
Dari raut wajahnya, tampak Dina sedang menunggu kedatang seseorang. Dia bukan sedang menunggu Maya, yang dia lihat sedang berjalan ke arah mulut gang rumah.
Saat ini Dina sedang bersembunyi di balik pohon mangga yang tumbuh di tepi lapangan olahraga RW. Di RT tempat Dina tinggal ada tanah fasilitas umum dan warga yang akhirnya dijadikan lapangan biar warga RT dan RW bisa berolahraga bersama-sama.
Lapangan multi fungsi, bisa buat main voli, bulutangkis dan futsal.
Setelah Dina merasa Maya tak melihatnya, baru dia duduk lagi di bangku semen seorang diri.
Lagipula terik matahari sedang tinggi, jadi hanya Dina seorang diri yang berani duduk, bukan berjemur hanya menunggu kedatangan seseorang.
Namun bukan orang asli yang datang, tetapi orang jadi-jadian alias jin ular Bwalika yang muncul.
Seperti biasanya, Bwalika menemui Dina dengan wujud gadis remaja yang cantik jelita. Kalau kata anak muda jaman now, Bwalika itu spek bidadari tanpa sayap atau selendang yang bisa membuat dirinya turun naik bumi dan langit.
"Tumben, kamu memanggilku. Biasanya, aku yang datang padamu, meski tak ada panggilan. Hihihi," kekeh Bwalika geli. Dia berdiri di depan Dina.
"Oh, tak mau datang. Ya, sudah sana pulang!" Dina cemberut.
"Wah, coba ada cermin di depanmu."
"Cermin buat apa?" tanya Dina terheran-heran.
"Hihihi, ya buat ngaca dong. Tentu kamu akan kaget, betapa wajahmu cantik sekali waktu cemberut tadi. Ada daya tarik yang hebat. Cuma ya cuma... lebih baik kamu berwajah ceria, karena itu akan membuat dirimu jauh terlihat cantik lagi." Bwalika memuji dan tak lupa memberi tanda jempol. Dia terbiasa melihat manusia memberikan kode jempol saat memuji manusia lainnya.
Dina pada dasarnya senang dipuji, apalagi jika menyangkut tentang kecantikannya. Setiap wanita di dunia pun sama, senang ketika dibilang cantik.
Tetapi tetap saja, Dina pura-pura tak menerima pujian itu.
"Mana aku cantik! Kak Lika dan Kak Ami itu baru cantik. Oma juga cantik, terus Ibuku... aih, walau aku tak pernah melihat Ibuku, aku yakin dia pasti wanita yang sangat cantik!" seru Dina.
"Kalau aku dibilang cantik, hihihi... aku senang jika itu bukan datang dari mulutmu. Tetapi kamu tentu tahu bukan, wajah ini hanya wajah pinjaman saja. Muka asliku... wuih, akan membuat orang jatuh pingsan dan bisa-bisa mati!" kekeh Bwalika.
Dina mengangguk. Karena dia memang tahu, wajah asli Bwalika itu dipenuhi sisik ular. Mata Bwalika aslinya pun kecil, tak ada putihnya dan hanya sepasang bola berwarna merah. Sudah begitu, Bwalika juga tak punya hidung, hanya dua lubang menempel. Mulut Bwalika lebar, seperti menjadi pembatas antara dagu dan pipi, lidahnya pun panjang dan bercabang dua berwana keunguan. Telinga Bwalika panjang dan runcing, dengan tiga tanduk kecil di kening.
Wajah asli Bwalika tak sedap dipandang. Begitu juga bentuk tubuhnya. Leher Bwalika panjang seperti leher jerapah, bentuk tubuhnya bulat dan pendek nyaris bak bola. Tangan lebih panjang dari kaki, lalu ekornya panjang dengan ujung bercabang dua sepanjang tiga puluh senti. Seluruh tubuh pun memilik sisik ular belang hitam dan putih dari ekor sampai kepala.
__ADS_1
"Aku juga tak setuju!" ucap Bwalika tiba-tiba.
"Tak setuju atas apa?" Dina merasa heran, apa yang membuat Bwalika tak setuju.
"Tadi kamu memuji Ami cantik, kan?" Bwalika meludah. "Aku tak setuju, karena dia tak sebanding denganmu. Tetapi aku setuju dengan ucapan akan kecantikan Ibumu. Dia wanita cantik, sayang nasibnya buruk!"
"Kak Lika pernah melihat Ibuku?" tanya Dina kaget, sekaligus senang. Karena dia bisa bertanya pada Bwalika, di mana ibunya berada.
