ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 134


__ADS_3

Abay, Santi dan Poppy hanya bisa berdiri dengan air mata bercucuran. Mereka disuruh berdiri menjauh oleh Nini Ai yang sedang berusaha membangkitkan kembali Dina.


Racun yang dimasukan Nyi Malini melalui gigitannya di pundak kiri Dina, membuat gadis itu kehilangan kesadarannya, hingga pelan-pelan racun mendekati jantung. Sedikit lagi Dina akan mati.


Karena itu Nini Ai harus berkorban jiwa. Dina masih bisa selamat, jika dia bisa membuat racun ular Nyi Malini itu berpindah ke dirinya. Caranya dengan menyedot racun itu.


Nini Ai duduk bersila di samping tubuh Dina, di sebelah kiri di dekat pundak. Tubuh Dina dibaringkan telungkup agar lukanya bisa terlihat, bajunya di bagian pundak juga sudah dirobek.


Terlihat luka bekas gigitan Nyi Malini sudah mulai menghitam dan ada jalur urat hitam mulai mengakar.


Nini Ai bertindak cepat, setelah dia menggosok kedua telapak tangannya, hingga muncul sinar putih, telapak tangannya itu lalu ditempel ke pundak Dina.


Ketiga jiwa yang menyaksikan cara pengobatan Nini Ai dan telah tahu resiko yang akan diterima nenek itu, tak kuasa menahan tangis.


Mereka melihat tangan putih Nini Ai mulai dialiri warna hitam racun. Baru sebatas pergelangan tangan.


Mendadak terjadi guncangan, gempa yang membuat kaki Abay, Santi dan Poppy nyaris tak bisa berdiri.


"Ini kenapa?" tanya Santi.


"Gempa," jawab Poppy.


"Sepertinya dunia jin ini akan runtuh. Gimana nasib Dina?" Abay masih mengkuatirkan jiwa Dina.


Suara berisik terdengar dari belakang ketiganya. Mereka menengok dan buru-buru menutup wajah dengan kedua telapak tangan, karena ada debu setebal awan yang menyerbu ke arah mereka. Suara itu masih terdengar.


Ketika suara gemuruh berakhir, ketiganya pun membuka wajah dan terbatuk-batuk. Saat debu mulai menipis, terlihat bangunan bertingkat Nyi Malini sudah tak ada, tertinggal puing dan perlahan ditelan bumi.


"Dina akan segera bangun. Aku pergi, ingat jangan pernah bilang akan pengorbananku, karena hal itu bisa saja menjadi fatal bagi Dina." Nini Ai berdiri.


Abay, Santi dan Poppy memutar tubuh menatap Nini Ai. Mereka semua kaget, karena Nini Ai kini bertubuh hitam.


"Kalian jangan lama-lama di sini, jika nanti timbul guncangan lagi, cepat kamu pergi Abay. Lari ke tempat di mana Dina pertama kali datang. Kalian berdua, cepat naik ke atas langit!" Nini Ai pun mulai berjalan pergi mengarah ke tempat di mana Istana Nyi Malini ambrol.


Tak lama Dina mengeluh lirih, lalu membuka mata dan terduduk dengan rasa letih yang masih terasa.


Saat itulah Dina melihat Abay, Santi dan Poppy.

__ADS_1


"Papa, Mama Santi, Mama Poppy," ucap Dina kaget.


"Dina, Mama akan segera pergi. Terima kasih pada Papamu ini yang membuat jiwa Mama tersesat di alam jin ini. Sekarang Mama sudah bebas, titip pesan agar Papamu ini kirim doa buat Mama. Jadilah anak yang baik Dina, jangan pernah berkerjasama dengan jin!" Santi melambaikan tangan dan perlahan tubuhnya mulai melayang ke atas langit.


"Dina, Mama titip pesan padamu, jangan ribut sama Ami. Kalian harus saling sayang dan cinta, ya. Selamat tinggal!" Poppy pun ikut terbang ke atas.


"Mama!" teriak Dina meloncat berdiri.


Tangan Dina terulur ke atas, kepalanya pun mendongak tinggi. Hingga dia tak melihat ketika Nini Ai meloncat ke arah lubang bumi tempat istana Nyi Malini ditelan.


Abay melihat itu dan dia diam saja.


Hingga guncangan besar terjadi.


"Dina, ayo kita cepat lari ke tempat asal kamu datang ke sini!" ajak Abay.


Dina tersadar, hati kecilnya berkata jika masih tetap berdiri di tempatnya sekarang, akan lebih banyak bahaya daripada selamatnya.


