
Teriakkan Abay datang terlambat, karena begitu Dina tertarik perhatiannya untuk menengok ke belakang, dia hanya bisa terbelalak.
Seekor ular meloncat keluar dari dalam lubang tanah, ular yang secepat kilat berubah menjadi Nyi Malini dan tanpa bisa dicegah, pundak kiri Dina digigit Nyi Malini.
"Dina!" teriak Abay dengan suara bergetar sedih.
Nyi Malini melirik ke arah Abay dengan gigi masih menempel di pundak kiri Dina. Meski jarak antara dia dan Abay jauh, namun bagi Abay seakan mata dari ratu ular tersebut sangat dekat, tepat di depan matanya.
Sorot mengejek dan Menghina Nyi Malini membuat Abay menutup matanya.
Abay tak tega melihat tubuh Dina yang terlihat semakin lemah.
Harma yang saat itu mengamuk, sejenak berhenti karena melihat Dina yang menderita di bawah gigitan Nyi Malini.
Nyi Malini tak mau melepaskan Dina, karena racun yang dia sedang tanamkan ke tubuh Dina belum lagi cukup.
"Tuanku!" teriak Harma membuat bumi serasa bergetar.
Terdengar suara tawa ejekan Nyi Malini, meski gigi masih menghujam di pundak kiri Dina.
Tetapi begitu Nyi Malini sadar dia melakukan kesalahan, semua sudah terlambat. Harma kembali masuk ke dalam batu kalung yang menjadi hiasan di kalung yang dipakai Dina.
Hingga timbul ledakan kecil begitu Harma yang telah membelah diri menjadi delapan itu bergabung lagi, lalu kembali masuk ke dalam batu merah.
Batu merah hiasan kalung Dina meledak dan akibatnya tubuh Nyi Malini terpental ke belakang. Sementara Dina jatuh ke tanah.
Abay yang terkejut mendengar ledakan tadi, membuka matanya. Yang dia lihat hanya Dina dan Nyi Malini. Tak ada manusia ular di lapangan yang masih hidup, tak ada bangkai manusia ular dan para ular di lapangan.
Kosong, lapangan terlihat kosong dan hanya ada Dina yang terbaring di tanah dalam keadaan diam.
Apa Dina sudah mati?
Abay tak bisa memastikan itu. Namun dia tahu jika Nyi Malini masih hidup, sebab dia masih bisa gerakan badannya yang perlahan mulai duduk.
Hingga mendadak terdengar suara ramai yang membuat kepala Abay menengok ke arah samping istana. Dari arah itulah muncul seorang nenek yang dikenal Abay. Nini Ai datang, lalu terlihat Santi dan Poppy serta jiwa-jiwa yang tersesat di istana Nyi Malini dan menjadi budak bagi manusia ular itu.
__ADS_1
"Jika kalian ingin terbebas dari istana ini dan jiwa kalian berkumpul di alam yang sebenarnya, Ratu ular itu harus mati!" Nini Ai menunjuk ke Nyi Malini yang duduk sejauh lima meter dari tubuh Dina.
Sorak Sorai bergemurh. Hawa dendam dan pembalasan tampak kuat dari ratusan jiwa yang telah dikumpulkan Nyi Malini.
Jiwa yang berasal dari tumbal Abay dan manusia lainnya yang menghamba pada Nyi Malini itu dengan buas menyerang ke arah si ratu ular tersebut.
"Tidak, jangan ke sini! Tidak!" teriak Nyi Malini ketakutan.
Kekuatan Nyi Malini habis. Dia terkena kekuatan ledakan dari batu merah hiasan kalung Dina.
Ketika batu itu meledak tadi, ada sinar merah yang membuat mata Nyi Malini buta sesaat. Hingga dia terpental jauh dan saat bisa membuka mata, disadarinya kekuatannya banyak menghilang. Tenaganya itu bisa kembali, jika dia memiliki waktu yang cukup.
Karena itu waktu tangan-tangan ratusan jiwa yang menjadi budaknya selama ini menarik-narik tubuhnya, Nyi Malini tak bisa berbuat apa-apa, kecuali menjerit takut.
