ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 125


__ADS_3

"Aneh, kok musholla seram amat ya?" ucap Meri yang berjalan di belakang bareng Ami dan Maya.


Dina dan Sasan berjalan di depan mereka.


"Iya, gue merinding," ucap Ami.


"Ada apa ya?" tanya Maya.


"Lah, yang jawab pertanyaan lu itu siapa? Kita mana ada yang tahu!" sembur Ami.


Sementara itu, Dina yang tangannya telah memegang pagar kecil musholla yang tak dikunci, mencium bau busuk. Bau anyir darah, hidungnya tajam karena kamar tempat Suta dan Said tidur itu masih berada di jarak kurang lebih 10 meter dari pagar.


"Itu Suta masih bangun, pintu kamarnya terbuka!" Maya menunjuk ke arah kamar.


Kelimanya telah masuk ke area musholla. Sekarang berganti, Dina berada di paling belakang dengan mata menyorot ke arah pohon mahoni.


Maya berjalan paling depan, disusul Meri dan Ami dan Sasan.


"Suta, ada Papamu nih nyariin!" teriak Maya.


Tak ada jawaban. Karena Suta memang tak mampu menjawab panggilan Maya.


Begitu kepala Maya melongok ke dalam kamar, yang terdengar jeritan kencangnya.


Semua orang kaget. Ami dan Meri yang melihat, lalu berbalik badan dan lari menyusul Maya.


Sasan yang ikut melihat, kakinya gemetaran dan jika Dina tak cepat bertindak, Sasan akan ikut pulang bersama Suta dan Said.


Di dalam kamar belum semuanya ular kembali pulang, ada tiga ekor ular yang sedang berada di sekitar tubuh Suta dan Said.


Awalnya ketiga ular itu kepalanya menghadap kearah tubuh Suta dan Said. Namun teriakan Maya, membuat kepala mereka bergerak ke arah pintu, seakan mendengar jerit ketakutan Maya.


Lalu disusul jeritan Ami dan Meri, hingga ketiga ular panik dan berusaha melarikan diri.


Berhubung Sasan berdiri menghalangi di depan pintu ular terdepan yang berwarna putih hitam berusaha menyerang Sasan.


Beruntung tangan Dina lebih cepat menangkap leher ular itu. Dina sedikit membungkuk ketika menangkap leher ular, lalu dia juga mendorong Sasan ke belakang.


Ular yang ditangkap Dina, lalu dibanting sampai hancur kepalanya. Sisa dua ekor ular lagi gampang saja diinjak Dina tanpa bisa melawan sama sekali.

__ADS_1


Kedua ekor ular yang berwarna hitam, ketika melihat Dina malah berhenti dan diam di tempat. Hingga Dina seperti menginjak balon saja.


Kedua kepala ular pecah diinjak Dina.


"Bapak tak apa-apa?" tanya Dina sambil menatap Sasan, lalu dia berpaling dan melihat ke dalam kamar.


Suta dan Said telah mati, tubuh mereka berwarna keunguan. Mungkin karena terlalu banyak racun beraneka jenis ular masuk ke dalam tubuh mereka.


Maya tak hanya berteriak, dia juga menelepon Dayat yang sedang main catur. Hingga Dayat disertai Andi dan seorang hansip RW datang ke musholla. Hansip itu sebenarnya sedang mampir menonton permainan catur.


"Di mana mayat Suta sama Said?" tanya Dayat yang sampai lebih dulu, disusul Andi dan hansip bernama Poni.


"Di kamar Pa!" Maya menunjuk ke arah kamar. Dia berdiri di samping Ami yang diapit Meri.


Dayat, Andi dan Poni bergegas ke arah kamar Said. Mereka melihat Dina dan Sasan berada di dalam kamar.


"Ih, ular!" teriak Poni kaget. Wajahnya ketakutan.


"Udah mati, tenang aja!" sahut Andi yang sudah melihat kepala ular pecah.


Lalu Dayat dan Andi masuk ke dalam kamar. Hanya Poni yang tetap berdiri di tempatnya, takut sama ular meski sudah menjadi bangkai sekalipun.


