ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 49


__ADS_3

Jam pulang sekolah.


Gadis remaja berseragam putih biru itu terlihat cantik, manis dan imut. Tinggi tubuhnya termasuk di atas rata-rata untuk anak seusia dirinya, lekuk tubuhnya sudah terlihat ramping. Rambut panjangnya di kuncir dua, terlihat lucu dan menarik dengan anak rambut yang dibiarkan terurai.


Gadis itu Dina adanya. Saat ini dia sedang berjalan pulang seorang diri, tak ada Maya karena berbeda sekolah, tetapi masih bertetangga. Dirinya belajar di SMP 3 Nasional, Maya ada di SMP 5 Bintang.


Saat ini Dina sedang berjalan ke arah sekolah Maya itu. Karena memang dia harus melewati sekolah Maya dulu, baru bisa bertemu jalan raya. Kemudian menyebrang jalan dan menempuh jarak kurang dari sekilo sampai ke rumah.


Keduanya memilih pulang pergi jalan kaki rumah ke sekolah.


"Maya," panggil Dina yang berhenti di depan gerobak pedagang cakwe.


"Kamu mau nggak Dina?" tanya Maya yang ditemani seorang gadis lain.


Maya sudah berbeda. Badannya yang dulu gemuk, kini menyusut dan menjadikan tubuhnya terlihat padat montok. Tetapi ya, dibanding Dina bisa dikata dia belum menang dari sisi kecantikan. Tetapi setiap anak manusia tentunya mempunyai daya tarik bagi lawan jenis mereka masing-masing, modal awal untuk menemukan cinta sejati bukan cinta sehari.


"Ditraktir, ya?" tanya Dina.


"Bukannya kebalik, nih?" Maya menatap Dina.


"Gue aja yang bayarin, mau kan?"


Dina menengok, dia melihat Suta berdiri sedikit di belakangnya. Suta pun sudah berubah, lebih tinggi dengan badan yang kurus, suaranya sudah pecah menandakan dirinya sudah bisa dianggap dewasa alias masa akil baligh nya telah datang, ada jakun di tenggorokannya yang mulai tumbuh.


Wajah Suta pun terbilang manis, namun sayang sudah mulai ditumbuhi jerawat, terutama di bagian kening. Kalau kumis tipisnya sih bagus, membuat dirinya tampak jantan.


"Oh, ada pacarnya Dina. Ya, udah... aku sekalian, ya?" goda Maya yang sudah menerima pesanan cakwe yang dimasukan ke dalam plastik putih dicampur saus.


"Aku juga ya, Suta?" tanya gadis di sebelah Suta memohon.


"Siap, berapa semuanya?" tanya Suta.

__ADS_1


"Aku sama Westi masing-masing lima ribu," jawab Maya sambil menunjuk ke Westi.


"Aku tak usah, ayo pulang!" Dina menarik tangan Maya.


"Maya, tunggu!" Westi mengejar Maya dan Dina.


Tertinggal Suta yang bengong, dia pun bergerak melangkah.


"Hei, Suta... bayar dulu sepuluh ribu!" panggil si pedagang cakwe.


"Mang Utun, di rumah aja ya nanti sore. Uangku sudah habis jajan di kantin pas jam istirahat tadi," jawab Suta meminta keringanan.


"Hahaha, ya sudah sana pergi! Untung gadis yang kamu sukai sudah pergi, coba kalau masih di sini dan menunggu kamu membayar, kamu mau bilang apa coba?" Utun si pedagang cakwe itu tertawa. Pria dewasa itu tetangga rumah Suta.


Suta nyengir kuda. Betul juga kata Utun, kalau Dina jadi minta beli dan menunggu dia membayar, bakal bilang apa ya? Masa iya, harus bicara hal yang sama dengan yang barusan dia ucapkan.


Bakal diejek, kecil-kecil jago hutang bisa-bisa gede jago ngemplang alias korupsi. Bisa berabe dan panjang urusannya.


