ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 132


__ADS_3

Ketika Harma datang ke lapangan istana Nyi Malini yang dipenuhi manusia ular dan binatang ular, dia melihat api besar.


Sebelum Harma datang, Dina yang terlebih dahulu tiba. Begitu melewati pintu kerajaan yang dibuka lebar-lebar sudah melihat ada banyak manusia ular dan binatang ular menyemut membentuk lingkaran.


Waktu Dina mau memasuki istana, sebelumnya dia harus melewati pintu masuk istana yang berupa moncong ular.


Kepala ular dengan mulut terbuka menjadi pintu masuk ke istana Nyi Malini. Karena gelap, Dina pun menyalakan satu batang obor yang masih tersisa empat.


Satu kesalahan telah di buat Nyi Malini dengan membiarkan Dina menyalakan obor terlebih dahulu.


Dengan mengempit tiga batang obor di ketiak kanan dan telapak tangan kanan masih setia membawa tempurung kelapa berisi minyak hitam, Dina berjalan masuk melalui pintu masuk berupa mulut ular.


Begitu keluar, Dina mendapati dirinya berhadapan dengan jumlah musuh yang banyak.


Reflek, Dina lempar tempurung kelapanya dan juga melempar obornya ke depan.


Minyak hitam menjadi hujan lokal dan api obor menjadi petir yang menyambar. Begitu percikan minyak terkena api, api pun langsung membesar dan membakar banyak anak buah Nyi Malini.


Kaget, panik dan ketakutan silih berganti berdatangan.


Nyi Malini yang tak menyangka Dina datang dengan sebuah persiapan itu pun meraung gusar.


Tetapi Abay yang melihat betapa banyak manusia ular dan binatang ular yang mati terbakar dan lari menyelamatkan diri, tertawa terbahak-bahak.


Membuat kesal Nyi Malini saja.


Sayangnya api tak bertahan lama, Dina juga kaget karena api berhenti sangat cepat. Ketika itulah terdengar perintah Nyi Malini.


"Kalahkan anak itu! Cepat!" teriak Nyi Malini yang berdiri di panggung batu.


Anak buah Nyi Malini yang masih tersisa, lalu menyerbu ke Dina. Sementara yang sudah agak jauh berlari, kembali untuk ikut menyerang Dina.


Dina panik, hingga dia tak tahu harus berbuat apa. Hingga mendadak tasbih yang waktu itu menjadi jembatan baginya, entah sejak kapan sudah ada lagi di pergelangan tangannya.


Tasbih itu pun menyala dan tanpa berpikir panjang, Dina keluarkan gelang tasbihnya dan saat terpegang, tasbih itu berubah menjadi cambuk yang ujungnya berupa batu warna merah.


Waktu itu Abay menutup matanya, karena ngeri membayangkan tubuh Dina akan hancur diterjang serangan beratus senjata tajam.


Tetapi saat Abay menanti teriakan Dina, yang dia dengar ialah teriakan yang ramai.


"Awas hati-hati!"


"Aaaah!"

__ADS_1


"Aduh!"


"Kabur."


"Jangan lari atau mati di tanganku!"


Ketika Abay membuka mata, dia berteriak girang. Karena Dina masih selamat dan dengan cambuk di tangan, Dina sabet ke kiri-kanan dan depan.


Saat tubuh manusia ular atau binatang ular terkena cambuk, maka tubuh mereka langsung terbakar. Kalau tahu tasbih pemberian Ipoy mempunyai kekuatan seperti ini, Dina tak akan repot-repot membuat obor.


Sayang Dina tak tahu apa-apa. Ipoy pun tak bercerita pada Sasan yang mendapat titipan.


Manusia ular anak buah Nyi Malini panik. Tetapi semakin panik ketika Nyi Malini berserta empat pelayan setianya, malah melakukan pembantaian kepada mereka yang mau melarikan diri.


Tetapi bagaimanapun Dina hanya seorang diri. Dia pun tak punya kekuatan fisik seorang pria. Cambuk yang dia pegang semakin lama terasa semakin berat.


Yang bisa membuat Dina bertahan adalah teriakan penuh semangat Abay.


"Ayo, Dina... hancurkan mereka semua. Anakku hebat!"


Di detik terakhir di mana Dina sudah merasa lelah, beruntung datang Harma.


"Aum."


