ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 102


__ADS_3

Suta duduk di apit RT Andi dan Dayat. Mereka bertiga berada di teras rumah Dayat, tempat di mana cukup sering Suta duduk menemani Maya, baik belajar bersama maupun sekedar berbicara.


Di rumah Wati, masih ada Maya dan ibunya ikut mendamping Ami, menjaga Wati yang masih sakit.


Kata dokter jaga 24 jam yang dipanggil dan sudah melakukan pemeriksaan, Wati kelelahan secara fisik dan perlu dibawa ke rumah sakit.


Tetapi Wati tak mau. Dia tak ingin pergi ke rumah sakit, meski dipaksa banyak orang. Wati ingin menunggu Dina di kamarnya.


Sementara itu di teras rumah Dayat, sudah bertambah satu orang lagi. Seorang pria tua, lebih tua dari Andi dan Dayat yang belum mencapai usia setengah abad.


Suta kenal dengan pria tua itu, dia pengurus musholla yang tak seberapa jauh dari rumah, kurang lebih 60 meter.


"Pak Said mau minum apa?" tanya Dayat si tuan rumah sambil berdiri.


"Apa saja Pak. Bebas, kok. Yang tawar bagus, yang manis enak." Said tersenyum kecil.


"Tunggu ya, Pak." Dayat lalu masuk ke dalam rumah.


Suta yang awalnya tak tahu untuk apa dia diajak ke rumah Dayat, kini bisa meraba sebagian dengan hadirnya Said. Mungkin dia disuruh tinggal bersama Said.


"Kita tunggu air minum dulu datang ya, Pak." Andi mengangkat gelas kopinya yang tinggal setengah.


"Aman Pak RT. Lagian juga ini sudah jam sembilan malam, tak ada kerjaan lagi di musholla." Said tersenyum lagi. Dia orang yang murah senyum.


Suta memilih diam dan tak ikut bicara, meski pembicaraan Andi dan Said cukup menarik, seputar sepakbola. Dia juga suka sepakbola.


Kurang dari 10 menit, Dayat sudah datang lagi membawa nampan berisi 4 gelas kopi.


"Maaf agak lama, tadi masak air dulu," ucap Dayat.


Suta yang melihat kehadiran Dayat, bergegas bangun dan menghampiri Dayat untuk mengambil nampan.


Karena itulah, Dayat kembali masuk dan keluar-keluar membawa dua toples. Satu toples berisi kacang goreng dengan irisan bawang putih dan cabai merah, satunya kerupuk rengginang warna putih dan merah.

__ADS_1


"Wah, Kenapa baru dikeluarin sekarang makanannya Pak?" celetuk Andi.


"Biar enak aja, Pak. Kan kita menunggu kedatangan Pak Said. Biar bisa makan beramai-ramai," jawab Dayat.


*


Sebenarnya motor Abay sudah diperbaiki sejak tadi oleh Teguh, pria yang mengajaknya ikut tahlil tadi. Namun saat ini malah Abay duduk berdua dengan Teguh di teras rumah.


Teko air terbuat dari kuningan dan mempunyai tutup di mulut teko, terlihat di lantai teras bersamaan dengan dua gelas yang tinggal ampas kopinya saja. Lalu ada dua piring berisi singkong rebus dan gorengan bakwan. Ada juga plastik putih berisi kacang kulit dan beberapa iris kue bolu, boleh bawa dari tempat tahlil tadi.


"Tambah lagi kopinya ya Kang Abay." Teguh tak hanya bicara, dia mengangkat teko kuningan dan tak lupa membuka penutupnya.


Air kopi yang berada di dalam teko, kini berpindah ke dalam gelas Abay dan Teguh.


"Mas Teguh sepertinya sengaja bikin aku lama-lama duduk di sini kayaknya, nih." Abay tertawa kecil.


"Wah, berarti aku salah dong, Kang?" Teguh tertegun. "Ya, kalau Kang Abay memang ada keperluan lain, aku tak menahan."


