
"Kita datangi gadis itu, kita coba sekali lagi. Jika dia tidak mati, maka kita harus berpesta!" seru pria tua yang sejak tadi memejamkan mata itu. Wajahnya tirus dan terlihat seperti mayat hidup, nama ketika matanya terbuka, terlihat sorot yang menggidikkan.
"Hore," sorak Ki Alam jadi orang yang pertama.
"Ya, kita bisa bebas," sahut Tiyah ikut senang.
Yang lainnya pun bersorak gembira. Mereka akan segera bebas dari kutukan nenek moyang.
"Kamu tahu di mana gadis itu sekarang berada?" tanya si kakek yang dituakan itu.
"Dia tadi datang bersama keponakan Endang. Berarti dia ada di sana, Ki Roto. Aku yakin itu!" Ki Alam berseru pasti.
"Baik, kita semua ke sana!" Ki Roto bangun dari duduknya.
"Tahan sebentar Ki Roto!" Tiyah berteriak untuk meredam gema suara orang lain.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Ki Roto menatap Tiyah dengan sorot matanya yang tajam.
"Kita harus tentukan dulu, berapa kali kita mencoba gadis asing itu, apa sekali atau lebih?" Tiyah dengan berani balas menatap Ki Roto.
"Tak perlu terlalu banyak mencoba dirinya. Cukup sekali saja, tetapi jika aku belum puas, biar aku mencoba sekali lagi. Di sini aku tegaskan, biar aku yang turun tangan mencoba dirinya," ucap Ki Roto memutuskan.
Seperti biasa, keputusan Ki Roto tak ada yang berani membantahnya.
Setelah semua orang sepakat, kurang lebih sekitar dua puluh orang kurang satu, beramai-ramai mereka berjalan menuju rumah Endang, menemui Dina yang diharapkan menjadi pematah kutukan nenek moyang kampung Cidaun.
Kutukan apa itu?
Di tempat terpisah.
Di ruang tamu rumah Endang. Sepiring pisang goreng hangat telah tersaji untuk tamunya, Euis dan Dina.
Tetapi Endang, wanita separuh baya dengan tubuh pendek dan sedikit gemuk itu asyik berbicara dengan Dina. Untuk sesaat, dia melupakan kehadiran Euis yang datang untuk mengambil uang tambahan pesta pernikahan Eni.
__ADS_1
"Siapa pria tua di foto itu Bi?" tanya Dina yang turut memanggil bibi pada Endang.
Endang melirik sekilas ke foto itu, lalu dia menarik napas terlebih dahulu, baru mulai menjawab keingintahuan Dina.
"Itu bukan foto, tapi lukisan yang dipercaya sebagai nenek moyang kampung Cidaun ini. Namanya Ki Sangaji."
"Tapi apa benar wajahnya seperti itu? Terus darimana asalnya wajahnya bisa dilukis dan sejak kapan?" tanya Dina berturut-turut.
"Benar tidaknya, Bibi mana tahu. Tetapi penduduk asli kampung sini percaya dan yakin itu bentuk wajah Ki Sangaji. Wajah itu hadir pada banyak orang kampung sini, lalu mulai dilukis sesuai dengan apa yang mereka lihat. Caranya melalui mimpi. Kalau tak salah, foto lukisan wajah itu sudah ada sejak seabad lalu, mungkin lebih," beber Endang.
Dina mengangguk, dia semakin tertarik untuk mengetahui rahasia kampung Cidaun. Karena hatinya berkata ada sesuatu di kampung ini.
Sementara Euis, dia malah menikmati pisang goreng. Karena cerita Endang sudah sering dia dengar.
"Oya, kamu harus tahu pantangan di kampung ini. Hanya ada tiga yaitu jangan menerima makanan dari penduduk asli sini, jangan memasuki rumah penduduk di sini kalau bukan tujuan utamamu, terakhir jangan meludah di depan penduduk kampung sini saat mereka mengajak berkenalan di jalan," jelas Endang.
"Hihihi, Bibi belum tahu aja. Dina malah udah minum air kelapa muda pemberian tetangga depan rumah," sambar Euis.
"Ki Alam kasih kamu minum dan kamu... kamu... tak mati? Eh, tak jatuh di jalan?" tanya Endang kaget.
"Oh, suamiku... akhirnya harapanmu terkabul, kampung ini akan bebas dari kutukan moyang kita. Terus anak kita Galih bisa pulang dan tak perlu takut mewarisi ilmu hitam lagi," desis Endang penuh suka cita.
"Sebenarnya ada kutukan apa di kampung ini Bi?" Dina tertarik ingin tahu.
Endang belum menjawab, karena dia masih diliputi rasa senang. Jika betul Dina seperti yang diramalkan dulu, maka dia akan bisa berkumpul lagi dengan Galih. Tak seperti sekarang, di mana dia harus hidup seorang diri sejak Gunawan suaminya meninggal dunia.
