ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 118


__ADS_3

Semalaman Dina tidak tidur. Karena itu dia merasakan kantuk yang teramat sangat.


Setelah ikut makan bersama dengan yang lainnya selepas mengantar jenazah Wati, Dina lalu berjalan menuju ke kamarnya. Kamar yang sudah 2 tahun dia tak tempati.


Begitu membuka kamar, Dina melihat tak ada satupun letak barang yang berubah. Bahkan terlihat tetap rapi dan wangi. Seperti dulu, dia menyukai kamarnya wangi bunga mawar.


Dina pun berjalan ke arah kasurnya yang ditutupi seprai kesukaannya dulu, motif mawar.


Dengan entengnya Dina meloncat ke atas kasur dan berbaring lurus. Matanya pun mulai terpejam.


Sementara itu Yuri yang ditinggal Dina, kini sedang duduk berdua dengan Suta.


Sedangkan Maya telah pulang untuk tidur istirahat, dia termasuk yang kurang tidur semalam. Sempat menemani Dina sampai jam 3 pagi, lalu harus terbangun di jam 5. Karena itu dia sangat lelah.


Ami yang lebih lama waktu tidurnya dari jam 2 pagi ke jam 6 itu, saat ini sedang menerima kedatangan guru dan teman sekolahnya.


"Terima kasih sudah mau datang ya, Yuri. Tetapi apa kamu tak merasa rugi, tidak masuk sekolah hari ini?" tanya Suta.


"Apa Bang Suta juga tak merasa rugi, bolos hari ini?" Yuri membalikkan pertanyaan Suta.


"Aku beda Yuri, meski Oma Wati bukan Nenek kandungku. Tetapi dia merupakan Nenek yang aku cintai, dia yang telah memberikan aku tempat tidur dan makan."


"Iya, memang beda. Tetapi tetap saja punya satu poin yang sama."


"Oya, apa poin itu?" Suta tertarik.


"Kesedihan. Bang Suta sedih, aku juga sedih," jawab Yuri tegas.


"Alasan kamu bisa sedih itu apa?"


"Aku sedih karena Bang Suta," jawab Yuri, lalu pipinya memerah.


Suta bukan pria yang tak mengerti akan perasaan lawan jenisnya. Apalagi tingkah laku Yuri di depannya, sudah sering dia lihat dari gadis yang lainnya.


Suta bukan playboy, dia juga bukan pria yang mempunyai wajah super ganteng, tetapi bukan berarti dia tak punya daya tarik.


Mungkin karena sifat Suta yang terkesan dingin itu, membuat tantangan bagi para gadis untuk bisa menancapkan bendera bergambar hati di puncak gunung dingin hati Suta.


Hingga akhirnya gunung es Suta mencair dan bisa deh menjadi kekasihnya.


Itu juga yang sedang diusahakan Yuri.


"Oya, aku kok mulai mengantuk, ya." Suta sebenarnya tak enak berkata seperti tadi.

__ADS_1


Tetapi Suta merasa sudah cukup baginya bicara dengan Yuri. Takut Yuri semakin jauh mencintai dirinya, karena dia tak punya rasa cinta sedikitpun pada gadis di depannya ini.


Rasa suka ada, siapa sih pria yang tak suka melihat gadis cantik?


Tetapi Suta tak memiliki rasa cinta dan kasih sayang buat Yuri.


"Oh, kalau begitu aku tunggu Bang Suta di rumah!" Yuri berdiri.


"LIhat nanti saja, ya!" Suta tersenyum.


"Ya, kalau Bang Suta tak mau datang ke rumah. Tak masalah deh, aku punya caraku sendiri untuk menganggap Bang Suta ada di dekatku!" Yuri balas tersenyum.


"Hei, cara apa itu?" Suta penasaran.


"Yang pasti ada sebuah benda yang telah Bang Suta sengaja berikan padaku!" Yuri lalu berbalik badan, dia sengaja tak menjelaskan benda apa yang diberikan Suta kepadanya.


Padahal Suta tak pernah memberikan benda apapun. Yuri hanya menemukan cincin batu hijau keputihan yang terjatuh dari badan Suta.


