ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 72


__ADS_3

Hari berlalu.


Ami telah sembuh dari sakitnya, dia pun sudah menjalani lagi kehidupan normalnya. Pergi sekolah dan berhubungan dengan teman-temannya, hanya saja tak bisa bertemu dengan Adul.


Tetapi untuk sementara, kita tinggalkan dulu Ami yang akan mengetahui apa yang terjadi pada Adul.


Siang itu Abay sedang naik sepeda motornya, seperti biasanya dia berjalan-jalan mencari mangsa. Bukan untuk Nyi Malini, tetapi untuk dirinya sendiri.


Abay sejatinya tak merasa lelah tubuhnya, tetapi bukan berarti pantang baginya untuk pergi ke panti pijat. Sejak dari rumah rahasianya, dia memang sudah ada niat dan tujuan pergi ke panti pijat langganannya.


Tetapi saat Abay baru parkir motor di depan ruko panti pijat, dia seperti melihat ada seorang pria berjalan kaki dengan wajah yang kuyu dan lesu.


"Loh, itu bukannya Igor?" tanya Abay pada dirinya sendiri.


Lalu Abay melangkah mendekati Igor.


"Kang Abay mau ke mana?" tanya dan panggil wanita berusia tiga puluhan yang bertubuh pendek dan montok.


"Mau ketemu teman dulu!" jawab Abay pada si wanita. "Tunggu aja, sebentar lagi aku bakal kasih kamu uang!"


"Yang banyak ya Kang, biar mijit juga enak!" tawa si wanita itu lepas.


Abay tak mendengar, karena dia saat ini berdiri menghadang perjalanan Igor.


"Igor, kamu mau ke mana?" sapa Abay.


Igor yang berjalan sedikit menunduk, mengangkat kepalanya. Matanya menatap Abay lama dan tajam.


"Kenapa sama dia? Wajahnya terlihat seperti keruh dan kusam, terus tatapan matanya kayak orang benci. Jangan-jangan...." lirih hati Abay.


"Kembalikan istriku! Kembalikan!" Igor gerakan tangannya mencengkram kedua bahu Abay.


"Lepaskan!" bentak Abay.


"Kembalikan istriku! Kembalikan!" teriak Igor sambil guncang-guncang tubuh Abay.


Abay berteriak gusar, lalu dia gerakan dengkulnya menendang bagian paha samping Igor di dekat lutut.


Igor mengaduh, dia jatuh terduduk dan otomatis cekalannya di bahu Abay terlepas. Tetapi dengan cepat dia bangun dan meninju Abay.


Abay dalam posisi tak siap, dia pun terkena dihajar Igor tepat di rahang kiri.

__ADS_1


Begitu Abay terjungkal, ada banyak orang berteriak. Igor juga berteriak, tetapi nadanya berbeda dengan yang lain.


"Istriku mati dimakan ular! Oh, istriku kembalilah!" Igor menangis, lalu berlari pergi meninggalkan Abay.


"Wah, orang gila!" teriak satu orang.


"Bukan, masih stress dia tuh," bantah yang lain.


"Untung tadi kita nggak jadi gebukin dia. Kalau nggak kan berabe, masa iya kita yang normal mesti keroyok orang gila," ucap yang lain.


"Kang Abay baik-baik saja kan?" tanya si wanita yang tadi menggoda Abay.


"Iya, tak apa-apa!" Abay lepaskan tangan si wanita. Lalu dia berdiri menatap pada lima orang pria yang tadi datang memburu.


"Pipinya merah tuh, Kang!" celetuk pria berbadan besar.


"Ya, namanya juga kena pukul. Tapi di sini aku mau ucapan terima kasih pada semuanya, yang sudah mau peduli padaku dan lepaskan orang tadi." Abay menujuk pada Igor yang saat itu sedang berdiri bengong di jarak tiga puluh meter.


"Kang Abay kenal padanya?" tanya pria berkumis lebat.


"Dia temanku, sepertinya belum siap ditinggal mati istrinya yang kena dipatuk ular," jawab Abay cepat, karena tadi dia mendengar sendiri ucapan Igor tentang ular.


Abay paham, Nyi Malini sudah minta tumbal pada Igor, yang diminta itu istrinya Igor.


Abay lalu keluarkan uang dan membagi pada banyak orang. Kurang lebih sepuluh telapak tangan diberikan uang olehnya. Dia pun batal mampir ke panti pijat langganannya.


