
Dina bingung, dia sama sekali tak menduga jika wanita cantik bertubuh ular, tiba-tiba berlari pergi dengan berteriak kesakitan.
Sementara di dalam kamar, Bwalika melihat dari dalam tubuh Dina, mendadak muncul bayangan halus seorang kakek tua.
Tangan kakek tua itulah yang menahan laju majunya Nyi Malini. Dari tangan kakek tua itu keluar sinar berwarna putih bercampur biru.
Dina menengok ke kamarnya, keningnya berkerut, heran menemukan Bwalika berdiri dengan wajah aneh.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Bwalika dengan nada bergetar.
"Aku, Dina. Kan Kak Lika sudah kenal!"
Bwalika menggeleng, lalu berkata. "Tidak, tidak! Kamu bukan hanya Dina, tetapi...."
"Tetapi apa Kak?" Dina berjalan mendekat.
"Apa kamu tak tahu?" Bwalika bukan menjawab, malah bertanya.
"Tahu apa?" Wajah Dina beroman bingung.
"Dirimu dijaga seorang Kakek tua, tapi aku tak tahu siapa dia?" jelas Bwalika.
"Loh, kok bisa?" Dina semakin bingung.
Bwalika juga tak bisa menjawab pertanyaan Dina itu. Tetapi yang dia bisa pastikan, akhirnya dia tahu kenapa Dina tak mempunyai rasa takut sama sekali dengan jin seperti dirinya. Ternyata Dina ada yang menjaga.
"Apa kamu tak mau menengok keadaan Ami?" tanya Bwalika mengingatkan Dina, setelah sempat hening sejenak.
"Ah, iya!" Dina memutar tubuhnya, lalu berlari menuju kamar Ami.
Setibanya Dina di kamar Ami, dia temukan Ami terbaring di lantai dalam keadaan pingsan.
Terburu-buru Dina berlari untuk mengambil minyak kayu putih yang berada di kotak P3K, yang tergantung di dinding dekat ruang televisi.
*
Abay terbangun dengan wajah kaget. Dia terkejut karena mendengar suara keras terbukanya pintu kamar.
Mata Abay melotot, lalu perlahan sinar matanya bersinar redup, dia ketakutan.
__ADS_1
Di depan pintu kamar, berdiri Nyi Malini dengan tubuh ular. Hanya kepala Nyi Malini saja yang berwujud manusia, sisanya tubuh ular sebesar pohon kelapa dan bersisik hitam kemerahan.
"Kamu hampir saja membuat aku celaka!" Nyi Malini memasuki kamar dengan cara merayap.
"Ada apa istriku Sayang? Kenapa?" tanya Abay dengan suara bergetar merayu.
Abay ingin mencari selamat, karena itu dia memanggil 'Sayang' pada Nyi Malini. Dia sangat jarang menggunakan panggilan itu.
"Tak perlu merayu diriku!" Kepala Nyi Malini terulur mendekat.
Kini Abay dan Nyi Malini bertemu wajah dan wajah, hanya berjarak sejengkal.
Bau busuk menusuk dari tubuh Nyi Malini tercium Abay.
Tetapi Abay tak bisa menghindar, dia tak ada kesempatan untuk menjauh dari Nyi Malini. Bahkan dia tak akan bisa menghindari Nyi Malini.
"Katakan, apa kamu sengaja menipuku? Berusaha membuat aku mati atau minimal terluka?" tanya Nyi Malini dengan suara keras.
"Aku... Aku tak... tak mengerti... apa... apa maksudmu?" Abay tergagap.
"Calon tumbal yang kamu berikan!" seru Nyi Malini.
Nyi Malini mendengus. Hasilnya tubuh Abay terbang dan menumbuk dinding kamar. Entah dengan cara apa?
Abay merasa ada angin yang menghempaskan tubuhnya.
"Kamu berbuat kesalahan fatal, Abay!" Nyi Malini gerakan ekor ularnya ke arah Abay.
Abay ingin menjerit meminta tolong dilepaskan dari libatan ekor ular Nyi Malini, tetapi dia tahu hal itu percuma. Mungkin bisa jadi Nyi Malini akan semakin marah.
"Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Setahuku, aku sudah mencari tahu dan menyakini... calon korban yang aku pilih itu anak perawan!" seru Abay menyakinkan Nyi Malini.
Kini Abay tergantung di udara, karena tubuhnya diangkat Nyi Malini dengan ekor masih melihatnya.
Hanya pundak, leher dan kepala Abay yang tak dibelit ekor ular Nyi Malini. Berikut bagian lutut ke bawa masih bebas.
