
"Ular, tolong!" teriak Maya yang baru saja masuk ke pekarangan rumah Wati.
Wajah Maya pucat pasi, kedua lututnya gemetar dengan mata terfokus pada ular sebesar lengan orang dewasa di depannya.
Maya tak bisa melarikan diri, karena dia tak sanggup untuk berlari. Tenaganya dirasakan menghilang begitu saja. Kakinya terasa tak bisa bergerak, terpaku di tempatnya.
Sementara itu Wati yang berada di ruang tamu, lalu keluar ketika mendengar teriakan Maya, hanya bisa melihat seekor ular hitam dengan kepala berbentuk runcing tampak sedang bersiap mematuk Maya.
"Maya," panggil Suta yang sudah datang dari lantai atas.
"Suta tolong!"
Entah karena sudah kehabisan tenaga atau terlalu ketakutan, Maya jatuh terduduk. Bisa juga karena dia terlalu senang melihat Suta, hingga ingin duduk dan berharap pemuda yang dia cintai itu akan menolong dirinya.
Ketika itulah, ular hitam itu menyerang Maya.
"Aaah!" teriak Wati ketakutan.
Jarak satu jari lagi gigi taring ular menancap di leher Maya, kepala ular itu tertahan dan badannya terangkat untuk melingkar di sebuah tangan.
Tangan kanan Suta saat ini menjadi tempat bagi badan dan ekor ular, sebab leher ular itu telah terpegang tangan Suta.
"Eh, kok bisa?" tanya Suta heran.
"Suta, hati-hati! Itu ular beracun kayaknya," ucap Ami yang juga sudah turun dari lantai atas.
"Wah, Suta hebat!" puji banyak orang yang baru berdatangan setelah mendengar teriakkan Maya tadi.
Suta hanya bisa menyengir, karena dia sendiri tak tahu kenapa bisa dirinya berada di dekat Maya. Oh, bukan itu... dia tak mengerti mengapa tubuhnya bisa bergerak sangat cepat dan dapat menangkap kepala ular, tanpa rasa takut.
Wati juga sama kagetnya. Pasalnya, Suta tadi berada di sisinya, eh mendadak tahu-tahu sudah berhasil menangkap ular.
Nilai Suta melambung tinggi di mata Maya dan Ami.
*
Abay berhenti di depan sebuah rumah kecil. Sepertinya sebuah rumah kontrakan dengan cat warna hijau. Sementara suasan jalan di gang yang tak seberapa luas, malam ini terasa lenggang.
Dari dalam rumah mengalun pelan suara orang mengaji. Sebenarnya Abay sudah sering mendengar orang mengaji, tetapi dia tak pernah berbuat seaneh ini, berhenti untuk mendengar dan mengucurkan air matanya. Dia terharu.
__ADS_1
"Ih, Oom kayak Abangku saja. Lagi nangis."
Abay menengok ke sebelah kanannya. Entah sejak kapan ada bocah kecil berdiri di dekatnya. Kalau dilihat dari wajahnya, sekitar usia 6-7 tahun.
"Kamu siapa?" tanya Abay sambil mengusap air matanya yang terlanjur mengalir di pipi.
"Aku Bora dan aku bukan cowok cengeng. Nggak kayak Bang Ara, nangis disuruh belajar sama Mama. Aku udah belajar dong Oom," ucap Bora penuh semangat dan menepuk dadanya.
Abay melongo, kagum dengan nada suara Bora yang penuh tenaga.
"Oya, Oom itu tamunya Papa Irul, ya?" tanya Bora berani.
"Papa Irul itu Papamu, ya?" tanya Abay yang masih duduk di atas motornya.
"Bukan, Papaku namanya itu Api. Papa Irul itu Papanya Fahrul, temanku."
"Hah, nama Papamu itu Api?" Abay malah merasa heran atas nama papanya Bora.
"Hehehe, namanya yang asli itu Papa Bara, tapi aku sebut Papa Api. Eh, iya... ayo, masuk Oom!" ajak Bora.
"Masuk ke mana?" tanya Abay heran lagi.
"Oh, tadi Oom itu berhenti karena mendengar ada suara orang mengaji. Oom bukan teman dari Papa Irul," jawab Abay.
"Papa Irul mengaji? Aku kok nggak dengar ya Oom? Kan rumahku pas di sebelah!" Bora tunjuk rumahnya.
Ketika itulah terdengar teriakan memanggil nama Bora.
