
"Dina ke mana?" tanya Sasan begitu bangun tidur.
Sasan tidur tak lama, sekitar sejam.
"Tak tahu Pak. Hilang ditelan bumi, lenyap begitu saja," jawab Ami.
"Apa kita berdoa saja yuk buat Dina?" tanya Maya berupa ajakan.
"Loh, memangnya Dina hilang apa?" Meri yang datang belum lama, tentu saja belum tahu apa yang terjadi.
"Belum tahu, yang pasti begitu dia masuk ke kamar ketemu sama Neneknya eh hilang," jelas Maya.
"Apa jangan-jangan Neneknya Dina itu jin kali, jadinya Dina dibawa ke dunia jin," ucap Meri mendadak.
"Ah, bisa jadi itu benar. Mari, kita bantu Dina dengan doa," ucap Sasan yang pernah mendengar dari Nini Ai, jika Dina disiapkan untuk menolong Abay.
Semua setuju, kebetulan langit di jam ashar sedang mendung, jadi mereka bisa mengaji tanpa gangguan.
*
Dina telah sampai di ujung lorong. Saat dia keluar, dia berada di tepi sebuah kolam mata air yang warnanya hitam. Tunggu, dari baunya tercium aroma minyak.
Ternyata kolam minyak kecil. Saat itulah Dina merasa ada sesuatu di telapak tangannya. Saat dia melihat, sebuah korek api gas yang biasa dia lihat di jual di warung, maupun di minimarket. Juga di tangan orang-orang perokok.
"Buat apa korek api ini?" tanya Dina.
Dina berpikir sejenak, lalu matanya melihat ke arah kolam minyak hitam.
"Ah, obor api!"
Dina lalu bergerak mencari ranting kayu. Sekitar lima ranting diambilnya. Lalu dia robek kain bajunya yang cukup panjang dan diikat di ranting. Setelahnya dicelupkan ke dalam kolam minyak.
Saat itu Dina tertarik melihat ada tempurung kelapa di dekat batu. Dia ambil tempurung kelapa itu.
Tempat Dina berada saat ini aneh, seperti hutan belantara. Namun tak terdengar suara binatang satu pun. Begitu sunyi dan senyap.
Hanya saja Dina mencium bau racun yang cukup kuat. Dia tak tahu, jika Nini Ai sudah memasukkan obat ke dalam tubuhnya, kalau tidak dia mungkin sudah jatuh pingsan dan mungkin mati sejak tadi.
Dengan tangan kanan membawa tempurung kelapa berisi minyak hitam, lalu tangan kiri membawa lima batang obor, Dina berjalan.
Tujuan Dina di depan sana, di gedung bertingkat yang terlihat matanya.
__ADS_1
"Dina, setelah selamatkan Abay, cepat pergi!"
Dina berhenti sejenak, mendengar suara Nini Ai di telinganya, tetapi tak ada orangnya.
"Cepat, waktumu tak banyak!"
Dina lalu berlari dan saat itu dia melihat ada beberapa ekor ular yang saat melihat dirinya, malah berputar badan dan kabur.
Arah lari ular tersebut ternyata searah dengan perjalanan Dina. Tentu ini sesuatu yang membuat Dina senang.
Namun mendadak Dina harus menundukkan kepalanya sampai mendekati tanah.
Hampir saja Dina terkena sambaran ular sebesar pohon kelapa. Ketika Dina berpaling menatap ular tersebut, tahu-tahu dirinya telah terkurung oleh badan ular yang membentuk lingkaran.
Kepala ular itu besar dan saat mulutnya terbuka, masih berlebih untuk menampung tubuh Dina.
"Hei, cepat pergi! Aku tak ada urusan denganmu!" pinta Dina.
Ular itu tak menjawab, hanya suara desisnya tinggi. Seakan berkata, 'lewati dulu bangkaiku'.
"Baiklah." Dina lalu turunkan tempurung kelapa berisi minyak dan juga tongkat obor.
Telapak tangan Dina yang kecil menepuk bagian kepala bawah ular, hingga kepala itu mendongak ke atas. Tak puas, Dina menghajar arah tubuh terlemah ular itu, yakni di bagian bawah dekat leher ular.
Tak cukup, entah darimana asalnya kekuatan Dina, dia bisa mengangkat badan ular dan melemparnya jauh.
