
Abay dan Dina tersedot untuk masuk ke dalam lorong cahaya putih, tempat pertama Dina datang.
Jika Dina tenang saja meski badannya harus jungkir balik di udara, beda dengan Abay yang menjadi pengalaman pertama dan terakhir.
Hingga mendadak.
"Tolong!"
Abay terduduk dari tidurnya. Pertama kali yang dia lihat itu lampu gantung ruang tamunya. Lalu kursi ruang tamu dan dia mengendus ada bau wangi lembut khas perawan.
Abay menengok dan mendapati Dina yang pupil matanya bergerak-gerak dalam keadaan tertutup. Tetapi anehnya tak terlihat adanya Nini Ai.
Seharusnya ada Nini Ai, tetapi mendadak saja dia menghilang. Karena Abay tidak tahu, jika ada Nini Ai bersama Dina, jadi dia lebih fokus pada Dina.
"Dina, bangun anakku!"
Dina perlahan membuka matanya, saat matanya menatap Abay, dia menjerit kecil. Tetapi dia cepat menengok ke arah Nini Ai. Sayang tak ada.
"Nini Ai. Nini...." Dina memanggil kencang.
"Nini Ai tak ada di sini. Tapi kamu kenapa bisa ada di sini? Darimana kamu tahu rumah Papa ini? Terus, Papa ingat... ada banyak ular di sini ? Mana? Mana ular itu!" tanya Abay.
Dina tak menjawab, karena dia masih ingin mencari Nini Ai. Mungkin ada di dapur.
Tanpa bicara pada Abay, Dina bangkit berdiri dan melangkah ke arah dalam rumah.
"Nini... Nini Ai," panggil Dina.
Abay tak marah meski pertanyaannya tak dijawab Dina. Dia pun bergegas masuk ke dalam kamarnya, ke arah brangkas.
Setelah membuka pintu kamar, Abay berlari ke arah sudut kamar, di sebelah lemari pakaian ada besi brankas. Ke sanalah dia pergi. Namun saat dia melintas di cermin yang terpasang di pintu lemari pakaian, dia menengok dan langkahnya terhenti.
Abay berdiri tertegun di depan kaca menatap wajahnya, terutama pada kedua pipinya. Di pipinya itu terlihat kulit kasar bertumpuk seperti sisik ular, ada sekitar sembilan sisik di masing-masing pipinya, warna hitam.
Begitu juga di leher di sebelah kanan-kiri di bawah rahang. Ada kulit kasar yang sama, sisik hitam.
"Oh, kenapa ini?" Abay mencoba mencabut satu kulit kasarnya yang bertumpuk itu. Tumpukan paling atas, tetapi tak bisa.
"Sudahlah, aku punya uang. Biar nanti aku operasi plastik saja!" seru Abay.
Lalu Abay lalu teringat akan koper besarnya, koper untuk membawa uang. Dia membuka salah satu pintu lemari yang seharusnya ditaruh baju gantung. Tetapi di dalamnya hanya ada tas koper dorong ukuran yang lumayan besar.
Setelah mengambil koper, Abay sudah berjongkok di depan brankas. Model brankasnya tombol angka dari 0-9.
__ADS_1
Jari Abay menekan 074647, lalu menekan tombol dengan bulatan warna hijau. Terdengar suara engsel kunci terlepas.
Abay melihat ke dalam brankas, bertumpuk uang, lalu ada plastik bening berisi buku tabungan dan tiga kotak yang isinya perhiasan.
Kotak perhiasan dan plastik bening terlebih dahulu yang Abay ambil, lalu dimasukan ke dalam koper. Namun karena koper belum dibuka, Abay meletakkan dulu kotak perhiasan dan plastik bening buku tabungan ke lantai.
Suara Dina masih terdengar memanggil, tapi kali ini dia menyebut nama Abay.
"Papa Abay."
"Di kamar." Abay balas berteriak sambil membuka resleting koper.
Bertepatan dengan Dina masuk ke dalam kamar, koper pun terbuka. Abay masukan kotak perhiasan dan plastik bening buku tabungan ke dalam koper.
"Papa sedang apa?" tanya Dina. Matanya melihat Abay sedang keluarkan uang yang banyak.
Uang itu dilempar begitu saja oleh Abay ke dalam koper.