Sebelum suaminya meninggal, berwasiat agar Galih yang masih berusia lima tahun diungsikan di luar kampung Cidaun. Pilihan jatuh ke adiknya Esih yang diminta tolong merawat Galih. Sebagai cara untuk memutus ilmu hitam yang bisa saja menjadi hak bagi Galih.
"Kampung ini mempunyai kutukan apa Bi?" tanya Dina sekali lagi.
"Oh, Bibi akan cerita." Endang meminta waktu sejenak.
"Dulu, Ki Sangaji dan sepupunya Ki Samiaji sama-sama mencintai satu orang wanita. Namun Ki Sangaji yang terlanjur mempunyai ilmu hitam berkat istri rahasianya dari golongan jin, dia pun gagal mendapatkan wanita yang dicintainya itu. Ki Samiaji lah yang beruntung," jelas Endang.
__ADS_1
Dina tertegun sejenak dan dia merasa aneh, ketika nama Ki Samiaji disebut, hatinya bergetar. Serasa nama itu sangat dekat dengannya.
"Karena gagal dalam percintaan, Ki Sangaji lalu pergi dari kampungnya. Dalam perjalanan, dia bertemu para perampok yang akhirnya bisa ditundukkan dan menjadi anak buahnya. Meski Ki Sangaji mempunyai ilmu hitam, sejatinya dia tak terlalu jahat. Bersama-sama perampok yang dia taklukkan itu, Ki Sangaji membangun kampung dan dinamakan kampung Cidaun. Tetapi...."
"Tetapi apa Bi?" Malah Euis yang bertanya, soalnya cerita ini belum pernah dia dengar.
"Tetapi Ki Sangaji di saat peresmian kampung Cidaun, di mana setiap orang mempunyai rumah masing-masing, lantas membuat sumpah. Sumpah itu berbunyi...." Endang sengaja berhenti bicara.
"Apa bunyinya Bi?" Euis lagi yang bertanya.
"Sumpahnya itu... dia melarang orang asing masuk ke kampung, jika bukan untuk menjadi penduduk kampung alias menikah. Larangannya itu berbunyi, siapa saja yang masuk ke kampung dan tak bisa memberikan jawaban memuaskan, akan mati setelah menerima makanan dari penduduk kampung atau menghina penduduk kampung Cidaun. Setelah berucap seperti itu, geledek berbunyi." Endang membuang napas berat.
"Setelah itu Ki Sangaji mulai mengajarkan ilmu sihir pada penduduk kampung. Waktu berjalan, kutukan eh larangan itu masih terus berjalan sampai sekarang." Endang kali ini benar-benar berhenti bercerita.
"Tapi sepertinya larangan atau kutukan itu berubah ya Bi?" tanya Dina.
"Bukan berubah, tetapi caranya yang berubah. Jika dulu siapa yang masuk ke kampung ini akan ditanya lebih dulu maksud dan tujuannya, jika tak jelas diusir pergi. Sekarang tidak lagi, siapapun yang datang tak ditanya lagi main diberikan makanan saja. Sudah banyak yang jadi korban," jawab Endang.
"Apa korban itu mati di sini?" tanya Dina mau tahu.
"Tidak, tetapi di rumah korban itu sendiri. Setiap korban yang dengan rakusnya memakan makanan yang diberikan, biasanya setelah sepuluh langkah akan jatuh sejenak. Setelah bangun akan langsung pulang ke rumahnya. Saat itulah, korban akan mati terkena racun sihir," tutur Endang.
"Oh, begitu." Dina mengangguk.
"Pada dasarnya penduduk sini orang baik. Tetapi ketika melihat orang asing masuk, entah mengapa nafsu jahat muncul. Setelahnya penyesalan datang terlambat. Seperti mendiang suamiku, dia orang baik dan sekalipun tak pernah mengambil korban. Hanya saja, dia harus menderita dan mati muda, sebab istri rahasianya marah besar." Air mata Endang mulai turun
"Apa setiap pria dewasa di kampung ini mempunyai istri rahasia Bi?" tanya Dina heran.
"Tidak semua, hanya pria dewasa penduduk asli atau yang sudah bercampur dengan orang luar. Jika ada pria dewasa yang murni berasal dari luar kampung, mereka tak akan punya istri rahasia dari jin tersebut. Karena itu Galih anakku, aku larang tinggal di sini." beber Endang.
"Terus, bagaimana bisa setiap pria dewasa penduduk asli sini atau keturunan dari penduduk asli, bisa mendapatkan istri rahasia dari kaum jin itu Bi? Apa ada perjanjian atau seperti apa?" tanya Dina.
Endang baru mau menjawab, mendadak dia mendengar suara lain.
__ADS_1
"Biar aku yang terangkan!"
Tiga pasang mata di ruang tamu Endang, tertuju pada sosok di depan pintu rumah.