
"Dari mana kamu, Dina? Menjelang maghrib begini baru pulang? Apa kamu sudah ketularan nakalnya Ami? Pergi bertemu dengan teman cowokmu? Oh, kenapa punya dua cucu sama-sama tak bisa diatur?" Hujan pertanyaan Sanusi turun dengan derasnya, ketika Dina baru saja sampai di depan pagar rumah.
"Opa salah sangka, aku...."
"Sudah sana masuk!" Sanusi cepat memotong ucapan Dina.
Langkah lebar Sanusi meninggalkan Dina yang berdiri bengong di pagar rumah.
Hembusan napas berat dan masygul Dina pun meluncur keluar dari kedua lubang hidungnya, ******* kecewa terlontar dari mulutnya.
Baru kali ini lagi Dina kena omel Sanusi, biasanya Sanusi kalau marah lebih banyak menekuk muka. Nanti saat dirasa waktunya tepat, dia akan panggil Dina dan bicara empat mata.
Tetapi sekarang....
Dina benar-benar tak mengerti, apa yang membuat Sanusi berlaku keras padanya.
Karena azan maghrib mulai terdengar, Dina tak berlama-lama berdiri di depan pagar rumah, dia menerobos masuk. Halaman rumah tak luas, jadi hanya perlu beberapa langkah dia sudah sampai di depan pintu yang tertutup. Namun ketika tangan Dina mau mendorong pintu, dia tergugah dengan apa yang didengarnya di ruang tamu.
"Ami, sudahlah jangan bersedih lagi! Oma sama Opa itu sayang padamu," bujuk Wati sambil tangannya mengusap punggung Ami.
Keduanya duduk di sofa panjang ruang tamu.
"Apa iya Oma? Bukannya Dina itu cucu kesayangan Oma dan Opa? Sementara aku, hanyalah anak yang Mama dan Papanya berpisah. Papa tak mencari aku, Mama pergi meninggalkan aku. Aku pun selama ini memendam kecewa dan malu atas apa yang diperbuat Mama!" seru Ami.
Dina sebenarnya mau masuk, karena tangannya sudah bersiap mengetuk daun pintu dan mulutnya terbuka dengan maksud mengucap salam. Tetapi....
"Aku ini iri pada Dina. Dia itu bukan cucu Opa dan Oma, tetapi mendapatkan perhatian yang sangat besar. Apa karena Papanya Dina memberikan uang pada Opa dan Oma, hingga aku di anak tirikan? Tak disayang dan disingkirkan? Atau karena Oma sudah tahu, kalau Mamaku itu seorang yang bekerjanya tak baik?" ucap Ami.
"Kamu salah, Oma dan Opa itu tak membedakan kamu dan Dina. Lagipula Oma juga tak tahu apa pekerjaan Mamamu?"
__ADS_1
"Apa iya tak membedakan? Buktinya, uang jajanku saja sama Dina berbeda? Meski aku tahu Dina dapat uang dari Papanya, tapi apa Oma dan Opa tak bisa memberikan aku nilai yang sama? Selain itu, setiap Papanya Dina datang dan membawa makanan, apa aku pernah dibagi?" Ami berbicara semakin ketus. "Kalau Oma mau tahu, Mamaku itu bekerja di panti pijat. Bergonta-ganti...."
"Cukup, Oma tak mau dengar apa pekerjaan Mamamu. Tetapi Oma dapat memahami, mungkin karena tak ada pekerjaan dan kamu butuh makan, Mamamu pun memilih jalan yang buruk itu. Beruntung Mamamu sudah menjadi TKW di Kuwait sana!" potong Wati yang tak mau menyinggung pekerjaan Poppy lebih jauh.
"Aku bisa mengerti itu Oma, Mama memang berbuat itu demi aku bisa makan dan sekolah. Tetapi tetap saja aku malu, aku masih kecil dan harus menerima olok-olok orang yang lebih dewasa dariku. Ada satu kali aku mendengar orang berkata padaku, 'Oh, bisa jadi kamu nanti akan mewariskan pekerjaan Mamamu!'. Apa itu ucapan yang pantas aku dengar Oma?" teriak Ami dan dia mulai menangis.
