ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 100


__ADS_3

"Kalau iya, bisa saja aku punya cara untuk membuat dirimu selamat. Tapi kalau tidak, ya aku telah salah menebak," ucap Suta.


"Coba Bang Suta tebak?" tanya Yuri yang sudah tahu nama Suta.


Suta pura-pura berpikir sejenak. Tadinya dia mau langsung jawab apa Yuri bermimpi bertemu ular. Tetapi dia ingin memutar kayuh terlebih dahulu, mengarahkan perahu untuk tak langsung menuju dermaga, dengan kata lain dia ingin berputar-putar sejenak. Ya, ada keinginan untuk berbincang sedikit lebih lama dengan Yuri.


"Kamu mimpi buruk ketemu sama harimau buas, ya? Auuum!" Suta mengaum seperti harimau, bahkan dia membentuk cakar.


"Hihihi, aku mah nggak takut sama meong," ucap Yuri lucu.


"Kok, meong?" Suta malah keheranan.


"Lah, kan harimau itu kakaknya meong," jawab Yuri sambil cekikikan geli.


"Hehehe, benar juga ya. Ok, kamu mimpi ketemu sama ular," ucap Suta.


"Eh, kok tahu?" Yuri sedikit pucat wajahnya.


"Betulkah? Sudah berapa lama kamu mimpi ketemu ular?" Suta terlihat bersemangat.


Yuri menghembuskan napas berat terlebih dahulu.


"Sudah dua hari terakhir ini, Bang. Dalam mimpiku itu... aku tak hanya bertemu ular, tetapi juga seorang ratu. Ratu yang cantik dengan mahkota gemerlap. Di belakang ratu itu ada istana indah. Terus aku... aku melihat...." Yuri tampak ketakutan.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Suta mendesak.


"Ada manusia jadi kursi, jadi kaki meja, jadi anak tangga dan banyak lagi Bang. Suara cambuk meledak, jerit kesakitan dan darah. Oh, mengerikan Bang. Sungguh mengerikan. Aku terbangun dan berteriak kencang. Tetapi tak ada satupun dari Ayah atau Bunda yang masuk ke kamar. Saat aku bangun itu, sekilas aku mencium bau amis." Wajah Yuri semakin pucat.


Suta merenung sejenak. Dia terlanjur bicara akan menolong Yuri. Karena itu dia bersiap untuk memberi pinjam cincinnya. Walau dia tak yakin berhasil. Namun tak ada salahnya mencoba.


"Aku punya semacam benda. Mungkin bisa membuat dirimu tak bermimpi buruk. Hanya saja, kamu mau kan berdoa sebelum tidur? Mengambil wudhu dan melakukan ibadah sunah sebelum tidur?" tanya Suta hati-hati.


Yuri sekedar mengangguk.


Suta menarik keluar cincin yang dipakainya. Lalu diberikan ke tangan Yuri.


"Hihihi, Bang Suta kayak mau 'ikat' aku aja. Pakai cincin kalau memang cocok dan cinta, tolak cincin kalau merasa tak pas dan tidak cinta," tawa Yuri renyah.

__ADS_1


Wajah Suta memerah. Harus dia akui, Yuri tak di bawah Dina level kecantikannya. Malah sedikit lebih unggul dari Ami yang wajahnya nyaris seperti 'bunglon', sering berubah sesuai keadaan. Maya saat ini lebih sering menampakkan wajah tak percaya diri, karena ada gangguan Ami.


Yuri jauh lebih polos dan jenaka. Karena itu timbul rasa suka di hati Suta. Namun hanya sebatas suka, tak lebih.


Yuri segera pakai cincin di jari manisnya. Dia tampak terpesona dengan warna batu mata cincin hijau keputihan, seperti langit hijau dengan awan putih yang bertebaran.


"Kalau begitu, aku pamit dulu ya. Hujan sudah tanda-tanda mau berhenti. Sementara waktu maghrib masih ada." Suta bangkit berdiri.


"Kenapa tak disini saja Bang? Kan boleh sholat di rumah dalam keadaan kepepet kayak begini. Kena halangan hujan lebat," ucap Yuri.


"Tak enak, di rumahmu kan tak ada orang tua. Jadi lebih baik di luar rumah saja. Oya, besok atau lusa, cincin itu aku ambil kembali, ya!" pesan Suta.


"Ya, aku kirain ini hadiah buat aku. Bicara soal...." Yuri tersenyum hambar.


Hati Suta sedikit guncang. Dia bukan pria tanpa perasaan, bahkan memiliki perasaan yang teguh. Sinar mata Yuri sama persis dengan Maya. Kalau Ami tak usah ditanya, penuh misteri sinar matanya. Namun dalam hati Suta sudah ada Dina, Dina dan Dina.