Abay menunggu Dina berlari lebih dulu, baru dia menyusul.


Guncangan semakin terasa keras, tanah bergelombang seperti ombak saja. Perjalanan tak mudah, beberapa kali Dina dan Abay jatuh. Namun keduanya tak bisa berhenti, mereka harus terus bergerak, masih harus berlari. Cepat dan cepat.


Hampir saja gadis itu jatuh ke lubang dari tanah yang tiba-tiba ambrol tanahnya.


Keduanya pun berlari memutar. Sambil berlari mereka melihat pohon-pohon seperti dimakan bumi, hilang begitu saja. Batu besar menggelinding masuk ke dalam lubang tanah. Gempa yang sangat besar.


"Ah, nanti kita akan melewati jurang. Bagaimana caranya?" teriak Dina sambil berlari.


"Jurang apa?" tanya Abay tak mengerti.


Pertanyaan Abay itu terjawab cepat. Saat ini dia dan Dina berhenti di tepi jurang. Sebenarnya bukan benar-benar jurang, hanya saja di dalam selokan yang sedalam kurang lebih 2 meter itu terdapat banyak ular mungkin jumlahnya ribuan, yang sedang gelisah dan marah. Para ular itu tampak berebut untuk naik ke atas, karena mereka juga merasakan guncangan gempa.


"Apa kita turun saja ke bawah?" tanya Abay.


"Para ular bisa saja menggigit kita Papa. Mereka sedang ketakutan." Dina menolak.


Lalu Dina melihat ke arah tangannya. Tak ada gelang tasbihnya.

__ADS_1


"Oh, ke mana?" tanya Dina bingung.


"Ke mana apa? Ya, kita harus menyebrang ke sana. Tapi caranya apa?" Abay terlihat bingung.


Hingga keduanya kaget karena mendengar suara runtuhnya selokan lebar yang berisi ular tersebut. Kini selokan telah menjadi jurang. Betul tak ada ribuan ular, tetapi dalamnya jurang tak bisa diprediksi.


Saat itulah dari arah belakang Dina dan Abay terdengar suara bising memecah udara.


Dina dan Abay menengok ke belakang, ada sinar merah dan hijau melesat cepat. Dina bersorak girang, karena dari sinar itu dia bisa tahu itu sinar dari gelang tasbihnya.


Gelang tersebut terus melesat ke arah jurang yang lain. Lalu berhenti dan mulai membesar dan memanjang ke arah Dina dan Abay berdiri.


"Papa cepat!" ajak Dina yang sudah melompat ke atas sinar dan berlari.


Abay meragu, dia tak yakin dirinya mampu berjalan di atas sinar yang hanya sebesar bambu itu. Tetapi dia melihat betapa Dina dengan gesitnya berlari ke seberang.


Sampai Dina di seberang, Abay masih belum mulai.


"Papa Abay, cepat naik ke sinar itu dan lari ke sini! Lihat, di belakang Papa!" Dina berteriak kencang.


Abay menengok ke belakang dan dia kaget karena tanah mulai runtuh dan bergerak ke arahnya. Jika dia masih berdiri dan belum mau berlari, dia akan tenggelam dan masuk ke dalam tanah yang kedalamannya tak diketahui itu.


Dengan memompa semangatnya sendiri, Abay pun meloncat naik ke atas jembatan sinar sebesar batang bambu. Lalu berlari secepat yang dia bisa.


"Papa lompat!" teriak Dina.


Abay yang tak bisa berpikir itu cepat melompat ke arah Dina, padahal jarak antara dirinya dengan Dina itu ada sekitar tiga meter.


"Dina tolong!" teriak Abay sambil mengulurkan tangan.


Jika Abay tak melompat, dia bisa jatuh ke jurang karena ujung jembatan sinar telah putus dan membuat kekuatannya tak ada. Sementara dia melompat, tenaganya kurang.


Beruntung Dina bisa menangkap Abay dengan ujung sinar lainnya. Pinggang Abay terjerat tali sinar, dia tergantung sejenak di udara dengan dasar jurang yang dalam di bawah kakinya. Jika tali sinar tak kuat, maka Abay akan jatuh dan mati.


Dina lalu menarik Abay naik ke atas. Setelah itu mereka berlari lagi ke arah kolam minyak tempat Dina datang pertama kali.


Namun di tengah perjalanan, mereka berdua berteriak karena tubuh mereka tersedot ke depan.

__ADS_1


"Tolong!" teriak Abay.


__ADS_2