ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 83


__ADS_3

Sasan tak kembali ke tambak tempat dia bekerja. Karena dia membawa Dina ke rumah Nini Ai yang berbeda. Rumah yang lebih dekat dengan keramaian dan gedung sekolah SMP.


Nini Ai telah melakukan suatu perencanaan matang. Dia tak sekedar mengajak Dina ikut dengannya dan belajar suatu ilmu yang berbeda dari ilmu sekolah. Namun begitu, mengingat Dina masih dalam usia sekolah, dia sudah daftarkan Dina sebagai murid baru di SMP Nusa Indah.


Yang mengherankan bagi Dina, surat pindah dari sekolah lamanya telah berada di tangan Nini Ai.


"Kamu tak perlu takut dan kuatir tak bisa lanjutkan sekolah. Besok, kamu bisa mulai sekolah di tempat yang baru. Sekalian kamu serahkan berkas ini ke pihak sekolah." Nini Ai menunjuk map merah di atas meja.


Dina ditemani Sasan sudah berada di ruang tamu rumah Nini Ai. Ruang tamu kecil, di rumah Nini Ai yang sangat sederhana. Hanya ada dua kamar, di mana Dina dan Nini Ai akan tidur sekamar. Kamar tersisa, untuk Sasan.


"Kalian baru saja sampai. Terserah apa mau istirahat terlebih dahulu atau kalian ingin bicara empat mata. Aku ada urusan lain. Sampai bertemu lagi!" Nini Ai terus berdiri dan berjalan keluar rumah.


Sasan tak bertanya maupun menahan Nini Ai. Lebih-lebih Dina yang terbilang masih asing dengan Nini Ai.


"Bapak, Nini Ai...."


"Dia orang baik. Kamu jangan takut ya, Dina." Sasan menyela, tak menunggu Dina selesaikan ucapannya.


"Bukan itu, cuma kok bisa berkas surat pindah sekolahku sudah ada di tangan Nini Ai?" tanya Dina.


"Oh, kalau masalah itu... Bapak juga tak tahu!" Sasan merasa malu, karena tadi dia menyangka salah.


"Aku jadi semangat belajar sama Nini Ai," ucap Dina.


"Ya, nanti kamu bakal jadi orang sakti!" Sasan berseru senang dan tersenyum.


"Ih, bukan untuk jadi orang sakti, Pak. Tapi aku mau belajar jadi orang yang bermanfaat," jawab Dina membantah Sasan.


"Betul, Bapak setuju. Berapa banyak orang pintar, tetapi apa bisa memberi manfaat untuk orang banyak? Yang ada malah... ada saja kejahatan yang dilakukan. Tak semua sih. Cuma ya namanya manusia, selalu saja ada tingkah dan salahnya," ucap Sasan.


"Ya, Pak. Kesalahan itu pasti ada. Masalahnya apa kita harus terbenam dalam kesalahan atau coba merubah kesalahan itu menjadi kebenaran, cuma ya terkadang kebenaran itu tergantung nafsu sendiri." Dina menatap Sasan dengan sorot aneh.


"Seperti Bapak, dulu salah meninggalkan dirimu. Tetapi kini Bapak sudah bertemu kamu," jawab Sasan.


"Pak, ceritakan padaku... kenapa Bapak tinggalkan Ibu? Terus bagaimana nasib Ibu saat ini? Aku ingin bertemu dia!" tanya dan pinta Dina.


Tadi selama perjalanan pergi ke rumah Nini Ai, Sasan selalu menolak bercerita masa lalu yang kelam. Alasannya karena berada di kendaraan umum, tak enak mengganggu telinga penumpang lain.

__ADS_1


Sekarang mereka berdua berada di rumah Nini Ai. Kebetulan pula hanya mereka yang ada di rumah, Nini Ai baru saja pergi.


"Seperti yang kamu bilang, Bapak melakukan kesalahan sekaligus pembenaran berdasarkan nafsu kepentingan pribadi." Sasan mengeluh pelan.


"Bapak tergoda pada wanita lain. Oh, salah... Bapak jujur saja, dulu itu mempunyai tabiat jelek. Seperti burung nemplok sana, pindah sini. Endah, Ibumu itu salah satu wanita yang menjadi korban Bapak. Saat Bapak tahu, dirinya sudah hamil. Bapak bukannya bertanggung jawab, tapi melarikan diri," jelas Sasan.


"Apa Bapak pergi seorang diri atau sama wanita lainnya lagi?" tanya Dina.


