ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 119


__ADS_3

Dina tak hanya keluar dari kamar, tetapi juga keluar dari rumah dan bertemu dengan Marina yang mau berjalan pulang.


"Mau ke mana kamu, Dina?" tanya Marina.


Dina yang baru sekitar 30 menit tertidur itu, masih agak mengantuk. Hingga sebelum dia menjawab, dia menguap terlebih dahulu dengan punggung tangan kiri menutup mulutnya.


"Mau ketemu Maya, Ma." Dina memang memanggil 'mama' pada Marina.


"Kamu ngantuk?"


"Iya, Ma." Dina lalu tanpa malu-malu menggandeng tangan Marina.


"Kenapa tak tidur?" tanya Marina sambil melangkah.


"Udah."


"Udah apa? Kamu masih mengantuk begini. Apa Ami melarang dirimu tidur?"


Dina terdiam. Tak mau menjawab.


"Ya, mending kamu tidur di kamar Maya saja," ucap Marina.


"Rencananya memang begitu Ma." Dina membiarkan Marina melewati pagar rumahnya lebih dulu.


Setelah Marina masuk, baru Dina menyusul. Mereka tak bicara sampai masuk ke dalam rumah.


"Kamu mau langsung tidur atau mau ngobrol dulu?" tanya Marina.


"Terserah Mama saja." Dina tak bisa memilih.


"Tidur saja sana, deh!" Marina menunjuk ke arah kamar Maya yang di depan pintu ada tulisan 'Kamar Maya'.


Kadang Dina suka iseng mengatakan 'Kamar Mayat' ke Maya. Jika mereka sedang bercanda dulu. Walhasil waktu itu Maya suka ngamuk ke Dina. Dulu, waktu mereka masih berusia remaja tanggung.


Dina terus saja masuk ke kamar Maya. Dia melihat di kamar Maya ada sedikit perubahan. Tak lagi warna pink cat dindingnya, kini warna putih bersih.


Terus juga Dina tak temukan gambar-gambar bernuansa animasi, kamar Maya jauh lebih polos.


Kasur Maya pun bukan lagi single bed, sudah double bed. Karena itu Dina lalu melangkahi tubuh Maya yang tidur seperti orang mati. Dia pun tidur di bagian terdalam.


Ruangan kamar Maya pun dingin dan sejuk, bukan lagi memakai kipas angin, tapi AC.


Dina pun menarik sedikit selimut Maya, hingga dia tak terlalu merasa kedinginan.


Maya yang tertidur lelap, sama sekali tak tahu jika selimut yang menutupi tubuhnya sudah berpindah sebagian ke tubuh Dina.


*

__ADS_1


"Berhenti!"


Abay yang saat itu sedang mengangkat batu emas sebesar bola bowling pun berhenti berjalan.


Mata Abay mengawasi si pria ular, yang saat ini tak sendiri. Ada gadis ular yang datang membawa keranjang yang ditutup kain dari kulit ular.


"Jatuhkan batu itu!" bentak si pria ular.


Abay tak membantah, dia lepaskan batu di tangannya. Beruntung tidak mengenai kakinya, karena batu emas tersebut langsung melesak ke dalam tanah. Kalau sampai menggelinding dan mengenai kaki Abay, wah bisa celaka dia.


"Ke sini, makan dulu!" Si pria ular mengambil keranjang dari tangan si gadis ular.


Gadis ular itu pun kembali pergi, membuat Abay kembali berdua saja dengan si pria ular.


Sementara itu Abay sudah mendekat.


"Duduk!"


Abay sama sekali tak mau membantah. Dia begitu penurut. Dia pun duduk di atas tanah.


"Makan ini dan habiskan, satu saja yang tersisa atau kamu muntahkan, ini akibatnya!" Ekor ular si pria ular menyambar ke arah batu emas besar sebesar kerbau.


Cambuk ekor ular itu menghantam batu emas besar itu dan membuatnya pecah berantakan.


"Keras mana tubuhmu dengan batu itu, heh!" ejek si pria ular.


"Nah, makan dan habiskan!"


Kain kulit ular yang menutupi keranjang makanan pun terbang terbuka, membuat Abay dapat melihat isi di dalam keranjang.