Nyi Malini pun bercerita, dia mendatangi kamar Ami si calon korban yang telah dipilih Abay. Cara memilih tumbal yang Abay lakukan itu dengan memberikan uang pada si calon korban.
Sejatinya Nyi Malini tak kenal Ami, karena dia memang tak perlu mengenal nama korban tumbal, yang telah disiapkan Abay dan para pelaku pesugihan yang ingin cepat kaya, lalu meminta tolong padanya.
__ADS_1
Tetapi saat Nyi Malini gagal mendapatkan dan membawa jiwa Ami sebagai korban, yang nantinya jiwa Ami itu akan ditawan di kerajaan dan menjadi budak sampai kiamat tiba, barulah dia tahu... jika ternyata ada Dina yang tinggal serumah dengan Ami.
Nyi Malini waktu menyerang Dina, dia masih belum sadar siapa Dina. Namun saat dia kabur dari Dina, dia baru tersentak sadar. Wajah Dina sepertinya sangat dia kenal.
Walau garis wajah Dina tak serupa Abay, karena Dina bukan anak kandung Abay. Tetapi Nyi Malini teringat, waktu Dina bayi dulu pernah dilihatnya.
Karena itu Nyi Malini menerka dan menuduh Abay sengaja ingin mencelakai dirinya. Karena apa yang dia alami kala ingin mendekati Dina, guna membuat luka. Tahu-tahu dia yang terpental dan harus menderita kerugian.
"Oh, berarti aku salah mengasih uang. Uang buat Ami diterima Gita. Sementara Gita mendapatkan uang Ami. Aku sudah tetapkan Gita menjadi korban, karena anak itu memang paling pas. Tak hanya perawan, tetapi Gina juga bukan anak yang berasal dari keluarga kecil. Kehilangan Gita tak akan membuat orang tuanya terlalu bersedih, sebab masih ada enam anak yang lainnya," tutur Abay ketika selesai mendengar cerita Nyi Malini.
"Oh, berarti Ami itulah yang aku datangi. Tetapi bagaimana bisa, dia sudah tak...."
"Ami pernah mendapat kecelakaan, ada benturan antara benda keras dengan organ vital tubuhnya, hingga Ami kesakitan dan mengalami pendarahan," jelas Abay memotong ucapan Nyi Malini.
Abay bisa menyebut nama Ami, karena Nyi Malini dengan tegas menyebut kenal dengan Dina. Karena itulah Abay sebut nama Ami.
"Oh, jadi Ami itu pernah sakit dan membuat dia tak lagi perawan?" tanya Nyi Malini.
"Tepat sekali! Waktu aku dan Neneknya Ami mengantar ke rumah sakit, Dokter yang merawat Ami memberi tahu kabar buruk itu. Karena organ vitalnya terbentur batang sepeda, karena benturan keras itu membuat selaput dara Ami pecah. Dia sejatinya masih perawan tulen, hanya saja bukti keperawanan dirinya sudah tak ada!" Abay menjelaskan dengan nada cepat.
"Kalau begitu, aku tak bisa salahkan kamu! Kamu tak sengaja," ucap Nyi Malini.
"Lagian aku juga tak berani, karena aku masih ingin hidup!" sahut Abay, tapi sayangnya dia bicara di dalam hatinya.
Namun untuk menjawab pertanyaan Nyi Malini, Abay anggukan kepalanya.
"Terus apa kamu tahu, siapa tubuh halus yang melindungi Dina?" tanya Nyi Malini.
Abay menggeleng, karena dia memang tak tahu. Setahunya, keluarganya yang dia kenal tak ada satupun yang pernah belajar ilmu gaib, entah kalau yang terdahulu. Tetapi tunggu dulu, Abay baru teringat kalau Dina itu bukan anak kandungnya. Apa karena kakek tua yang dilihat Nyi Malini itu berasal dari keluarga Endah?
"Sudahlah, jika kamu tak tahu tak perlu jawab. Tetapi pastikan, kamu harus cari tahu pada Dina. Tanya anak itu, karena jika dibiarkan bisa jadi anak itu akan membuat masalah bagi kita!" seru Nyi Malini, lalu menarik pulang ekor ularnya yang membelit Abay.
Jika saja tadi Abay tak menjawab dengan baik, Nyi Malini bermaksud untuk meremukkan tubuh Abay dengan belitan ekor ularnya.
Tubuh Abay yang terbebas, jatuh ke lantai. Dia menarik napas lega, karena terbebas dari kematian di tangan Nyi Malini. Meski begitu, dia merasakan sakit di hampir seluruh bagian tubuhnya.
*
"Mana manusia ular itu?" tanya Ami dengan wajah ketakutan. Matanya mencari ke seluruh isi kamar.
__ADS_1