"Ya, aku kenal dan tahu. Tetapi aku tak bisa memberi tahu dirimu akan riwayat hidup Ibumu itu."
Dina mengeluh kecewa dan sedih.
"Kamu harus paham, aku tak bisa membuka mulut karena berkaitan dengan nyawaku. Aku ini jin ular yang bisa dikatakan membelot, tetapi selama ini belum diketahui Nyi Malini."
"Terus apa Papaku tahu tentang Ibu, eh Mamaku itu?" tanya Dina.
Bwalika tak menjawab.
Dina pun tak memaksa, karena dia tak senang menggunakan cara paksaan.
"Meski aku tak tahu, tetapi biar aku menebak terlebih dahulu...."
Dina mengangguk.
"Hihihi, karena kamu rindu padaku bukan? Eh, bukan itu... ya, aku tahu sudah!" sorak Bwalika. "Kamu mau aku mencabut jiwa Ami, apa itu betul?"
Dina mengeras wajahnya. Dia tampak marah.
"Oh, salah ya!" Bwalika tertawa cekikikan.
"Kak Lika kan yang membuat teman Kak Ami mati?" tanya Dina tajam.
"Hei, kamu tahu darimana?" tanya Bwalika kaget.
"Kak Lika pernah mendengar ponsel kan?" tanya Dina.
__ADS_1
"Alat kecil berbentuk kotak yang membuat kalian, para manusia bicara dan tertawa sendiri itu kan? Kadang menangis dan marah-marah. Apa kotak yang kalian taruh di telinga itu bernama ponsel?" tanya Bwalika.
"Iya, itu alat komunikasi kami. Bisa saling bertanya kabar dari jarak yang jauh. Asal ada pulsanya."
"Di tempatku jauh lebih hebat lagi, menggunakan telepati atau gelombang pikiran. Seperti yang kamu lakukan waktu memanggilku, cukup gunakan pikiran dan memanggil namaku berkali-kali di dalam otakmu!" Bwalika menyombongkan dirinya.
"Aku tak bahas itu. Tadi Kak Lika tanya, darimana aku tahu kabar kejahatan Kak Lika. Nah, jawabanku ya dari ponsel itu!"
"Siapa yang memberitahu dirimu?" bentak Bwalika marah.
"Tak ada, hanya aku dengar Kak Ami menelepon temannya yang bernama Rey itu. Aku mendengar jika Rey itu mati terkena racun ular. Karena itu aku menebak, jika Kak Lika pelakunya. Aku tak salah kan?"
"Jika aku jawab bukan aku, apa kamu mau percaya?" tanya Bwalika.
Dina menggeleng.
"Sudah aku duga. Ya, betul aku pelakunya. Tetapi maksudku baik, agar Ami tak bertemu dengan pria itu. Kamu sendiri kan maunya Ami tak pergi dari rumah dan bertemu pria itu. Apa aku salah? Aku telah membantu dirimu, loh!"
"Salah, karena aku tak mau Kak Lika membantu dengan cara seperti itu. Apa Kak Lika itu petugas pencabut nyawa?"
"Ya, bukan. Hanya saja sekedar membantu. Hihihi," tawa Bwalika tanpa merasa bersalah.
"Oh, aku kecewa Kak! Aku sedih punya teman yang mempunyai hati jahat seperti Kak Lika. Meski aku tahu aku bukan orang baik, tapi aku berusaha untuk menjadi baik. Berat, tapi memang itu jalan yang harus aku tempuh. Menyayangi makhluk, termasuk Kak Lika."
"Terus, kamu ingin berpisah denganku begitu?" Bwalika tampak marah.
Dina tak menjawab.
"Dina, asal kamu tahu satu hal! Aku itu menempuh resiko untuk menjadi temannya dengan ancaman mati. Jika Nyi Malini tahu, aku akan ditangkap dan disiksa. Aih, aku tak tega dan tak rela melihatmu dijadikan tumbal dan budak di kerajaan Nyi Malini. Suatu hari nanti... ya, suatu hari nanti saat itu akan tiba bagimu. Aku tahu rencana Nyi Malini itu. Dengar perkataanku, sebaiknya kamu pergi jauh dan tinggalkan Papamu...." Bwalika menangis.
"Kak Lika!" Dina hanya bisa memanggil nama Bwalika, tetapi tanpa respon sama sekali.
Bwalika telah pergi dan entah kapan akan kembali lagi.
Tinggal Dina yang duduk bengong seorang diri. Haruskah dia tinggalkan Abay?
__ADS_1