska.
"Bukan urusan kamu" sentak Dimas.
"Dok, penampilan seseorang itu belum tentu mencerminkan tingkahnya" jelas Siska.
"Maksud kamu"
__ADS_1
"Meskipun saya tidak seperti Zahra yang menutup auratnya, tapi saya lebih baik darinya. Saya tidak pernah melakukan hal yang tidak senonoh di depan umum" jelas Siska lagi.
"Apa maksud kamu.. "
"Iya saya tau kok kemarin Zahra lagi pelukan sama cowok gak jelas dipinggir jalan"
"Kamu tau dari mana" tanya Dimas.
"Kemarin saya kebetulan liat mereka"
"Kebetulan katanya, tidak masuk akal. Apa jangan-jangan dia dibalik kejadian semua ini" batin Dimas.
"Hah ini urusan saya sama Zahra kamu gak usah ikut campur" bentak Dimas.
"Zahra gak pantas sama dokter, dia hanya seorang janda yang cari perhatian pada banyak pria. Foto itu buktinya"
"Tau dari mana kamu soal foto" pancing Dimas.
"Maksud kamu" tanya Dimas butuh penjelasan.
"Saya pikir saya yang lebih cocok dengan dokter dibandingkan dia. Saya tau dokter kecewa dengan perempuan itu, saya mengerti perasaan dokter"
"Gila ya ni orang. Dia pikir aku lagi marah sama Zahra, karena dari tadi pas datang muka ku suntuk. Padahal aku lagi bingung mikirin keselamatan Zahra". batin Dimas
"Kamu pantas ngapain, hahahaha" ejek Dimas.
"Pantas menjadi pendamping dokter" ucap Siska tak tau malu.
"Hahahaha... Kamu itu bodoh atau polos. Siapa yang kecewa" tanya Dimas.
__ADS_1
"Dokter kan kecewa sama Zahra"
"Kamu salah besar, untuk apa saya kecewa yang di foto itu adik aku. Dia sudah menjelaskan kronologisnya" jelas Dimas.
"Apa! Kok bisa"
"Bisa dong. Zahra kan orang baik jadi Allah selalu melindunginya dari orang yang mau mencelakakan dia. Untung saja di sana ada adik ku"
Wajah Siska pucat pasi, rencananya berjalan diluar harapannya. Ternyata Dimas tidak termakan itu semua malah begitu mempercayai Zahra.
Pintu ruangan diketuk dari luar, muncul seseorang yang telah Dimas utus untuk menyelidiki masalah Zahra membawa sebuah amplop berisi bukti tentang kejahatan mereka.
"Ternyata benar semua itu rencananya. Niatnya biar Zahra celaka tapi tidak berhasil malah membuat aku salah paham sama adik ku sendiri. Sungguh wanita licik, begitu masih berani mengatakan dia yang pantas menjadi pendamping ku" batin Dimas.
Dimas dengan cepat mengutus seseorang untuk membuat laporan di kepolisian tentang percobaan pembunuhan tanpa sepengetahuan Siska.
▪️▪️▪️
Menjelang sore disaat Siska bersiap untuk pulang, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan polisi dengan surat laporan penangkapan.
"Permisi semua, kami dari kepolisian sektor P mendapat surat perintah penangkapan saudari Siska atas dugaan percobaan pembunuhan"
"Apa..!!! Bagaimana mungkin, saya tidak melakukannya" elak Siska.
"Saya sudah mendapatkan buktinya dan orang yang kamu suruh sudah mengakui semuanya. Kamu yang mencoba mencelakakan Zahra" jelas Dimas.
▪️▪️▪️
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya...