
Perjalanan pulang sekolah Dina berlangsung lancar. Tak ada Aro yang menahan dirinya dan mengajak makan bakso, walaupun ketemu juga tetap akan ditolak. Baginya, sekolah dulu dan menuntut ilmu pelajaran lebih penting, di banding mengenal apa itu cinta monyet. Dia bukan Ami.
Lalu tak ada juga Gina, Delisa dan Tia yang mengancam akan membawa Dina ke lapangan. Pasalnya anak kelas akhir ternyata mulai hari ini harus menambah satu jam belajar, sebagai persiapan untuk menghadapi ujian nasional kelulusan.
Dina juga tak ada niat pulang sekolah bareng Maya. Meski anak itu menelepon dirinya. Cuma telepon itu tak diangkat.
Meski Dina harus berjalan kaki memutar dan sedikit lebih jauh jaraknya, dia lebih memilih itu dibanding harus bertemu Suta.
Dina bukan tak suka bertemu Suta, cuma dia malas saja melihat wajah cengar-cengir Suta dan sesekali mendengar puji-pujian Suta akan dirinya.
Setibanya Dina di jembatan kecil di mana kemarin itu Bwalika melarikan diri, dia melihat ada seorang nenek berdiri di samping jembatan. Menengok ke arah air kali kecil yang sedikit berwarna hitam, akibat ada banyak sampah bertebaran di kali. Kasihan kali dan sungai, yang seharusnya menjadi tempat air mengalir dan menjadi rumah bagi para ikan, kini lebih banyak menjadi tempat pembuangan sampah dan rumah bagi segala macam limbah, bertetangga dengan para ikan.
Saat nenek itu menengok, Dina kaget. Karena wajah nenek itu dikenalnya.
Nenek yang sama yang membuat Bwalika melarikan diri. Dina percaya itu, sebab saat ini dia merasakan ada getaran halus terpancar dari tubuh si nenek.
"Oh, kamu lagi." Senyum terkembang di mulut si nenek berwajah welas asih dengan tanda lahir besar di alis sebelah kiri itu.
"Aku Dina, Nek. Nenek siapa ya?" tanya Dina sopan.
"Sudah tahu namamu. Besok-besok juga kita akan bertemu lagi. Nah, sampai jumpa lagi!"
"Nek, tunggu!" tahan Dina yang melihat si nenek mulai berjalan menjauh.
"Panggil aku, Nini Ai. Nama pendek saja!"
"Nini Ai," lirih Dina mengulang dan saat dia tak sengaja berkedip, bayangan Nini Ai sudah menghilang dari pandangannya.
"Oh, hebat sekali! Aku harus bertanya pada Kak Lika, siapa tahu dia kenal dengan Nini Ai itu. Cepat pulang!" Dina pun melangkah semakin cepat.
Setibanya di rumah, Dina belum bisa bertemu Bwalika. Karena dia disuruh Wati duduk di ruang tamu.
"Oma." Dina memeluk pinggang Wati dan menangis dengan wajah menempel di tubuh Wati.
Tangan tua Wati membelai rambut hitam Dina yang sehat dan tebal. Ada air matanya ikut turun, tetapi dengan cepat dia menghapusnya.
__ADS_1
"Oma minta maaf ya," bisik Wati.
"Kok, Oma yang minta maaf?" Dina menjauhkan wajahnya dari tubuh Wati.
"Kan Oma beberapa hari ini cuek padamu. Tak mau bicara dan tak mau melihatmu." Wati tersenyum getir.
"Oh, masalah itu... aku mau cerita kalau aku...."
"Sudah, Oma juga sudah paham, kok!" Wati menghapus air mata Dina dengan jarinya. "Semua itu ulah mulut Ami."
"Jadi Oma tak percaya?" Wajah sedih Dina terhapus.
"Dari sejak Ami datang ke rumah ini, Oma merasa anak itu banyak bahaya-nya. Tetapi Oma dan Opa tak mungkin mengusirnya, karena kejahatan yang dia buat pun baru sebatas mulut saja."
"Tapi kan mulut itu bisa membakar Oma. Ada api di setiap mulut orang, apalagi Kak Ami. Dia... dia... dia...." Dina tergagap.
"Dia itu masih cucu Oma dan Opa. Apalagi dia juga ditinggal Mama-nya ke Kuwait sana. Mungkin nanti, setelah Mama-nya pulang bisa saja Ami akan dibawa turut serta. Sekarang, apa kamu tega membiarkan Ami tinggal di kolong jembatan?"