"Aku pamit, ya." Suta mengucap salam.


"Bang tunggu!" tahan Yuri sejenak.


"Aku tiba-tiba teringat sesuatu," ucap Yuri.


*


Sejak sore sampai hujan menandakan mau berhenti, Wati sudah gelisah. Dia mondar-mandir keluar masuk kamar. Entah ada beban pikiran apa, hanya dia yang tahu.


Di dalam rumah, ada Ami yang tak bisa pergi keluar. Seharusnya tadi dia ada rencana untuk pergi main ke rumah temannya, masalah urusan sekolah.


Sejak ada perang dingin memperebutkan hati Suta, boleh dikata Ami tak lagi bersinggungan dengan teman prianya yang lain. Seolah dia ingin menunjukkan, jika dia itu gadis baik-baik. Hanya saja, tak semua teman pria yang dia usir, satu-dua masih ada. Bahkan salah satunya telah menganggap status mereka berdua itu sepasang kekasih, walau Ami tak mengaku juga tak membantah.


Ami keluar dari kamarnya. Dia berjalan ke arah kulkas untuk mengambil air minum dingin. Meski cuaca sudah dingin karena hujan, tapi dia masih ingin meminum air dingin.


Dari tempatnya berdiri, mata Ami bisa melihat Wati berjalan seperti orang linglung, keluar masuk kamar, ruang tamu dan pintu teras. Begitu terus.


Setelah puas minum air, Ami menghampiri Wati. Tetapi dia bukan menahan lajunya langkah Wati, dia memilih duduk di kursi ruang tamu.


Wati seperti orang tak sadar, dalam duduknya Ami sedang memperhatikan dirinya.

__ADS_1


"Oma, stop! Stop, kau mencuri hatiku... hatiku." Ami malah nyanyi.


Wati yang kaget karena mendengar suara merdu Ami, lalu berhenti berjalan. Kala itu dia berada tepat di tengah-tengah meja ruang tamu.


"Kamu nyanyi tadi? Mau ikut lomba karaoke 17-an, ya?" tegur Wati sambil menatap Ami.


"Hihihi, kalau aku ikut dijamin menang deh, Oma," ucap Ami penuh percaya diri. Lalu dia menepuk busa sofa disebelahnya, karena dia duduk di sofa panjang. "Oma duduk sini!"


Wati seperti anak kecil. Dia menurut.


Ami menatap wajah Wati yang tampak tak memiliki gairah hidup itu. Perasaan hatinya mendadak tak enak. Tahu-tahu dia mendengar ucapan Wati yang semakin membuat hatinya tercekat ketakutan.


"Tadi Oma lihat Opa, manggil untuk ikut dengannya. Tetapi Dina...." Di sudut mata Wati muncul setetes embun.


"Oma jangan ngomong begitu!" cegah Ami yang berharap Dina tak perlu datang. Karena dia merasa, saat Dina pulang, Wati pun akan ikut pulang.


"Loh, Oma ngomong apa barusan?" tanya Wati tampak seperti orang yang sudah sadar dari linglungnya.


"Oma tadi bilang...."


"Suta belum pulang, ya?" serobot Wati tak memberi kesempatan Dina bicara.


"Be...."


"Kamu kok masih di sini? Bukannya tadi bilang mau pergi ke rumah temanmu?" potong Wati lagi.


Ami ingin bicara lagi, tapi lagi-lagi harus mendengar Wati yang lebih bawel dan cerewet dari sebelumnya.


"Oya, ini kan sudah dua tahun ya. Harusnya Dina sudah pulang. Apa dia lupa pada janjinya?" cerocos Wati.


Ami tak berkomentar, karena dia tahu Wati akan bicara lagi.


"Nanti kalau Dina sudah pulang, meski dia bukan cucu Oma dan bukan sepupu kamu, kamu harus tetap baik sama dia, ya. Papa Abay-nya itu yang banyak membantu di rumah ini. Satu lagi, Oma punya banyak tabungan. Kamu harus bisa pakai uang itu untuk bikin usaha kecil-kecilan. Meski kamu seharusnya fokus pada sekolah, tetapi kamu harus tetap bisa makan. Foya-foya hanya bikin kamu bangkrut," ucap Wati bawel.


"Ah, sudahlah. Oma mau tidur!" Wati berdiri. Tetapi hanya untuk kembali jatuh ke dalam pelukan Ami.


"Omaaa...." teriak Ami sekencangnya.

__ADS_1


__ADS_2