
"Ami, dengar Papa. Masalah ini tak ada sangkut pautnya sama Dina. Adikmu itu tak mengadu sama sekali. Malah setiap ditanya, dia tak mau menjawab," ucap Abay yang berdiri di depan pintu kamar Ami.
"Dina bukan Adikku. Aku tak punya Adik cantik seperti Dina, aku ini anak tunggal. Anak yatim piatu, meski Mamaku tak ada kabar hidup matinya, tapi bagiku Mama sudah mati! Tak ada yang sayang padaku! Papa Abay juga bukan Papaku!" teriak Ami dari dalam kamar.
Saat itu Wati sudah keluar dari dalam kamarnya. Dia mendatangi Abay yang masih berdiri di depan pintu kamar Ami.
"Ada apa ini Abay?" tanya Wati.
"Aku salah, Bu. Datang-datang sudah usir temannya Ami dan mengajak dia bicara mengenai teman-teman cowoknya. Maaf, aku membuat Ibu kecewa," ucap Abay.
"Papa tak usah sok peduli padaku. Aku ini bukan siapa-siapa. Oma pun mungkin tak sayang padaku. Semua orang di sini lebih sayang pada Dina. Oh, Tuhan... kenapa aku harus hidup di dunia ini?" jerit Ami di dalam kamar.
"Hei, Ami... apa yang kamu bilang!" teriak Wati kaget.
Tak ada suara di kamar Ami.
"Ami, buka pintu!" Abay menggedor pintu kamar Ami.
"Tidak! Biar saja tubuhku membusuk di kamar ini!" isak Ami.
Wati dan Abay saling memandang. Mereka berpikir hal yang sama, Ami mau mengakhiri hidupnya.
Tanpa perlu disuruh lagi, Abay mendobrak pintu kamar Ami.
Hebat kekuatan Abay, sekali dorong dengan bahunya, pintu kamar Ami terbuka lebar. Padahal sih itu tidak benar, karena yang membuka pintu kamar itu Nyi Malini. Walhasil, Abay malah jatuh tersungkur ke depan.
Tawa cekikikan Ami terdengar, jerit kaget Wati tercipta dan teriakan mengaduh Abay terdengar.
Jidat Abay timbul benjol.
"Ami, kamu jangan bunuh diri, ya!" pinta Abay tak pedulikan rasa sakitnya.
"Ih, aku masih mau hidup Pa. Kan aku punya cita-cita jadi istri orang kaya, tak perlu kerja tapi bisa pergi jalan-jalan ke luar negeri." Ami tersenyum lebar. Tak ada kesedihan di wajahnya.
Abay dan Wati saling memandang, sungguh mereka tak mengerti sikap Ami.
"Aku juga tahu, Dina tak mungkin mengadu, karena anak itu mulutnya terkancing rapat. Beda sama Oma. Oma kan yang kasih tahu Papa?" Ami menatap Wati dan Abay bergantian.
"Kamu benar, memang Oma yang menelepon Papa Abay-mu. Oma lakukan ini, karena takut...."
__ADS_1
"Oma tak perlu takut! Aku dengan mereka itu hanya teman saja. Setelah kejadian Adul waktu itu, aku telah berpikir!" Ami melirik Abay.
"Kalau begitu, kamu tak marah lagi kan?" tanya Abay.
"Masa iya aku marah sama Oma dan Papa? Nanti tak dapat uang jajan, dong! Terus apa aku harus ngamen di perempatan lampu merah begitu? Minta sumbangan rumah ke rumah? Hihihi, nggak dong Pa!" Ami tertawa.
Aneh, kelakuan Ami sangat aneh hari ini.
Abay dan Wati menarik napas lega. Mereka pun keluar dari dalam kamar Ami, tetapi di tangan Ami sudah ada uang sejuta dari Abay.
Bagi Abay uang sebesar itu bukan masalah, bisa saja dia berikan lebih. Namun takutnya orang akan curiga.
Ami menaruh uang pemberian Abay di atas meja belajar, lalu dia naik ke kasur dan menangis dalam diam.
"Apa yang harus aku lakukan? Oma tak terlalu sayang padaku, karena melapor pada Papa Abay. Papa Abay juga bukan Papa kandungku, seharusnya dia tak perlu ikut campur urusan hidupku, tapi aku butuh uang jajan darinya," keluh Ami.