"Tidak, Oma. Kasihan! Tetapi aku punya ide," ucap Dina.
"Ide apa?" tanya Wati cepat.
Sudah beberapa hari ini Dina berpikir untuk tinggal bersama Abay. Apalagi Abay saat ini mengaku tak lagi kerja di luar kota.
"Jangan! Kalau kamu pergi, Opa dan Oma akan sedih. Papamu juga menyuruhmu tetap di sini."
"Tapi mau sampai kapan aku di sini Oma? Aku sudah tak tahan menerima fitnah dari Kak Ami. Lagipula, aku juga bukan cucu Oma dan Opa yang asli kan? Aku bukan anak dari Mama Santi, aku ini orang lain."
"Bagi Oma dan Opa, kamu itu cucu kami. Tak boleh ada yang memutuskan ikatan itu!"
Hati Dina senang mendengarnya. Tetapi tetap saja, dia merasa tak punya hak di rumah Sanusi dan Wati, karena dia bukan siapa-siapa mereka.
"Aku tak tahu Oma. Yang pasti, suatu hari nanti aku akan pergi dari rumah ini. Maaf Oma, aku masuk ke kamar dulu!" Dina pun bangkit dari duduknya, lalu pergi ke kamarnya.
Bertepatan dengan itu, Ami pulang sekolah.
__ADS_1
"Oma, aku bawa makanan nih. Gado-gado!" Ami berteriak mulai dari teras rumah.
"Kok, beli gado-gado. Oma kan masak ayam goreng sambal hijau," ucap Wati begitu melihat wajah Ami.
"Sebagai pelengkap Oma. Oya, Dina sudah pulang belum Ma?" tanya Ami.
"Sudah, ada di kamarnya," jawab Wati jujur.
"Syukur, deh. Oh, iya lupa! Dina baik-baik saja kan Oma? Tak ada luka di wajahnya?" tanya Ami yang menaruh plastik berisi gado-gado di atas meja ruang tamu, lalu dia duduk di sofa tunggal dekat pintu.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" tanya Wati.
"Oma masih ingat tidak sama Jenita?"
"Temanmu kan?"
"Teman SD tepatnya Oma. Nah, dia kan senior Dina tuh. Tadi dia kasih kabar padaku, rumor bilang Dina itu ribut rebutan cowok sama senior tingkat akhir. Sebagai Kakak yang baik, tentu aku cemas dong Oma. Juga mau kasih nasihat, sekolah dulu yang benar. Pacaran mah nanti saja kalau sudah besar. Kecil-kecil sudah punya pacar, apa nanti pas lepas sekolah mau nikah muda?" Wajah Ami terlihat sedih. Tetapi dalam hatinya dia tertawa melihat pucat dan kagetnya Wati.
Di dalam kamar, Dina mendengar semua celoteh Ami itu. Dia kesal, tetapi tak tahu harus berbuat apa. Mengutus Bwalika sih bisa saja, namun dia tak mau melakukan itu.
"Oh, biar nanti Oma kasih tahu Opa."
"Kasih tahu apa Oma?" tanya Sanusi yang mendadak sudah pulang. Dia masih memakai baju koko, sarung dan pecinya. Baru pulang dari musholla.
Kebiasaan Sanusi, setelah selesai sholat tak langsung pulang. Sedikit berbincang sama jamaah lain, terutama dengan ustad Yusuf yang juga jadi imam dan ketua musholla bersama dengan jamaah lain. Sambil menyelam minum air, bicara apa saja sekalian mendapat ilmu sedikit.
"Itu, Dina berantem sama seniornya gara-gara memperebutkan cowok, Opa. Serem kan?" ucap Ami.
"Kamu fitnah Dina lagi?" tanya Sanusi tajam.
Ami terkejut, tetapi tak lama dia menggeleng dan wajahnya terlihat sedih.
"Kalau Opa beranggapan aku ini fitnah Dina. Biarlah, aku minta maaf. Padahal aku tahu kabar ini dari temanku yang juga senior dari Dina. Kalau tak dapat kabar itu dari temanku, mana mungkin aku tahu!" Ami dengan berani menatap Sanusi, lalu berdiri.
Sanusi bergeming.
__ADS_1
"Opa sama Oma memang tak pernah sayang aku. Semuanya yang ada di sini selalu membela Dina. Aku ini apa, hanya anak dari seorang pekerja panti pijat!" Ami berlari masuk ke dalam kamarnya.
Sanusi dan Wati saling bertukar pandang. Mereka kaget mendengar ucapan terakhir Ami.