Sementara itu Suta pun tak mau mencari tahu benda apa yang sengaja dia berikan ke Yuri. Seingatnya, dia tak pernah memberikan benda apapun.


Memang Suta tahu, dia pernah meminjamkan cincinnya ke Yuri. Tetapi itu bukan memberi. Sekarang cincin itu sudah ada di tangannya. Sudah dikembalikan Yuri.


Suta yang hanya mengingat cincin sudah kembali ke tangannya itu, pun berjalan ke arah musholla. Dia ingin tidur di musholla sambil menunggu waktu Dzuhur datang, sekitar 2 jam lagi.


***


Ami mengantar guru dan teman sekolahnya yang beranjak pulang. Saat dia sampai di pagar rumah yang terbuka lebar, dia tak melihat adanya Suta.


Di bawah tenda yang dipasang di depan rumah Wati, masih ada beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang duduk, begitu juga ada anak remaja tanggung.


Di meja di bawah tenda juga masih terletak berbagai menu makanan. Masih sisa cukup banyak.


"Ami, makan dulu!" seru Marina yang masih bergabung.


"Aku sudah kenyang, Bu." Ami tersenyum.


"Sini, duduk dulu!" Andi menyuruh Ami bergabung.


Selain Andi, ada Dayat dan Marina istrinya. Lalu ada tiga bapak yang lain dan dua orang ibu.


Ami ikut duduk.


"Tadi gurumu datang ada bawa kabar apa?" tanya Andi.

__ADS_1


"Itu Pak RT, aku dapat bantuan biaya sekolah di luar biaya yang memang sudah gratis itu. Seperti nanti jika sekolah memutuskan untuk membuat acara perpisahan bagi murid yang sudah lulus sekolah. Sama aku dapat uang 300 ribu per bulan, selama masih sekolah," jelas Ami tak ditutupi.


"Sekolahmu baik juga, ya." Dayat ikut bersuara.


Ami tak menjawab.


"Terus gimana, apa rencana kamu untuk tetap bertahan hidup?" tanya Andi.


"Aku ada rencana mau sewakan kamar Pak. Buat bayar biaya rekening listrik dan lain-lain. Paling juga aku mau buka usaha dagang online, deh."


"Kalau memang kamu mau sewakan kamar, cari saja yang wanita ya," ucap Andi.


"Rencananya memang begitu Pak. Tetapi lihat nanti saja, kalau memang dari usaha online ku itu cukup untuk biaya hidup, ya kamar tak akan aku sewakan," sahut Ami.


"Kamu mau buka usaha apa?" tanya Marina ibunya Maya.


"Mungkin jual barang atau makanan. Masih dipikirkan Bu. Yang pasti tidak menggangu sekolahku," tegas Ami.


"Kami siap bantu!" Dayat ikut bersuara lagi.


"Terima kasih ya Pak, Bu. Aku masuk ke dalam dulu. Mau tidur sejenak," ucap Ami.


"Oya, boleh. Tapi tunggu dulu! Apa kamu dapat kabar dari Papa Abay-mu? Di mana dia, kenapa tak terlihat sejak kemarin?" tanya Andi.


"Aku tak dapat kabar Pak. Entah, Papa Abay itu menghilang ke mana," jawab Ami sedih.


***


Dina terbangun dengan rasa kaget setengah mati. Karena bukan hanya telinganya saja yang terasa sakit, tetapi juga kakinya.


Begitu Dina membuka mata, dia melihat Ami berdiri dengan sebatang sapu lidi di tangan kanan.


Dina yakin, sapu lidi itu yang membuat kakinya sakit. Teganya Ami.


"Bangun lu! Enak amat ya lu, datang-datang udah tidur aja di kamar yang setiap hari Oma bersihin."


"Aku ngantuk Kak Ami. Semalam aku tak tidur," jawab Dina.


"Kalau lu mau tidur, jangan di kamar ini! Tidur aja di lantai di ruang tamu. Kamar ini mau gue sewain!"


"Tapi...."


"Nggak ada kata tapi, keluar lu!" Wajah Ami mengeras dan telunjuknya mengarah ke pintu.

__ADS_1


__ADS_2