
Zahra Kembali mengunjungi orang tua Dimas, anak-anak sudah pada rindu sama kakek dan neneknya. Mereka melepas rindu karena sudah sebulan lebih baru bertemu.
"Kakek, Nenek, gimana kabarnya. Dimas rindu tau"
"Ya Allah cucu nenek yang tampan seperti Abinya, Kakek dan Nenek Alhamdulillah baik, dan sehat" ucap Mama Anita sambil memeluk erat cucunya.
"Kalian sendiri, gimana" sambung Papa Budi.
"Alhamdulillah baik, Pah. Maaf Zahra Baru sempat tengok Mama Papa di sini"
"Gak apa-apa kok, Nak. Apa kamu baik-baik saja seperti ini. Sudah sepuluh tahun lo, sayang" tutur mama Anita khawatir.
"Alhamdulillah Zahra bahagia seperti ini".
▪️▪️▪️
Sebulan berlalu semenjak Hasan mengetahui bahwa Nahla adalah anak Zahra sang mantan istri, tetapi Hasan tidak pernah menceritakan kebenarannya pada anak gadisnya.
Begitu juga Zahra, Ia belum tahu kebenaran tentang Maryam yang merupakan anak dari Ustadz Hasan.
Nahla berkunjung ke pondok tempat Maryam bersekolah, tentunya pas hari libur ya, hari Jum'at sore.
"Pondok pesantren nya ramai ya, terus setelah lulus kamu mau lanjut kemana" tanya Nahla penasaran.
"Rencana aku mo kuliah di Kairo kalau diijinkan sama Abi"
"Aku juga pengen, tapi belum diomongin sama Ummi kan masih dua tahun lagi".
Drrttt...💬
"Assalamu'alaikum. Nak, kirim alamat pondok pesantren Maryam. Ummi mau jemput kamu sekalian pulang dari butik" pesan masuk ke handphone Nahla.
"Wa Alaikum salam, Mi. Iya ini aku kirimkan alamatnya" ketik Nahla.
__ADS_1
"..."
▪️▪️▪️
POV Zahra
Kerjaan di butik udah beres, waktunya jemput Nahla. Dia kan tadi pamit ketemu Maryam.
Zahra kaget membaca alamat yang diberikan anaknya. "Itukan alamat pesantren milik orang tua Mba Sarah" batinnya.
Yah mungkin dia kebetulan mondok di situ, kan pesantrennya bagus, ucapnya.
▪️▪️▪️
Zahra sampai di halaman pesantren yang begitu luas, dan mencoba menghubungi Nahla.
Selang beberapa saat, muncullah Nahla dan Maryam.
"Assalamu'alaikum Mi, kok tidak masuk dulu" tanya Maryam.
"Iya,ya. Maaf Ummi Maryam gak sadar".
"Nanti aja kalau waktunya luang Ummi akan main lagi ke sini"
Dari balik gedung sekolah pesantren ada seseorang yang tengah curi pandang ke arah ketiganya.
"Ya Allah, dia sudah sedekat ini tapi aku belum memiliki keberanian untuk menyapanya" batin Hasan.
"Apa Zahra tahu, Maryam anak aku".
▪️▪️▪️
Zahra dan Nahla tiba di rumah tepat sepuluh menit sebelum adzan magrib. Keduanya bergegas mandi, dan melaksanakan kewajiban tiga raka'at nya.
__ADS_1
Selepas makan malam, Zahra memberanikan diri bertanya pada abangnya.
"Bang, Kalo Dimas mondok di pesantren milik keluarga mba Sarah apa gak jadi masalah"
"Ya gak lah Dek, Emang Dimas udah yakin mau pindah ke sana".
"Iya, Bang. Dimas udah kepengen, Kan bentar lagi kenaikan kelas"
"Ya udah, coba kamu datangi pesantrennya dan tanyakan prosedurnya gimana" jelas Fahri.
"Abang pernah lihat kan Maryam temannya Nahla, namanya sama seperti nama anak mba Sarah. Terus tadi waktu jemput Nahla, ternyata dia juga mondok di situ. Apa memang dia anaknya mba Sarah dan ustadz Hasan ya".
"Hmmm... Iya dek, anak itu memang Maryam anak mereka".
"Masya Allah. Kok bisa gini ya".
"Ya begitu dek"
"Maryam ditinggal di pesantren kakeknya, terus Abi nya kemana"
"Hasan juga disitu kok dek, Hasan yang diwasiatkan untuk memimpin pondok pesantren. Hasan juga pernah kesini, dan dia tahu Nahla anak kamu"
"Hasan baru tahu kalo Abinya Nahla udah gak ada" tambah Fahri.
"..."
▪️▪️▪️
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya, biar author tambah semangat.
Vote dihalaman depan sampul novel ya...
__ADS_1
Terima Kasih.