Saat Abay pergi dan mengambil arah di mana Igor pergi, dia tak temukan keberadaan Igor.


*


Ketika Abay berselisih dengan Igor, hal yang sama terjadi pada Ami dan Adul.


Dengan alasan masih sakit di perutnya dan obat yang diminum tertinggal di rumah, Ami ijin pulang dari sekolah.


Tetapi Ami tak pulang, dia menunggu di warung bakso dekat sekolah Adul. Dia mau menunggu pacarnya itu pulang sekolah.


Sayangnya, usaha menuggu hampir tiga jam harus sia-sia. Bukan tatapan mesra yang diterima Ami, tapi pandangan takut Adul.


"Bang Adul kenapa?" tanya Ami yang mengajak Adul berhenti di bawah pohon besar, di dekat sekolah Adul.


"Kenapa apa?" tanya balik Adul tawar.

__ADS_1


"Kok, kayak nggak suka aku ada di sini?" Ami bisa bicara sopan pada Adul.


"Aku suka, tapi...." Adul menahan ucapannya.


"Tapi kenapa Bang?" tanya Ami dengan mata berkaca-kaca.


"Papanya Dina benar, kita masih kecil untuk belajar kenal cinta. Gimana kalau kita berteman akrab dan setelah kita pegang KTP, baru pacaran. Setuju kan?"


"Papanya Dina melarang Bang Adul bertemu aku, ya?" Mata Ami yang tadinya berkaca-kaca mendadak berubah, menjadi sinar yang tajam dan benci.


"Bukan melarang, hanya memberi nasihat!" seru Adul yang sadar, dia telah kelepasan bicara.


"Tahan dulu!"


Ami mencoba mengingat-ingat. Waktu dia pulang dari rumah sakit akibat kecelakaan kecil kemarin itu, dia mendengar sekilas Abay dan Adul berbicara. Terutama di bagian teriakan mereka berdua.


Waktu itu Ami tak terlalu berpikir banyak tentang apa yang terjadi pada Abay dan Adul. Tetapi sekarang, dia bisa menebak sedikit. Adul dilarang Abay menemui dirinya. Seingatnya, sejak sakit sepuluh hari yang lalu itu, Adul sudah sulit dihubungi.


"Aku pulang dulu ya, Ami. Perutku lapar," ucap Adul.


"Bang!" Ami cepat pegang tangan Adul. "Papanya Dina boleh saja melarang Bang Adul, tapi bukan berarti Bang Adul pergi dariku. Kita bisa pacaran diam-diam."


Adul menggeleng.


"Kenapa Bang?" tanya Ami heran.


"Aku tak biasa berbohong, Ami. Karena itu aku putuskan, setelah kamu dewasa nanti... baru akan mendekati dirimu lagi. Saat ini, kamu fokus belajar dulu!"


"Oh, jadi Bang Adul mau putus sama aku?" tanya Ami dengan dada terasa sesak.


"Bukan putus, tapi menggantungkan hubungan. Kamu tetap pacarku, hanya saja bukan untuk sering bertemu. Anggap saja, jodoh kita nanti akan bersatu di saat kita sudah sama-sama dewasa nanti," jawab Adul.


"Bohong, mana bisa Bang Adul menunggu! Aku percaya Bang Adul sudah punya yang baru," tuduh Ami.


"Aku harus pulang ya, Mi. Tak enak, kita sudah jadi pusat perhatian." Adul berbisik pada Ami.


"Biarin aja!" teriak Ami. "Biar semua orang tahu, Bang Adul itu cowok pengecut, penakut. Playboy cap karet. Sudah ada yang baru, lupa yang lama."


Adul kaget setengah mati. Tak menyangka Ami bakal berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Udah gitu, main ejek dan menuduh sembarangan.


"Terserah kamu, yang pasti aku cinta kamu dan belum ada yang baru. Aku akan tunggu kamu setelah kamu lepas sekolah SMU!" Adul tak lagi pedulikan Ami, dia berlaku dengan cepat. Kepalanya menunduk sesaat karena malu, tapi tak lama dia angkat kepalanya karena dia merasa tak salah.

__ADS_1


Ami tadinya mau mengejar Adul. Tetapi mendengar pernyataan Adul tentang menunggu sampai dia dewasa, setidaknya hati panasnya sedikit menurun tensinya. Tetapi belum benar-benar padam gunung berapi di dalam hatinya.


"Gue harus ngomong ke Dina!"


__ADS_2