"Eh, ke mana mereka? Masa iya punya ilmu menghilang? Atau mereka lari secepat kilat selembut angin? Ngomong apa sih, gue? Gini nih kalau kebanyakan nonton kartun berbau martial art. Dikit-dikit ngomongin ilmu jurus serangan ampuh dan andalan. Hmm, coba kalau gue punya ilmu bayang pelacak cecak." Suta berkata-kata dalam hatinya, tetapi langkah kakinya terus maju jalan ke depan.


Suta sempat berhenti sejenak di tepi jalan raya, di seberang jalan ada jalan masuk ke lingkungan perumahan yang tak perlu dijaga satpam kompleks, maupun dipasang portal jalan.


"Apa mereka sudah menyebrang jalan?" tanya Suta seorang diri. Lalu dia pun menyebrang untuk terus mengejar Dina, Maya dan Westi yang menghilang tiba-tiba.


"Kasihan Suta, kamu kerjain kayak gini! Ada dendam apa kamu sama dia, Dina?" Maya keluar dari persembunyiannya lebih dulu.


Kalau saja tadi Suta mau menengok ke belakang, mungkin dia bisa mendapatkan Dina bersama Maya dan Westi berjongkok ngumpet di balik meja lapak yang sedang liburan. Ditulis sih di gerobak pedagangnya kayak gini....


"Maaf, Bang Aji lagi liburan ke Bali. Mie Ayam tutup sehari."


"Maya, kamu percaya Bang Aji liburan ke Bali?" tanya Dina pada Maya. Dia belum terlalu kenal Westi, karena ini pertemuan pertama mereka.

__ADS_1


"Ya, percaya ajalah. Lagian, keuntungan Bang Aji bohong apa?" Maya balik bertanya, lalu dia tersadar kalau Dina belum menjawab pertanyaannya. "Eits, tahan dulu temanku yang cantik... pertanyaanku tadi belum dijawab loh."


"Aku tahu Bang Aji bohong," ucap Westi mendadak, membuat pertanyaan Maya tentang 'dendam' Dina pun batal dijawab lagi.


"Kok, bisa tahu. Oya, aku Dina." Dina pun perkenalkan dirinya. "Dina Nadita lengkapnya."


"Aku sudah tahu, Maya yang cerita. Aku Westi aja," jawab Westi.


"Ingat, pakai 'aja' ya!" canda Maya.


"Nggak pakai aja. Cukup Westi, doang." Westi menggeleng.


"Pasti bentar lagi berubah jadi Westi, titik." Dina ikut menggoda. Tetapi buru-buru dia menarik kedua temannya itu jongkok lagi.


"Ih, kalian mah begitu. Namaku itu Westi, Westi. Tak ada nama tambahan di belakang," bisik Westi yang masih membahas masalah namanya.


"Ngapain sih disuruh ngumpet lagi?" tanya Maya yang tak gubris ucapan Westi.


"Itu Suta datang lagi!" jawab Dina.


Dina benar, Suta kembali datang. Dia sudah berjalan sejauh kurang lebih seratus meter. Tetapi bayangan Dina dan yang lain tak terlihat. Dia pun memutuskan untuk balik badan ke arah sekolah, siapa tahu ketiga gadis itu sedang jajan di tempat yang lain.


Tetapi Suta tak menyebrang jalan, dia hanya berdiri diam di pinggir jalan menatap ke arah jalanan gang yang akan membawa dia kembali ke area sekolah.


"Ah, kayak nggak ada hari esok aja! Mending pulang, makan dan nonton lagi film kartun kemarin, lanjut ke episode 49. Lagi seru, desa mau diserang Naga Berapi Racun sama si Iblis Tujuh Pedang," lirih Suta, lalu dia balik badan dan melangkah pulang dengan cepat.


"Yuk, kita pulang!" ajak Dina yang mengintip dari celah terpal biru yang menutupi meja.


Kalau saja tak ada terpal biru, mungkin mata Suta sudah bisa melihat keberadaan Dina dan kawan-kawan.


Maya ikut berdiri setelah Dina lebih dulu berdiri. Tetapi tidak dengan Westi yang tak bangun dari jongkoknya.

__ADS_1


"Ayo, Westi... pulang! Katanya mau main ke...." Maya yang menengok ke belakang, tak bisa bicara lagi, karena matanya menatap sesuatu yang membuat wajahnya pucat pasi.


__ADS_2