
▪️▪️▪️
"Zahra..." teriak mama Anita yang baru saja tiba bersama Salsa.
Mama Anita bergegas lari kearah menantunya itu, mata dan telinganya juga fokus melihat berita yang ada di televisi.
"Sayang... Kamu yang kuat ya. Kita do'a sama-sama semoga Dimas selamat dan bisa berkumpul lagi bersama kita".
Zahra masih terisak, tatapannya kosong. Nahla yang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi mencoba memeluk Ummi nya.
"Ummi jangan nangis... Ummi kenapa nangis... Terus kenapa dengan Abi... Kenapa nenek bilang kita harus do'akan Abi" itulah pertanyaan yang terlontar dari bibir kecil Nahla.
Hhhh....
Mereka bingung mau menjawab seperti apa dan bagaimana.
"Nahla lihat berita itu, ada pesawat yang putus komunikasi dengan menara pengawas dan dinyatakan hilang" tutur Salsa
"Iya Tante. Terus apa hubungannya semua ini"
"Abi kamu lagi naik pesawat itu" sambung Salsa berhati-hati.
"Jadi Abi juga hilang..." tanya Nahla histeris.
"Iya Nak. Pesawat dan penumpangnya belum diketahui keberadaannya".
__ADS_1
Zahra yang mendengar itu kembali terisak-isak. Zahra memeluk dengan erat anak nya.
"Abi Insya Allah selamat, Abi gak bakalan ninggalin kita sayang" ucap Zahra.
Mama Anita dan Salsa ikut terisak mendengar perkataan Zahra.
"Assalamu'alaikum" sapa mereka.
"Wa Alaikum salam".
Keluarga Zahra akhirnya sampai juga, semua datang tanpa terkecuali.
Mama Ariyani yang melihat anak dan cucunya menangis menjadi begitu sedih, dengan kondisi Zahra yang sedang hamil tua.
Semua masih menunggu kabar dari Denis dan pak Budi. Serta memantau perkembangannya melalu televisi. Perasaan mereka campur aduk.
▪️▪️▪️
Seminggu pasca dinyatakan pesawat S hilang kontak di perairan sekitar pulau K. Titik terang mulai terlihat dengan ditemukannya puing-puing dan serpihan pesawat.
Para korban juga sebagian besar ditemukan, dan salah satunya adalah dr. Dimas yang sudah teridentifikasi melalui pencocokan data antemortem.
Awan duka menyelimuti keluarga mereka, Zahra bahkan sampai beberapa kali kehilangan kesadaran. Ia tak menyangka, suami yang sangat disayanginya telah pergi untuk selama-lamanya.
▪️▪️▪️
__ADS_1
Sementara di belahan dunia lain, Hasan dan Maryam tengah khusyuk melaksanakan rentetan ibadah umroh. Hasan, anaknya dan para pekerja di rumahnya tengah berada di tanah suci. Hasan membawa mereka turut serta untuk berbagi kebahagiaan.
Hasan tidak mengetahui tentang berita kematian dr. Dimas. Ia hanya tau kalau beberapa hari yang lalu terjadi kecelakaan pesawat di Indonesia, tapi tidak mengikuti perkembangan beritanya.
Hasan berkeluh kesah dihadapan Allah SWT, menepis kesedihan yang masih bergelayut di hidupnya. Ia memutuskan untuk pulang ke kampung halaman orang tuanya dan menetap di sana. Mengubur kenangan indahnya bersama dua orang wanita yang pernah mengisi hatinya.
▪️▪️▪️
Skip.
Zahra memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya setelah menjalani proses persalinannya.
Zahra dikaruniai anak lelaki yang wajahnya mirip sekali Dimas, seolah ini adalah pengobat dari kesedihannya kehilangan suami.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Tapi Zahra masih betah menjanda, dihatinya tidak terbesit keinginan untuk menikah lagi.
"Nak, ini sudah 10 tahun semenjak kepergian suamimu. Apa kamu benar-benar tidak ingin menikah lagi" tanya Mama Ariyani.
"Zahra masih sibuk mengurus dan membimbing anak-anak Zahra, Mah. Zahra tidak punya waktu untuk itu".
Ini sudah kesekian kali orang tuanya mencoba membujuknya, tapi tak sedikit pun hatinya tergerak.
▪️▪️▪️
***Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya***...