Istri Kedua Ustadz Tampan

Istri Kedua Ustadz Tampan
Hilangkah Rasa Itu?


__ADS_3

Halo reader's ku sekalian, Terima kasih sudah menyempatkan mampir di cerita aku.


Kalau suka dan terhibur jangan lupa ya apresiasinya.


Like 👍 Comments 💬.


Rate ⭐⭐⭐⭐⭐ Vote 🥇💰 di halaman depan sampul novel ya...


Terima kasih.


▪️▪️▪️


Zahra pergi ke pesantren guna untuk mengurus prosedur kepindahan Dimas. Tadinya Zahra berniat minta tolong ke abangnya, tapi abangnya lagi ada kerjaan di luar kota.


Zahra masih enggan jika harus bertemu Hasan dalam keadaannya sekarang ini yang berstatus janda. Pasti ada kecanggungan nantinya karena status keduanya yang sama-sama single parent.


"Bismillah... Semoga prosesnya lancar" ucap Zahra sambil keluar dari mobilnya dan menyapa salah satu pengajar di sana.


"Assalamu'alaikum"


"Wa Alaikum Salam wr. wb. Ada yang bisa kami bantu, Bu" tanya pengajar tersebut.


"Begini Bu, saya mau memindahkan anak saya ke sini tapi sebelumnya dia bersekolah di sekolah Umum. Sekarang anak saya baru selesai kelas 4 SD. Apa bisa, Bu"


"Insya Allah bisa Bu. Mari saya antarkan ke ruangan pemilik pesantren ini" tutur pengajar itu.


▪️▪️▪️


Tok... Tok... Tok...


"Assalamu'alaikum. Permisi pak, ada tamu mau ketemu" ucap ibu ustadzah.


" Wa Alaikum Salam. Masuk saja, tidak dikunci".

__ADS_1


Ibu pengajar mempersilahkan Zahra duduk, dan hendak keluar ruangan.


"Maaf Bu, bisa ibu di sini dulu untuk menghindari fitnah" bujuk Zahra.


Ibu ustadzah meminta persetujuan dari Ustadz Hasan dengan hanya menatap kearahnya. Ustadz Hasan mengangguk tanda setuju.


"Iya Bu, saya tetap di sini".


"..."


Ustadzah menjelaskan tentang maksud dan tujuan ibu Zahra berkunjung. Ustadzah menjelaskan seperti apa yang dijelaskan Zahra tadi.


"Apa anak ibu bersungguh-sungguh mau mondok di sini. Karena kurikulum pendidikannya berbeda"


tanya Ustadz Hasan.


"Insya Allah siap Pak ustadz, Ini juga keinginan anak saya sendiri. Saya tidak memaksanya".


Hasan duduk termenung di bawah pohon mangga dekat parkiran pesantren. Matanya memandang lurus kearah ruangannya. Hasan tidak menyangka akan bertemu Zahra secepat ini, yang lebih membuatnya canggung ternyata Zahra bersikap biasa saja ketika mereka bertemu setelah sekian lama berpisah.


"Mungkin perasaannya padaku sudah benar-benar hilang, hanya aku yang masih terjebak dengan kenangan masa lalu" batin Hasan.


Hasan tidak menyadari ternyata sudah setengah jam ia duduk termenung dengan pikiran yang melayang entah kemana. Dan tanpa disadari sosok yang dari tadi mengisi kepalanya kini hadir tepat dihadapannya.


"Permisi Pak Ustadz, formulirnya sudah saya isi dan saya letakkan di meja bapak"


"Ah... Eh iya. Maaf saya tidak sadar dengan kedatangan kamu, em... maksud saya ibu Zahra Khumaira" ucap Hasan gugup.


"Maafkan saya sudah buat Ustadz kaget, saya pamit pulang dulu"


"Tunggu..."


"Ada apa Ustadz, masih ada yang perlu saya lengkapi prosedurnya" tanya Zahra dengan polosnya.

__ADS_1


"Ah itu, tidak. Sebenarnya saya hanya ingin menanyakan keadaan kamu dan anak-anak"


"..."


"Alhamdulillah, atas ijin Allah kami semua baik. Nahla juga sahabatan sama Maryam, Ustadz Hasan sudah tahukan"


"Hmm... Iya saya tahu mereka bersahabat. Maaf kalau pertanyaan saya lancang tadi" ucap Hasan sedikit sedih.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Ustadz tidak salah" jawab Zahra


"Ya sudah, salam sama keluarga di rumah. Saya turut berdukacita tentang dr. Dimas"


"Terima kasih Ustadz. Saya pamit, Assalamu'alaikum"


"Wa Alaikum Salam wr. wb" jawab Hasan.


▪️▪️▪️


Zahra tiba di rumah dengan selamat, seluruh keluarganya tengah berkumpul di ruang keluarga. Menikmati akhir pekan dengan penuh kehangatan.


"Jadi gimana Dek, urusannya berjalan lancar" tanya Mba Aisyah.


"Alhamdulillah lancar. Minggu depan setelah Dimas terima rapor bisa langsung masuk di pondok"


"Alhamdulillah" jawab Dimas senang.


Semua yang mendengar ikut senang, hanya Zahra yang diam termenung. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mama Ariyani diam-diam melihat sikap anaknya yang sedari pulang dari pesantren tadi, nampak begitu banyak pikiran.


"*Apa karena tadi Zahra ketemu Nak Hasan ya" batin mama Ariyani.


▪️▪️▪️*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2