ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 61


__ADS_3

Suta ditemani Adul serta Milo yang menyusul datang, telah berada di rumah Dina. Meski kehadiran mereka tak begitu dianggap, namun mereka bertiga tetap datang. Kabar dari Maya yang memberitahu kematian kakeknya Dina yang membuat mereka bertiga berkumpul.


Suta dan Milo di waktu SD dulu, cukup akrab dengan Dina. Rumah mereka pun tak terlalu jauh dari rumah Dina, jadi kalau tak hadir melayat, rasanya akan malu pada Dina.


Sayang seribu sayang, Suta tak memberi kabar pada Lala. Kalau saja dia membisikkan berita duka cita kematian Sanusi, kakeknya Dina pada ibunya, akan terjadi pertemuan yang membuat kisah masa depan Suta tak terlalu suram.


Di rumah duka, juga sudah hadir Abay yang datang untuk menghormati jenazah Sanusi. Dia sekedar menangis tanpa ikut membaca Yasin, seperti yang dilakukan Dina dan Ami.


"Kamu tadi lihat tidak, Oom-Oom yang peluk Dina tadi?" bisik Milo pada Suta, ketika mereka berdua keluar dari rumah Dina.


Mereka berdua ditemani Adul sempat membaca Yasin satu kali di dekat mayat Sanusi.


"Yang datang-datang langsung keluar air mata itu?" tanya Suta.


"Iya, betul. Tadi sore aku sepertinya lihat itu Oom waktu ketemu Bang Randi di pinggir lapangan futsal," jelas Milo.


Suta dan Milo sudah sampai di luar rumah, mereka mengambil duduk di luar tenda biru yang didirikan di depan rumah Sanusi. Karena kursi plastik lebih banyak, jadi tak semua kursi bisa berada di bawah tenda biru.


Adul ikut duduk, tetapi dia seperti orang yang sedang berpikir. Matanya pun menatap ke arah rumah duka.


"Terus kenapa kalau pernah lihat itu Oom?" tanya Suta setelah duduk pada Milo.


"Setahuku Oom itu kan pacar Mamanya Bang Randi. Kalau Oom tadi Papanya Dina, berarti nanti Bang Randi sama Dina saudaraan, dong."


"Ya, nggak masalah kan?" tanya Suta.


"Memang sih tak masalah, tapi gue takut bakal ada yang nangis tiap hari!" Milo tersenyum.


"Maksud lo?" Suta terlihat bingung.


"Kalau Papanya Dina sama Mamanya Bang Randi sampai nikah, Dina kan ikut tinggal di rumah Bang Randi, tuh. Terus rumah gue pas hadap-hadapan sama rumah Bang Randi. Artinya, gue nggak perlu kirim pesan buat apel malam minggu ke Dina. Tinggal lompat kodok, nyampe deh!" Milo tersenyum.


"Beuh, kayak Dina mau aja sama lo! Lagian kita masih kecil, belum lewat usia tujuh belas tahun. Mana boleh pacaran!" tegur Suta.

__ADS_1


"Itu kan lo, kalau gue sih...." Milo tersenyum lagi.


"Seriusan, lo dikasih ijin pacaran sama ortu lo, gitu?" tanya Suta dengan wajah iri.


Soalnya Suta mana boleh pacaran dulu sama kedua orang tuanya, yang diijinkan itu berteman boleh berpacaran no way. Sampai nanti setelah dapat kerja, baru diperbolehkan punya kekasih hati.


"Siapa yang bilang? Bisa digantung gue sama Bokap dan dikutuk Nyokap. Mereka suruh gue fokus sekolah dan kejar cita-cita. Gue kan mau jadi CEO gitu, punya gedung kantor sendiri, rumah besar kayak istana, mobil banyak dan minimal istri empat." Milo acungkan lima jarinya.


"Itu lima bukan empat," ralat Suta.


"Ya, nambah satu boleh, kan!" Milo ketawa.


"Ah, cita-cita lo kelewat tinggi. Mending gue, cita-cita bisa...."


"Suta, lo kenal nggak sama cewek cantik yang duduk di sebelah Dina tadi?" celetuk Adul yang membuat suara Suta terputus.


