ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 40


__ADS_3

"Apa kalian benar-benar butuh uang?" tanya Abay. Dia pun berdiri dari duduknya.


"Jelas! Oh, apa kami bertemu dengan seorang dermawan yang hartawan?" ejek si gondrong.


"Tidak, tapi aku bisa kasih jalan buat kalian berdua," jawab Abay tenang.


"Apa itu? Apa harus kerja? Hahaha, itu tak mungkin! Kami berdua bukan orang yang suka makan bangku sekolah, terlalu keras! Gigi kami tak sanggup memakan kayu. Beda dengan tangan kami," sahut si botak lantang, lalu dia mengikuti si gondrong yang berdiri selangkah di depan Abay.


"Kenapa dengan tangan kalian?" Abay tetap masih tenang wajahnya.


Sementara itu, di belakang kedua orang pria telah hadir sepasang ekor ular yang mendadak muncul dari dalam lubang tanah. Yang terlihat baru kepalanya saja.


Mata tajam Abay dapat melihat sepasang kepala ular berbentuk lancip dan berwarna hitam pekat. Sepasang ekor ular beracun, tetapi lebih dari itu dari baunya yang dikenal hidung Abay, kedua ular itu ular siluman anak buah Nyi Malini.


"Tangan kami tak sekuat baja, tetapi cukup kuat untuk mematahkan tulang tubuh. Apa lo mau coba?" tanya si gondrong.


"Tidak. Aku tak mau masuk rumah sakit!" Abay menggeleng.


"Hahaha, lo terhitung orang pintar dan cerdas kalau begitu. Bisa melihat keadaan. Tenang, kami berdua tak butuh motor lo, cuma sekedar uang buat beli kopi dan rokok," sambung si botak memberi keterangan apa yang dia dan temannya inginkan.


"Kalau begitu, aku harus ucapakan terima kasih pada Abang berdua. Aku sih sebenarnya tak masalah kasih motor juga. Tapi...." Abay menahan perkataannya.


"Apa? Lo mau lapor polisi?" tanya si gondrong dan si botak nyaris bersamaan, hanya selisih sedetik si gondrong membuka mulut lebih dulu.


"Bukan, tapi mau kenalkan Abang berdua sama Ki Jabaya," ucap Abay.


"Siapa tuh? Bekingan lo, ya?" tanya si botak.


"Bukan, cuma dia yang kasih jalan aku untuk jadi kaya raya tanpa kerja keras!" jelas Abay yang yakin kedua pria yang bermaksud jahat padanya, akan tertarik dan mau menjadi hamba sahaya nafsu Nyi Malini, dengan imbalan harta tentunya.


Si gondrong dan si botak saling bertukar pandangan. Entah siapa di antara mereka yang memberi aba-aba, mendadak suara tawa mereka berdua pecah. Sampai-sampai si botak memegangi perutnya saking geli mendengar tawaran Abay.


"Hahaha, kami akui kami orang jahat. Tetapi kami ogah bersekutu sama jin! Asal lo tahu ya, kita berdua itu cuma minta seperlunya. Nggak pernah tuh yang namanya meminta lebih dari ukuran perut kami," ucap si gondrong bangga.


"Selain itu, dari uang yang kami minta dari orang macam lo, paling kalau ada lebih ya buat kasih makan bocah cilik. Tetapi...." Mata si botak melirik ke temannya.


"Tetapi kami sudah mendengar lo orang ternyata kaya raya dari hasil pesugihan. Jijik banget gue lihat tampang lo!" Ludah si gondrong pun terlontar keluar mengenai wajah Abay.


"Udah, kita ceburin aja dia ke danau! Batal minta uangnya, najis amat kita makan uang setan!" umpat si botak.

__ADS_1


"Ayo!" ajak si gondrong.


"Tunggu!" Abay mengangkat kedua tangannya ke atas.


Tangan si gondrong dan si botak yang sudah siap mendorong Abay pun berhenti.


"Mau ngomong apa?" tanya si gondrong.


"Apa mau nitip pesan terakhir?" sambung si botak.


"Tadi kalian berdua bilang, tangan kalian itu bisa bikin patah tulang? Betul apa salah?" tanya Abay.


"Betul," jawab si botak.


"Tak salah," kata si gondrong menambahkan.


"Nah, percaya tidak... kalau gue cukup pakai mulut aja, bikin lo berdua masuk liang kubur?" Wajah Abay berubah bengis, nada suaranya pun berubah kasar.


"Hahaha, mimpi lo!" tawa si botak.