"Bersama seorang wanita lain. Ya, Bapak yang takut akan amarah warga kampung, terus saja kabur bersama wanita itu. Sayangnya, balasan atas ulah Bapak itu pun datang. Wanita itu lari bersama pria lain. Oya, tentang Ibumu...." Sasan merasa cukup untuk bercerita tentang Lala si wanita lain itu.


Sayang, Sasan tak melanjutkan cerita tentang Lala dan Suta. Sebab dia merasa bagian hidupnya itu tak perlu diketahui Dina. Kesalahan yang berakibat fatal nantinya.


"Bagaimana tentang Ibu?" tanya Dina cepat.


"Ibumu telah pergi jauh dan tak akan bisa kembali lagi," jawab Sasan sedih.


"Oh, apa Ibu meninggal karena sakit?" tanya Dina yang harus memendam kecewa, tak bisa melihat sekali pun wajah ibunya, meski hanya sesaat.


"Tidak. Menurut Mang Ipoy tetua di kampung, Ibumu itu meninggal dunia karena serangan manusia ular. Dengan kata lain, ada serangan dari jin," jelas Sasan.


"Kamu rindu pada Papa Abay-mu?" tanya Sasan.


Dina menggeleng.


"Lalu buat apa kamu panggil Papa Abay?" tanya Sasan mau tahu.


Dina tak menjawab.


"Ah, iya... Bapak ingat akan isi surat Nini Ai... tentang Abay, Ayah tirimu itu... apa arti dari surat itu? Apa kamu tahu?" tanya Sasan.


"Aku takut salah menjawab Pak. Nanti saja tanya ke Nini Ai," ucap Dina, lalu berdiri.


Dina ingin istirahat. Bukan karena lelah di perjalanan, tetapi karena hatinya sedang dilanda rasa sedih dan kecewa. Jika Endah ibunya itu meninggal dikarenakan manusia ular, berarti Abay ikut campur di dalamnya. Ibu yang membuatnya menjadi lemas. Setega itu Abay mengorbankan jiwa Endah.


"Kamu mau ke mana?" tanya Sasan.


"Aku mau tidur dulu, Pak. Ngantuk!"

__ADS_1


Selepas bicara, Dina terus berjalan dengan langkah limbung. Hatinya terluka dan dia tak tahu, apa yang harus dia lakukan saat bertemu Abay nanti. Timbul peperangan di dalam hatinya dan menjadi dua pihak bertentangan.


Kubu pertama di dalam hati Dina mengatakan biarkan saja Abay terus bersekutu dengan manusia ular, sampai nanti Abay akan menerima balasannya.


Namun kubu yang kedua di hati Dina berkata, Abay harus diselamatkan dari jeratan manusia ular. Setiap manusia memiliki hak untuk bertobat, ditambah selama ini Abay bersikap baik. Jika memang dia punya kesempatan dan diberikan kemampuan menarik Abay dari lubang perangkap manusia ular, maka dia harus menolong. Atas nama kemanusiaan.


Dina belum bisa memutuskan ikut kubu yang mana.


*


"Oma aneh, ih!" sembur Ami begitu sampai di rumah setelah bertemu Suta.


Ami merasa heran atas keputusan Wati yang mengajak Suta tinggal bersama mereka. Udah begitu, Wati mengangkat Suta sebagai cucunya.


"Aneh kenapa?" tanya Wati heran.


"Ngapain juga ajak Suta tinggal di rumah ini? Dia kan orang lain, Oma! Tak punya hubungan darah dengan kita, sama seperti Dina!" seru Ami


"Dina itu cucu Oma!' bentak Wati.


"Ok, baiklah. Tapi Suta apa coba?" tanya Ami lagi.


"Kamu kan sudah dengar tadi, Oma akan anggap Suta sebagai cucu Oma juga. Lagian di rumah ini hanya ada kamu dan Oma yang keduanya sama-sama perempuan. Adanya Suta, berarti ada seorang pria di rumah ini," jelas Wati.


"Tapi apa Oma tak kuatir Suta akan... akan...."


"Akan apa?" tanya Wati tak sabar menunggu ucapan Ami.


"Menggodaku, Oma. Kan aku gadis yang cantik." Ami bersemu merah pipinya.


"Bukannya kebalik? Kamu yang akan goda Suta?" tanya Wati.


"Idih, Oma nuduh aku genit ya? Aku...."


"Sudah, asal kamu ingat Suta itu sebagai adik angkatmu karena usianya dibawah kamu, itu cukup. Lagipula tenaga Suta akan cukup membantu di rumah ini." Wati telah ambil keputusan dan dia tak mau dibantah.


Ami pun meninggalkan Wati yang menelepon seseorang. Entah siapa yang ditelepon Wati.

__ADS_1


__ADS_2