Wati berusaha membujuk Ami untuk bersabar. Di depan pintu rumah, Dina merasa iba pada kisah hidup Ami.
"Ya, sekarang Mama berada di Kuwait sana. Tetapi nyatanya, aku merasa Mama sudah tak ada di sana!" seru Ami.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?" tanya Wati heran.
"Aku mau tanya sama Oma, apa Mama ada kirim uang buat jajanku?" tanya Ami dengan tatapan tajam.
Wati gelagapan, lalu dia pun menggeleng. Poppy memang sudah lama tak mengirim uang. Tak ada juga kabar beritanya, seperti lenyap ditelan bumi.
"Mama tak kirim uang. Berita pun tak sampai. Berarti aku ini anak yang sudah tak dimaui lagi. Begitu juga Opa dan Oma... mana mau mengurusku lagi. Karena itu, aku berniat pamit dari rumah ini!" Ami berdiri.
Ami menatap Wati dengan tatapan mata sedih.
"Kamu di sini saja, ya!" pinta Wati.
"Untuk apa Oma? Untuk melihat betapa Oma dan Opa memilih membelai kepala Dina? Menyaksikan dompet Oma dan Opa terbuka untuk memberikan uang jajan yang besar untuk Dina? Tidak, aku tak mau penyakit hati iri dan benciku semakin tumbuh menjadi pohon yang besar dan rindang. Daripada aku menjadi orang jahat, sebaiknya aku menjadi anak jalanan saja!" teriak Ami.
Wati mau membuka mulut, tetapi dia dan Ami kaget melihat pintu terbuka tiba-tiba, lalu terdengar suara Dina.
"Kak Ami di sini saja, ya! Aku rela membagi uang jajanku pada Kak Ami. Aku nanti akan bilang sama Papaku untuk...."
"Huh! Aku tak butuh pertolonganmu!" potong Ami sambil menatap Dina yang berdiri dengan gerimis air mata di pipi.
__ADS_1
Wati ingin membuka mulut, tetapi dia kena didahului Ami.
"Dengan caramu ini, jelas sekali predikat anak baik akan jatuh padamu. Aku tetap akan menjadi anak jahat! Kalau kamu benar-benar baik, cuma ada satu jalan...." Ami menahan ucapannya.
"Apa itu Kak?" tanya Dina sambil menghapus air matanya.
"Kamu pergi dari rumah ini, tinggal sana sama Papamu. Oma dan Opa itu milikku. Kami terikat hubungan darah, tak seperti kamu yang orang lain, tetapi enak-enakan tinggal di sini dan diasuh sampai besar dengan penuh kasih sayang!" ucap Ami ketus.
Mendadak.
"Oh, maafkan Oma, Ami!" Wati menjerit sendiri. Padahal dia yang memulai, tetapi pada akhirnya dia juga yang menyesal.
Ami memegangi pipi kanannya yang terasa sakit. Tenaga Wati masih cukup besar dan membuat pipinya panas nyeri, kalau saja ada cermin di depannya saat ini, dia bisa melihat gambar cetakan jari Wati.
"Oma jahat!" Ami menatap benci Wati, lalu beralih pada Dina.
Setelah membanting kaki kirinya sekali, Ami memutar tubuh dan berlari masuk ke kamar. Suara bantingan pintu yang kencang menandakan betapa marah hatinya.
"Ami, buka pintu!" teriak Wati yang menyusul Ami.
Tetapi karena terhalang pintu kamar yang tertutup, Wati hanya bisa menggedor pintu dan berteriak memanggil Ami.
Tak ada jawaban pastinya.
"Oma, aku setuju sama Kak Ami. Sudah waktunya aku tinggal bersama Papaku," ucap Dina dengan nada sedikit lantang, agar telinga Ami bisa mendengar. Namun di sisi lain, ada getaran sedih di balik perkataannya itu.
"Bagus itu! Kenapa tak dari dulu saja kamu tak minggat dari rumah ini!" teriak Ami dari dalam kamar.
Wati tak bersuara, karena dia tak tahu harus memihak pada yang mana. Jalan terbaik menunggu Sanusi pulang.
__ADS_1
Namun takdir hidup siapa yang tahu?