"Siap, Pak RT!" Poni lalu memutar tubuhnya untuk pergi ke rumah RW.


Andi tak bawa ponsel, jadi dia tak bisa hubungi pak RW. Lupa nomor. Dayat bawa ponsel, tapi tak punya nomor pak RW. Beruntung ada Poni yang bisa dimintai tolong.


Poni sendiri memilih lari ke rumah pak RW. Padahal dia punya ponsel. Saking paniknya dia karena melihat tiga ekor ular tadi, dia pun lupa kalau punya ponsel.


"Apa mereka berdua sudah mati, Dina?" tanya Dayat.


Dina mengangguk.


"Tiga ekor ular itu siapa yang bikin mati?" tanya Andi.


"Aku, Pak. Aku banting dan injak," ucap Dina dengan nada geram.


Dayat dan Andi saling menatap. Mereka berdua tak percaya dengan keterangan Dina, tetapi terpaksa harus percaya. Tadinya mereka berpikir Sasan yang menghabisi ketiga ekor ular tersebut. Tetapi Sasan tak mengaku.


"Apa cuma tiga ekor ular itu saja yang menyerang mereka berdua? Apa ada ular yang lain?" tanya Andi sambil matanya jelalatan di sekitar kamar.

__ADS_1


"Sudah pada pergi ular yang lainnya Pak. Tersisa 3 bangkai itu saja. Yang datang kayaknya lebih dari belasan ekor ular, bisa jadi puluhan atau ratusan. Luka gigit ular ada banyak," jelas Dina.


"Apa tak sebaiknya kita keluar dari kamar ini?" tanya Dayat.


"Iya, kita keluar saja. Biar polisi bisa bekerja. Oya, tak ada barang yang kalian berdua sentuh kan?" tanya Andi pada Dina dan Sasan.


"Tidak ada Pak!" Dina lalu menarik keluar Sasan yang tubuhnya terasa lemas.


Sasan sudah melihat Suta dan dia teringat pada Lala. Wajah Suta memang cenderung ke Lala, karena itu Dina tak tahu riwayat Suta. Jika Suta punya wajah mirip Sasan, kejadian malam ini mungkin tak akan pernah terjadi.


*


Pagi telah tiba.


Yuri yang ditelepon Dina tentang kematian Suta, datang dengan air mata berurai dan sejuta kata penyesalan.


Mayat Suta dan Said sendiri dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Kedua mayat itu dibawa dan diurus pihak rumah sakit terlebih dahulu, untuk menghindari kemungkinan lain.


"Aku bersalah Kak, aku bersalah pada Suta. Tak seharusnya aku...." Yuri menangis di pelukan Dina.


Mereka berdua berada di dalam kamar Dina. Sementara yang lain berada di luar, menunggu kedatangan jenazah Suta dan Said. Rencananya kedua jenazah itu akan diturunkan di rumah Wati.


"Tak seharusnya apa?" tanya Dina.


Yuri keluarkan cincin dengan hiasan batu hijau keputihan.


"Apa ada hubungannya dengan cincin ini?" tanya Dina.


"Aku tak tahu Kak. Tetapi jika Suta memakai cincin ini, bisa jadi dia akan selamat."


"Loh, kenapa harus andalkan cincin ini?" tanya Dina yang menerima cincin dari tangan Yuri.


Begitu cincin itu berada di tangan Dina. Dia merasakan getaran yang kuat dan sekilas dilihatnya penampakan ular yang kabur ketakutan.


"Dulu, aku pernah hampir jadi korban tumbal seorang yang melakukan pesugihan, Kak. Bang Suta berikan aku cincin ini untuk berjaga-jaga. Malam setelah aku dapat pinjam cincin ini, ratu manusia ular datang padaku. Aku selamat, karena manusia ular itu seperti takut cincin ini Kak." Yuri berhenti sejenak.


Dina sudah paham akan ucapan Yuri.


"Kalau saja aku tak simpan cincin ini, para ular tak akan berani dekati Bang Suta." Yuri menyesal.

__ADS_1


__ADS_2