"Papa, cepat kita keluar dari sini. Perasaanku tak enak!" ajak Dina yang merasakan getaran halus di bawah telapak kakinya.
"Tunggu dulu, uang masih banyak. Papa berniat pergi dari sini," ucap Abay menolak.
Suara gemuruh mendadak muncul. Getaran yang membuat lantai dan tembok bergerak.
Dina kaget, Abay bengong sesaat
Abay yang baru sekali mengambil uang itu, lalu meraup lagi sebanyak tiga kali, baru dia terburu-buru menutup koper.
Abay mengerti jiwanya telah kembali pulang dari istana Nyi Malini. Karena itu dia tak mau jiwanya harus pulang ke asalnya saat ini. seperti Santi, Poppy dan Nini Ai yang lebih dulu telah pergi.
Dengan mendorong kopernya yang sudah tertutup, Abay berlari di belakang Dina. Berapa jumlah uang yang berhasil dia bawa, dia tak tahu. Yang pasti di dalam brankas masih lebih banyak lagi nilainya. Namun dibanding buku rekening, masih menang jumlah uang yang disimpan di bank.
Dina tak menyuruh Abay berhenti berlari. Beruntung saat ini sedang maghrib. Banyak orang tinggal di dalam rumah. Sementara jalanan pun sepi, karena bukan jalan utama dan juga bukan jalan favorit.
Di belakang Dina dan Abay yang sekarang berjalan cepat itu, jalanan menuju kuburan. Hingga keberadaan Keduanya tak terlalu dicurigai orang. Padahal saat itu sudah ada beberapa tetangga yang keluar dari rumah, karena mendengar suara gemuruh.
Lagipula Abay berjalan menunduk, hingga tak begitu dikenal banyak orang, ditambah badannya agak lebih kurus dari sebelumnya.
Dina dan Abay sempat mendengar teriakkan beberapa orang yang kaget, karena melihat rumah Abay runtuh, rata dengan tanah.
"Rumah Pak Abay runtuh."
"Orangnya ada di rumah apa tidak?"
__ADS_1
"Tak tahu, udah beberapa hari tak terlihat."
"Pak Abay kan jarang di rumah."
"Ini gimana? Kita coba lihat atau tidak?
"Tunggu Pak RT datang."
"Udah dikasih tahu belum Pak RT nya?"
"Itu sedang ditelepon!"
"Kasihan Pak Abay, dia kan orang baik.*
suara-suara itu terdengar jelas oleh telinga Dina yang jaraknya sebenarnya sudah lumayan jauh, sekitar 30-40 meter. Dina saja sampai heran, telinganya mendesak tajam.
Abay masih terus berjalan dengan kepala tertunduk.
"Papa," panggil Dina sambil terus berjalan.
Abay diam saja.
"Papa," panggil Dina sekali lagi.
Abay mengangkat kepala sedikit, lalu menunduk lagi.
"Papa." Suara Dina sedikit lebih tinggi lagi dari sebelumnya.
Kali ini Abay mengangkat kepalanya, lalu menengok ke Dina. Tatapan matanya terkesan kosong, air mukanya pun berubah, sedikit tampak bodoh.
"Papa kenapa?" tanya Dina.
Abay menggeleng, entah dia pun tak tahu. Karena mendadak saja dia seperti orang yang tak mengerti apa-apa. Hanya tahu berjalan terus untuk secepatnya melarikan diri. Tetapi dari apa, dia tak tahu.
"Kita ke rumah Oma Wati dulu ya!" ajak Dina sambil menyentuh lengan Abay.
Tubuh Abay sedikit bergetar, kesadarannya kembali karena hawa getaran dari tangan Dina.
"Ketemu Ami? Apa Papa harus cerita pada Ami, Mamanya sudah Papa korbankan sebagai tumbal?" tanya Abay.
Dina tak bisa memberikan saran, karena dia takut membayangkan sikap Ami.
Apa Ami mau menerima kabar kematian ibunya dengan hati tenang dan lega? Atau malah ngamuk dan berbuat sesuatu yang tak diinginkan?
__ADS_1
Dina tidak tahu.
Jemari Dina pun tak lagi menyentuh lengan Abay. Tanpa Dina sadari, Abay kembali seperti orang linglung dan terus berjalan mengikuti Dina.