Ami lantas bangun dan duduk di tepi ranjang. Air matanya dihapus dan dia tersenyum.
"Daripada aku terus bersedih, mending jajan makan deh! Perut kenyang, hati pun senang!" Ami berdiri dan berjalan ke arah meja belajar.
Tangannya meraih uang, lalu dihitungnya. Namun saat menemukan uang dengan gambar ular hitam kecil terlukis di bagian kosong kertas uang, kening Ami berkerut tanda tak senang.
Sisa uang lainnya, Ami masukan ke dalam laci meja belajarnya. Tanpa perlu takut ada yang mengambil.
Di tempat lain. Tepatnya di rumah Maya.
Dina dan Maya duduk-duduk di dalam kamar, di depan laptop menonton drama asing negeri Bambu
"Asli, aku suka sama karakter si Mei Mei. Udah cantik, lucu dan imut," ucap Maya.
"Iya, kan sama kayak kamu... tukang makan. Kalau aku suka sama tokoh Mei Lin," sambut Dina.
"Sesuai sama kamu, sama-sama dingin kayak kulkas. Hehehe." Maya tertawa.
"Tapi menurut kamu, si Gu Long bakal pilih yang mana ya?" tanya Dina.
"Mei Mei, lah. Masa iya sama mayat hidup si Mei Lin," jawab Maya.
"Aku pikir sama Mei Lin, meski dia kesannya dingin. Hatinya baik. Mei Mei kan jahil, suka minta ditraktir lagi. Jajannya banyak!" bantah Dina.
__ADS_1
"Wajar dong! Kan tugas cowok itu untuk jajanin cewek. Hihihi!" tawa Maya.
"Ngomong-ngomong jajan. Kok, aku jadi lapar ya!" Dina mengelus perutnya dan membasahi bibirnya dengan lidah.
"Beli cilok, yuk! Atau sosis gitu? Apa nasi Padang aja yang bikin kenyang?" saran Maya sambil menutup laptopnya, pasalnya baterai laptop mendekati masa diisi daya.
"Gimana kalau makan sate kikil sama lontong aja?" tanya Dina.
"Aku sih oke aja, asal dibayarin. Hihihi."
"Kebiasaan, ayo deh!" Dina pun berdiri dari duduknya.
Saat menonton tadi, mereka berdua duduk di lantai kamar dengan laptop berada di atas meja kecil.
Dina dan Maya pun keluar dari dalam kamar. Saat berada di luar rumah, mereka bertemu dengan Ami yang sedang berjalan kaki.
"Kak Ami mau ke mana?" tanya Dina.
"Mau ke minimarket Alya Mart. Mau beli burger yang jualan di parkirannya, mau ikut?" jawab dan ajak Ami.
"Dibayarin kan Kak?" Maya tetap minta ditraktir.
"Tenang, mau tambah bakso juga boleh!" Ami tertawa.
Akhirnya Dina dan Maya pun mengikuti Ami pergi ke Alya Mart yang terletak di pinggir jalan raya, jaraknya sekitar 400 meter.
"Oya, tadi Papamu datang ke rumah, kamu ketemu tidak?" tanya Ami sambil menengok ke Dina yang berjalan di sebelah kanannya.
Ami berjalan di tengah, jadi kalau dilihat mereka bertiga seperti tangga berjalan. Dina yang paling tinggi, lalu Ami dan Maya yang paling pendek.
"Aku tak ketemu dan juga tak tahu kalau Papa datang, Kak. Apa Papa masih di rumah?" tanya Dina.
"Sudah pergi lagi," jawab Ami pendek.
"Cepat amat. Apa Papa cuma kasih uang aja Kak?" tanya Dina.
"Tidak, tapi mengusir teman-temanku. Tapi ya tapi, aku juga dikasih uang jajan sama Papa. Sudahlah, mending kita makan kenyang!" jawab Ami.
Dina tak bicara lagi, Maya juga tak banyak komentar karena sedang disibukkan bayangan makan burger dengan saos super pedas.
__ADS_1
Namun setibanya mereka di dekat Alya Mart, mereka kaget karena melihat Abay baru saja pergi setelah memberi uang ke seorang gadis muda. Kurang lebih jarak mereka itu tiga puluh meter.