Auman Harma membuat Dina senang. Dia menengok ke belakang sekilas. Ternyata tak hanya ada satu Harma saja. Harma telah membelah dirinya menjadi dua, tidak empat, bukan delapan. Ya, delapan Harma lalu menyebar dan melakukan pembantaian.


Bau anyir darah, percikan daging. Hal itu membuat Dina lemah dan dia terduduk lemas.


Nyi Malini yang melihat kesempatan datang, lalu mengubah dirinya menjadi ular kecil dan masuk ke dalam tanah.


Tak ada yang melihat. Dina sedang duduk melepas rasa lelahnya, tak ada manusia ular atau binatang ular yang berani mendekatinya.


Yang ada di dekat Dina hanyalah bangkai manusia ular dan para ular saja.


Delapan Harma sedang mengamuk, menghancurkan banyak manusia ular. Abay yang asyik melihat pertarungan pun tak tahu, jika Nyi Malini sudah tak ada.


Saat Abay tersadar tak melihat keberadaan Nyi Malini, baru dia sibuk sendiri.


"Nyi Malini mana? Mana dia?" Mata Abay mencari-cari keberadaan Nyi Malini.


Nyi Malini tak terlihat.


"Apa dia kabur? Tak mungkin!" Abay bertanya dan dia pula yang menjawab.

__ADS_1


Hingga mata Abay melihat ada gerakan aneh di tanah, seperti ada gelombang yang mengarah ke Dina.


Abay panik, dia berteriak ke Dina.


***


Nini Ai yang duduk menjaga tubuh Dina dan Abay mengernyitkan kening. Tatapan matanya pun mendadak bersinar terang, lalu sayu.


"Ah, tak seharusnya aku menyuruh Dina yang mendatangi Istana ular itu. Tetapi jika bukan Dina, apa aku sanggup?" Nini Ai menghela napas.


"Baiklah, hidupku sudah tua. Sementara Dina masih panjang." Nini Ai lalu menggenggam erat tangan kanan Dina.


Mata Nini Ai tertutup, bibirnya bergerak-gerak lalu terdiam. Tubuhnya sedikit gemetar dan selanjutnya menjadi patung.


*


Ami belum mau berhenti membaca Yasin untuk yang ketiga kalinya. Sementara Maya dan Meri sudah berhenti sejak selesai membaca yang pertama. Sedangkan Sasan sedang duduk bengong dengan kedua tangan di atas kepalanya.


Sasan merasa pikirannya terganggu. Hatinya tak tenang, bukan karena Dina. Dia yakin Dina akan pulang dengan selamat, tetapi itu dengan pengorbanan yang besar. Entah apa, dia tak bisa menjawabnya.


Maya dan Meri keluar dari dalam dapur. Ternyata keduanya sibuk membuat kue, bukan kue yang dijual di pasar, tetapi kue terigu biasa dicampur dengan serbuk susu coklat.


Jam pun hampir menunjukkan pukul 5 sore. Ketika kedua gadis itu keluar dari dapur, Ami baru saja selesai membaca Yasin 3 kali.


"Kak Ami, kue nih. Tapi enak apa nggak, nggak tahu. Iseng aja bikin kue tepung campur susu coklat," ucap Maya sambil menaruh piring kue di dekat Ami.


"Kak, tadi serius amat baca Yasin sampai 3 kali. Kenapa tuh?" tanya Meri yang penasaran.


"Nggak tahu, tetapi mendadak gue ingat sama Mama Poppy, Mama kandung. Gue merasa selama ini tak pernah kirimi doa buat Mama. Tapi tadi, kok gue seperti mendengar permintaan Mama buat dikirimi doa. Itu aja sih!" jelas Ami.


"Mama Kak Ami yang cantik itu kan?" tanya Meri.


"Kamu lihat dong, Kak Ami aja cantik, masa Mama-nya jelek," colek Maya.


Telepon berdering. Maya melihat ponselnya.


"Mamaku menelepon." Maya lalu angkat telepon.


Ternyata Maya disuruh pulang untuk ambil bekal kue buat pengajian nanti malam. Ditemani Meri, Maya pun pulang sebentar ke rumahnya.


"Bapak kenapa?" tanya Ami yang baru melihat betapa wajah Sasan pucat.


"Tak tahu, seperti merasa kehilangan sesuatu!" jawab Sasan.

__ADS_1


***


"Dina awas hati-hati!" teriak Abay.


__ADS_2