Padahal tadi Suta mau bilang cita-citanya mau jadi orang yang beruntung sedunia. Kan orang beruntung itu bakal aman sentosa di dunia, bisa jadi tak perlu kerja keras eh masih bisa makan enak.


"Gue kok jadi bingung, pilih Dina apa Ami, ya?" tanya Adul.


Suta tak menjawab, tetapi dia langsung berdiri.


"Eh, mau ngapain lo?" tanya Milo.


"Pulang, ah. Soalnya bosan gue, daritadi ngomongin cewek terus. Kan gue nggak mau kena virus cinta monyet, lebih baik kena virus matematika atau bahasa Inggris, jadi bisa cas cis cus lancar. Kayak gini...." Suta menarik napas panjang lebih dulu.


"Hello, my name Suta... my student is my job. I am not clever brain, but handsome eleven twelve like my father," ucap Suta lancar, tapi salah besar.


"Lo ngomong apa? Salah, tuh!" seru Adul yang lebih paham dari Suta.


"Biarin aja deh. Kan not clever brain. Udah, ah! Mending pulang dan belajar, yang penting udah nongolin muka dan ikut berdoa." Suta terus saja memutar tubuhnya untuk pulang ke rumah.


Adul meski tak rela pulang cepat, tetapi dia juga tak mau ditinggal. Karena Milo juga ikut pulang, apalagi mereka bertiga naik motor Milo.

__ADS_1


Di dalam rumah.


Abay berbicara berdua dengan Wati di meja makan.


"Bu, Bapak meninggalnya kenapa?" tanya Abay dengan suara pelan. "Apa sakit?"


"Tidak, Bapak meninggal wajar setelah selesai maghrib, pas berdoa," jelas Wati.


Abay termenung, karena mendadak dia teringat matinya suatu hari nanti. Jika ingin kematian seperti Sanusi sepertinya akan berat dan sulit, kecuali dia mau bertobat dan cepat-cepat putuskan hubungan dengan Nyi Malini.


Tetapi meski begitu, Abay juga tak yakin setelah bertobat dia akan diberikan jalan kematian layaknya Sanusi.


"Sekarang Ibu sudah tak punya kepala rumah tangga lagi. Kematian Bapak, membuat Ibu harus merangkap jabatan. Kecuali kamu mau tinggal di sini. Tapi masalahnya, kamar sudah tak ada," ucap Wati sedih.


"Ibu tenang saja, aku akan berikan lebih banyak uang buat bulanan."


"Bukan itu yang Ibu mau, tetapi adanya seorang pria dewasa di rumah ini. Ami dan Dina beranjak besar, tantangan Ibu mengasuh mereka akan jauh lebih berat jika seorang diri."


"Begini saja, Bu. Aku akan sering-sering ke mari. Mungkin sesekali tidur di depan layar televisi bisa aku lakukan. Hanya saja untuk tinggal di sini, aku tak bisa Bu."


"Ibu tak bisa paksa kamu. Kalau pun kamu memutuskan untuk menetap di sini, agak repot juga. Karena mau tak mau satu kamar harus diberikan padamu. Ami dan Dina sudah remaja dan jadi anak perawan, tentunya mereka butuh kamar masing-masing. Kalau mereka satu kamar, Ibu takut akan terjadi masalah."


"Apa Dina dan Ami tak rukun, Bu?" Kening Abay berkerut, matanya menyorot curiga.


Wati menggeleng. Dia tak ingin Abay tahu kalau Ami suka menjelekan Dina. Kalau Abay marah, kasihan Ami. Bisa jadi saking berdukanya Ami, dia akan menjadi nekat dan kabur dari rumah.


Sisi lain, saat ini pun waktu yang tak tepat. Masa di mana tumpahnya air mata ke bumi dan naiknya ucapan doa ke langit.


"Syukurlah kalau kedua anak perawan itu bisa rukun. Kasihan mereka, sama-sama sudah tak punya Ibu lagi," ucap Abay.


"Eh, apa Poppy meninggal dunia?" tanya Wati kaget. Beruntung suaranya tak terlalu kencang, hingga Ami tak mendengar.


Abay gelagapan, untuk sesaat dia terdiam karena telah salah bicara.

__ADS_1


__ADS_2