Abay hampir saja mau muntah. Tetapi dia cepat-cepat menelan kembali isi dalam perutnya yang hampir mau terlontar keluar tersebut.


Di dalam keranjang ada mangkuk besar dan juga mangkuk kecil berisi air berwarna kuning.


Bukan isi di dalam mangkuk kecil itu yang membuat Abay mau muntah, tapi isi di mangkuk besar.


Abay melihat di mangkuk besar itu berisi air kuah berwarna merah kekuningan. Lalu terdapat kecoa, kelabang dan kalajengking. Namun itu belum seberapa, karena Abay melihat ada pergelangan tangan manusia.


"Nah, kamu makan yang ini dulu!" Tangan si pria ular masuk ke dalam mangkuk besar dan mengaduk isinya.


Ketika tangan itu keluar, Abay melihat ada jantung manusia yang masih berdetak.


"Ayo, makan!"


Abay ingin menolak. Dia tak bisa dan tak kuat makan jantung manusia. Tetapi dia teringat akan cambuk ekor ular.


Sejenak Abay terdiam.

__ADS_1


"Cepat makan! Kamu kan sering mengambil jantung manusia untuk kamu jadikan tumbal buat Nyi Malini, ratu kami. Nah, sekarang kamu rasakan sendiri bagaimana lezatnya jantung manusia. Makan dan telan!"


Abay dengan gemetar mengangkat tangannya. Namun baru saja jarinya menyentuh daging jantung, dia jatuh pingsan.


*


Maya terbangun karena merasa sangat kedinginan. Saat dia melihat keadaan dirinya, pantas saja dia merasakan suhu dingin menyerang dirinya secara keterlaluan. Pasalnya selimut yang dia pakai, kini sudah tak ada.


Begitu Maya menengok ke sebelahnya, ke bagian kasur terdalam. Dia menjerit kaget, karena mendadak ada orang lain tidur di sampingnya dengan seluruh tubuh tertutup selimut.


Dina yang mengambil selimut Maya. Sebenarnya dia cukup kuat tidur dengan suhu kamar yang dingin. Namun masalahnya, dia belum tidur semalaman, jadi kekuatan tubuhnya berkurang banyak. Karena itu dia menutupi tubuhnya mulai dari kepala hingga ke kaki.


"Woi, siapa lu!" umpat Maya kasar, lalu menarik selimutnya.


"Ada apa sih May? Berisik amat!" Dina membuka matanya.


Saat itu Marina masuk ke dalam kamar. Tadi dia sedang melewati kamar Maya, mau ke dapur dan mendengar teriakkan pendek Maya.


"Maya ada apa?" tanya Marina.


"Eh, nggak ada apa-apa Ma. Tadi kaget aja, kok tahu-tahu selimutku tak ada dan ada orang tidur di sebelahku. Nyatanya Dina," jawab Maya.


"Kalau kalian sudah bangun, bagus. Lihat sudah mau jam 3 siang. Kalian kan belum makan siang," ucap Marina.


Maya dan Dina mengiyakan cepat.


Marina pun keluar dari dalam kamar Maya. Tinggal Maya dan Dina berdua saja di kamar.


"Maya, kamu punya pembalut bersih nggak? Kayaknya aku dapat, nih."


"Ada!" Maya turun dari kasurnya.


Dina juga ikut turun dari kasur. Sekilas dia melirik ke arah seprai kasur. Aman, tak ada noda.


Maya memberikan pembalut yang biasa dipakai setiap wanita yang sudah dewasa atau akil baligh. Masih ada sisi lima lembar.


Dina lalu bergegas ke luar dari dalam kamar Maya.


"Dina punya ganti celana nggak?" tanya Maya.


"Wah, iya. Ada di kamarku di rumah Oma Wati," sahut Dina.


"Tenang, aku punya yang baru. Baru aja dibeli dan aku kurang suka. Buat kamu aja, itu kalau muat!" Maya lalu membuka lemari bajunya dan memberikan ****** ***** baru ke Dina. Masih terbungkus plastik dan jumlahnya ada 6 lembar.


Dina pun mengambil celana itu dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi di rumah Maya.


Saat Dina membuka kamar, dia melihat sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2