Sampai suara Nyi Malini tak lagi terdengar, yang ada hanyalah teriakan senang banyak orang dan daging-daging Nyi Malini yang dilemparkan ke udara.
Abay sudah diturunkan Nini Ai. Saat semua orang mengerubungi Nyi Malini untuk membalas dendam, Nini Ai menurunkan Abay dari ikatannya.
Selain itu Santi dan Poppy juga tidak ikut dalam rombongan jiwa-jiwa yang membalas dendam itu. Mereka berdua berjaga di sisi tubuh Dina dengan wajah bersimbah air mata.
*
"Aduh!" teriak Sasan mendadak.
Maya dan Meri yang baru datang sambil membawa empat kantong kresek merah besar berisi kotak makanan dan buah tersebut, sampai kaget melihat Sasan menekan dada kirinya, tepat di bagian jantung.
Ami yang saat itu sedang berada di dalam rumah, untuk minum air putih. Cepat berlari ke arah ruang tamu di mana Sasan berada.
"Kenapa Pak?" tanya Ami cemas yang melihat wajah pucat Sasan.
"Entah, jantung Bapak mendadak sakit. Dina, dia... dia...." Sasan tak bisa bicara.
"Dina kenapa Pak? Dina kenapa?" tanya Maya mewakili yang lain.
"Bapak tadi melihat Dina seperti melambaikan tangan mengucap selamat tinggal," ucap Sasan.
__ADS_1
"Tidak, Dina pasti selamat! Dia tak mungkin mati!" sahut Ami cepat.
"Tapi masalahnya, ada apa dengan Dina? Kita sampai sekarang kan belum tahu ada kejadian apa pada Dina?" ucap Meri.
Semua orang terdiam.
"Apa sudah waktu maghrib?" tanya Sasan.
"Masih ada sekitar 15-20 menit, Pak," jawab Maya.
"Mana buku Yasin? Bapak mau mengaji!" Sasan ternyata ingin mengaji.
Ami memberikan buku Yasin yang berada di dekatnya, lalu dia masuk ke dalam kamar untuk mengambil kerudung dan ikut mengaji bersama Sasan.
Maya dan Meri tak mau ketinggalan. Meski mereka semua masih belum mengerti akan kondisi dan situasi yang dialami Dina, tetapi mereka percaya dengan mengirimkan doa buat Dina, jiwa Dina bisa selamat.
***
"Nini, apa Dina akan mati?" tanya Abay dengan air mata bercucuran.
Nini Ai tak menjawab, dia sedang berpikir keras.
Sementara itu lapangan sudah kosong. Hanya tinggal Nini Ai, Abay berserta Santi dan Poppy. Jiwa yang lainnya telah pergi sejak tadi, naik ke atas langit sambil melambaikan tangan. Wajah-wajah jiwa yang tersesat itu menampilkan senyum yang indah dan bahagia.
Tetapi empat orang yang berada di dekat Dina yang masih berbaring dengan kedua mata tertutup itu, semuanya berwajah sama. Wajah penuh kesedihan.
"Ini semua gara-gara kamu, coba kalau kamu tak menjadi manusia lemah iman, Dina tak akan mati di tempat ini? Jiwanya tak akan tersesat di dunia terkutuk ini. Kami pun tak akan menjadi korban nafsu serakahmu!" bentak Santi.
"Sudah, tak perlu ribut dan menyalahkan Abay lagi. Semua sudah terjadi, kita sudah mati. Dina pun hampir mati. Kita harus pikirkan bagaimana cara menjaga jiwa Dina, menarik jiwanya untuk bersatu ke tubuhnya," ucap Poppy.
"Ya, aku mengerti itu. Tetapi Abay, dia akan kembali hidup sementara kita mati." Santi masih melotot pada Abay.
"Aku minta maaf pada kalian. Aku berjanji lepas dari sini, aku akan kirim doa buat kalian dan semua harta yang aku dapat dari Nyi Malini akan aku sumbangkan," ucap Abay.
Santi terlihat puas, dia tak lagi banyak bicara.
__ADS_1
"Dina bisa kembali hidup, tetapi kalian jangan pernah bicara tentang pengorbananku," ucap Nini Ai.