Bora berlari kecil ke pagar rumah, sambil menyebut nama Fahrul yang memanggil dirinya tadi.
Abay yang belum turun dari motornya ikut menatap ke arah rumah, asal dari suara tadi. Dia melihat ada seorang pria berusia sekitar 30-an berdiri di depan pintu rumah, serta seorang bocah seusia Bora sedang buka pagar rumah.
"Papa, aku boleh main kan sama Bora? Mau main ke rumah Aluna," ucap Fahrul.
"Main satu jam aja ya, sebelum jam sembilan malam kamu berdua pulang dan tidur," jawab Irul sambil berjalan ke arah pagar. Matanya yang tadi menatap Fahrul, kini beralih ke Abay.
Abay tak ada niat untuk segera pergi. Karena dia tak ingin ada kesalahpahaman. Kalau dia mendadak pergi, bisa-bisa disangka terduga penculik anak kecil lagi. Kan belum lama dia asyik berbincang dengan Bora, ditambah Irul sudah menjadi saksi.
Demi hilangnya kecurigaan, Abay putuskan untuk tetap diam di tempat. Malah dia turun dari motornya. Daripada nanti urusannya panjang, mending dibikin pendek saja.
__ADS_1
"Oom, aku pergi dulu ya!" seru Bora ceria.
"Tunggu, Oom punya hadiah buat kalian berdua." Abay keluarkan dua lembar uang sebesar lima ribu.
Bukan Abay tak mau kasih uang besar, tetapi Bora dan Fahrul masih kecil. Uang lima ribu sudah besar bagi mereka.
"Terima kasih Oom. Tapi aku sama Fahrul kan mau main ke rumah Aluna. Kalau nanti Aluna lihat aku pegang uang, terus gimana dong?" tanya Bora yang teringat Aluna.
Abay tertawa kecil, lalu keluarkan lagi selembar uang dengan nilai yang sama dan diberikan ke tangan Bora.
Dengan wajah riang dan tak lupa mengucap terima kasih, Bora sambut ketiga uang dan berikan satu ke tangan Fahrul. Lalu keduanya pergi ke rumah Aluna, selain mau main di depan rumah Aluna ada warung rumahan, sekalian saja jajan kan dapat uang dari Abay.
"Maaf," ucap Abay pada Irul.
"Wah, Bapak atau...."
"Panggil saja Kang Abay," jawab Abay sambil ulurkan tangan ke depan yang disambut Irul.
"Irul. Masuk dulu yuk Kang, kita ngopi-ngopi," ajak Irul dengan senyum lebar.
Abay tak bisa menolak. Sudah kepalang tanggung. Lagipula dia punya hasrat ingin tahu, apa betul Irul yang tadi mengaji atau tidak. Sebab dari baju yang dipakai Irul, tak ada kesan kalau Irul sehabis mengaji. Baju yang dipakai Irul itu baju kaos dan bergambar tebing dengan siluet orang mendaki tebing itu. Sama celana pendek sebatas lutut.
Kini Abay telah duduk bersama Irul di teras rumah, duduk santai di lantai. Di tengah mereka ada dua gelas kopi dan juga sebungkus kacang kulit serta sebuah asbak.
"Maaf, Kang. Teras kontrakannya kecil. Pekarangan juga penuh pot bunga," ucap Irul.
"Tak masalah. Oya, kamu berdua saja di sini?" tanya Abay.
"Saat ini sih memang berdua. Tapi besok akan jadi berempat sama Ibunya Fahrul dan juga Tantenya."
"Oh, begitu."
"Kang Abay sendiri sudah punya berapa istri?" tanya Irul dengan mata bersinar aneh.
"Wah, pertanyaan sulit ini." Abay tertawa. "Aku ini pria jelek, mana punya istri. Sekalinya punya sudah meninggal," jawab Abay teringat pada istri-istrinya yang sudah jadi korban tumbal Nyi Malini, kecuali Endah yang terbunuh oleh Nyi Malini.
"Masa sih Kang Abay jelek? Kalau aku lihat, bagi pria seumuran Kang Abay, masih cukup tampan dan gagah. Apalagi punya hati baik. Tapi sayang...." Irul berhenti bicara.
"Oya, tadi aku mendengar ada suara mengaji dari dalam rumah. Apa kamu yang mengaji tadi?" tanya Abay yang tak terlalu mendengar ucapan terakhir Irul, sebab waktu menyebut 'tapi sayang' suara Irul sangat rendah.
__ADS_1