"Baik. Gigit mereka!" seru Abay tegas.


Si botak dan si gondrong berkerut kening, heran mendengar ucapan Abay yang bernada memerintah. Siapa yang akan menggigit mereka berdua. Karena itu mereka berdua pun menengok ke belakang.


Masing-masing ular menemukan korbannya. Si botak tergigit bagian hidungnya yang cukup besar. Si gondrong tergigit bagian pipi kirinya.


Kedua pria yang bermaksud jahat dan berniat mendorong Abay ke danau, kini malah mereka yang tercebur ke danau.


Serangan kedua ular itu tak hanya menggigit wajah si botak dan si gondrong, tetapi juga memberi daya dorong kepada korbannya, hingga kaki si korban melangkah mundur dan terjatuh ke danau.


Abay tahu nasib kedua pria naas itu tak akan selamat. Karenanya dia tak berlama-lama berdiri di tempatnya. Dengan cepat, dia pun menghilang.


Begitu Abay pergi, tak lama tubuh si botak dan si gondrong mengambang ke atas. Tubuh keduanya menghitam dan membesar akibat racun ular bekerja dengan cepat.


*


Pria bertubuh kurus, berwajah kusam dan terlihat punya banyak pikiran itu berkali-kali menghela napas. Di depannya, gelas kopi plastik hanya tinggal ampasnya saja.


Semilir angin menerpa tubuh. Terik matahari siang panas menyengat, tetapi beruntung atap hijau yang rindang sedikitnya bisa menahan sinar sang surya.

__ADS_1


Pria kurus itu duduk seorang diri, di terpal biru yang dijadikan alas duduk. Sementara tak jauh darinya ada pedagang kopi keliling dengan motor yang sedang sibuk mengaduk dua gelas kopi untuk seorang pembeli.


Ketika kopi selesai diseduh, si pembeli itu membawa kedua gelas kopi menuju ke si pria kurus.


"Tambah kopi, San!"


Pria kurus itu Sasan adanya. Karena mendengar kata kopi, kepala Sasan pun terangkat dan menengok. Di depannya terpampang wajah seorang pria paruh baya berkulit gelap dan raut muka yang keras, pria berkumis tebal.


"Terima kasih Bang Solihin," ucap Sasan penuh syukur, lalu tangannya menerima gelas kopi.


Solihin lalu duduk di sebelah Sasan.


"Gimana kabarnya Bang?" tanya Sasan basa-basi.


"Hahaha, sangat baik! Kalau nggak, mana mungkin aku di sini minum kopi bareng kamu. Betul, tidak?" Solihin menepuk pundak belakang Sasan.


"Iya, ya. Kalau Bang Solihin tiduran di kasur rumah sakit, itu tandanya kurang baik." Sasan tersenyum.


"Tapi sayang...." Dengan lihainya Solihin menggantung ucapannya.


"Sayang kenapa Bang?" Sasan terpancing jerat penasaran yang ditebar Solihin.


"Aku punya teman, masih muda dan harusnya sih punya semangat hidup. Cuma dia itu terkesan loyo, mati segan hidup tak mau. Apa nggak sayang coba?" Solihin melirik Sasan.


"Apa teman Bang Solihin itu aku?" tanya Sasan.


"Hahaha, pengakuan yang jujur! Betul, betul sekali!" Solihin mengangkat gelas kopinya, ditiupnya sejenak, lalu seteguk kopi pun memasuki perutnya.


"Bang Solihin tak tahu, masalah hidupku itu berat!" keluh Sasan.


"Oh, jadi kamu anggap mereka yang bisa makan enak dan hidup mewah itu beban hidup mereka tak berat, begitu?" tanya Solihin.


"Hahaha, tepat sekali!" Sasan meminjam gaya tertawa Solihin.


"Ternyata selain tak punya semangat hidup, pikiranmu pun sempit!" sindir Solihin.


"Maksudnya, Bang?" tanya Sasan tak senang.


"Kamu tahu kan aku, aku punya lima anak. Beban hidup jelas lebih berat darimu, tetapi aku santai saja. Terus bekerja, menikmati hasil walau sedikit dan berbagi pada teman sebisanya. Apa kamu paham?" tanya Solihin.

__ADS_1


"Bang, aku ini punya masalah yang beda. Istriku diambil temanku dan membawa anakku. Belum lagi aku juga harus mencari anak pertamaku. Aku ini...."


"Bang Mail, sini!" teriak Solihin memutus ucapan Sasan.


__ADS_2