Suara tubuh ular yang bertemu dengan tanah membuat bumi berguncang.
Selanjutnya Dina mengambil tempurung kelapa dan obor yang telah dia siapkan. Dia pun berjalan lagi.
Tetapi ternyata Dina menemui hambatan kedua. Dia menemui jurang sejauh 10 meter. Tak mungkin dia meloncat, karena tak punya sayap.
Jurang tak terlalu dalam. Hanya sekitar 2 meter, tetapi di bawah jurang ada ribuan kepala ular berwana merah yang terangkat.
Ketika Dina sedang bingung, dia melihat gelang tasbihnya bergetar, seakan ingin minta keluar dari tangannya. Dina menaruh tempurung kelapa dan obornya ke tanah, lalu mengeluarkan tasbihnya.
"Hey!" kaget Dina ketika tasbihnya itu malah terbang ke seberang jurang.
Rasa kaget Dina belum berakhir, karena dia melihat ada rantai berasal dari seberang sana. Begitu dia perhatikan, seperti rantai itu berasal dari gelang tasbihnya. Karena warnanya serupa dengan batu-batu yang menjadi tasbihnya, batu hijau dan putih.
Dengan perasaan senang, Dina bergegas menyerbu ke arah jembatan rantai. Dia berlarian seakan berada di jalan yang lurus, di bawahnya kepala para ular hanya mengawasi saja, tak ada yang bergerak.
__ADS_1
Sesampainya di seberang jembatan, Dina kaget karena dia bertemu dengan sepasukan manusia ular.
"Cukup di sini perjalananmu, hei manusia," ucap gadis manusia ular yang cantik.
"Kakak cantik sekali, siapa namanya?" Dina malah bertanya, karena dia kagum melihat kecantikan si gadis ular.
"Buat apa kamu tanya namaku?" sahut si gadis ular sedikit tertegun. Dia sepertinya menjadi pemimpin dari sekitar dua puluh manusia ular. Seluruhnya gadis ular.
"Aku nanti mau tanya Kakak Bwalika, apa Kakak bisa dijadikan teman." Dina tersenyum.
"Aku bukan temanmu, lagipula Bwalika sudah mati!"
Dina yang kaget, kini timbul amarah, dia ambil satu batang obor dan sisanya dia lempar. Lalu tempurung kelapa ditaruhnya ke tanah. Obor pun dinyalakan.
"Jika begitu, kalian semua pun harus mati!" teriak Dina lalu melompat ke arah kumpulan gadis ular.
"Hati-hati, jangan sampai terkena apinya!" teriak para gadis ular.
Pertarungan tak seimbang terjadi, Dina yang seorang diri harus melawan 20 gadis ular. Lagipula dia belum punya pengalaman, main tubruk sana-sini tanpa hasil. Main sabet sana, sabet sini obor apinya tanpa bisa mengenai satupun gadis ular.
Namun tak mudah juga cambuk maupun tombak gadis ular mengenai tubuh Dina. Selama Dina bersama Nini Ai, tanpa sepengetahuan Sasan dan orang lain, dia belajar ilmu silat dengan Nini Ai.
Hingga Dina mampu mengelak ke sana ke sini dengan lincah. Tetapi dia tak belajar cara memukul musuh dengan baik dan benar, dia tak mau menyakiti musuhnya, karena itu hanya belajar cara menghindar.
Dalam hatinya, Dina menyesal kenapa dulu tak mau belajar cara mendekati musuh dan memberi hajaran yang kuat.
Api obor hampir berakhir, saat itulah Dina mendengar suara Nini Ai.
"Baca doa dan tiup ke arah api!"
Dina tergerak hatinya. Lalu dia diam di tempatnya dengan ujung mata menatap tongkat obor yang apinya mulai redup.
Bibirnya bergerak, membaca doa untuk meminjam kekuatan angin.
"Hihihi, dia sudah menyerah. Kawan-kawan, ringkus dia!"
Mendadak Dina meniup ke arah obor api, lalu sambil berputar dia tetap meniup.
Lidah api besar mendadak muncul dan mengarah ke gadis-gadis ular.
Lidah api itu datang sangat cepat, sudah begitu membakarnya pun cepat. Hingga musuh-musuh Dina tak ada satupun yang selamat. Suara jeritan terdengar dan bau daging terbakar menyengat hidung Dina.
__ADS_1