"Tidak, aku cuma bercanda aja, kok. Baik, kita habiskan kopi dulu. Lagian ini juga baru jam sembilan dan langit cerah. Tak seperti tadi, gelap gulita dan hujan deras bercampur geledek," kata Abay menenangkan Teguh.


Teguh tersenyum lebar.


"Oya, Mas. Kalau boleh tahu, tadi kenapa ada niat mau ajak aku ke tempat tahlil?" tanya Abay.


"Itu hanya spontan saja Kang. Pikiranku, kan Kang Abay butuh motornya bisa hidup lagi. Sementara aku dapat undangan tahlil hari ketiga. Jadi ya daripada Kang Abay nunggu bengong, mending ikut aku dan membaca Yasin. Minimal kan Kang Abay juga dapat pahala," ucap Teguh.


Mendengar kata pahala, hati Abay menjerit. Pahala, apa mungkin dia bisa mendapatkan hal itu, sementara dirinya bersekutu dengan jin.


"Loh, Kang Abay kok bengong? Apa nggak suka tadi aku ajak ikut tahlil?" tanya Teguh dengan nada hati-hati.


"Eh, bukan begitu. Aku suka, kok. Cuma masalahnya, tadi hatiku berkata... apa mungkin yang tadi itu akan tercatat sebagai pahala bagiku?" ucap Abay bernada pertanyaan.


"Loh, kok Kang Abay bilang seperti itu? Apa Kang Abay ragu sama Allah? Atau Kang Abay merasa punya dosa yang amat besar?" tanya Teguh.

__ADS_1


Abay tak menjawab.


"Kang, aku ini orang bodoh. Tak punya ilmu agama yang mumpuni. Tetapi aku punya keyakinan dan kepercayaan, kalau Allah itu Maha Penerima Tobat. Jadi dari hal itu, aku percaya dosa sebesar apapun, selama kita mau bertobat niscaya Allah akan memberikan. Kecuali Iblis dan Dajjal yang memang telah diberikan keistimewaan, dosa mereka tak diampuni. Selain itu ya boleh kok. Bahkan jin aja yang penuh tipu daya disuruh ibadah, masa manusia tidak?" ucap Teguh penuh semangat.


"Tapi...." Abay mau membantah. Namun pada akhirnya dia memilih tutup mulut.


"Kang Abay kenapa?" tanya Teguh.


"Apa aku harus cerita padamu?" tanya balik Abay.


"Kalau Kang Abay merasa yakin cerita padaku, aku akan berusaha menjaga cerita Kang Abay itu menjadi rahasia bagiku. Tetapi kalau Kang Abay merasa tak perlu cerita, karena takut aib Kang Abay tersebar, jangan cerita Kang! Karena aku bisa saja bukan penjaga amanah yang baik. Tetapi selama ini, ada beberapa aib teman-temanku masih tetap terjaga segelnya," kata Teguh.


Abay merenung sejenak.


*


"Jadi begitu Suta, kami berpikir sebaiknya kamu tinggal bersama Pak Said di musholla. Bantu-bantu Pak Said bersihkan musholla. Tentu saja tak gratis, karena aku dan Pak Dayat akan kasih uang jajan buat kamu. Minimal sampai sekolahmu selesai. Kalau pun kamu mau lanjut kuliah, itu bisa kami usahakan," ucap Andi.


Ternyata benar tebakan hati Suta. Dia diajak ke teras rumah Maya hanya untuk diberikan saran tinggal bersama Said di musholla.


"Begini Suta. Sekali lagi aku ingatkan, kamu dan Ami itu tak punya hubungan darah. Sementara kalian berdua tinggal satu rumah tanpa pengawasan orang tua. Jadi demi menjaga-jaga hal yang tak baik, aku dan Pak RT mengambil keputusan ini," sambung Dayat.


"Kami tahu siapa kamu, kami percaya kamu pemuda yang baik. Buktinya kamu tak pernah berbuat kegilaan sejak tinggal di rumah Wati. Hanya saja, ke depannya kita tak tahu. Lagipula dengan kamu tinggal bersama Pak Said, kamu tak perlu takut tak makan dan tak perlu harus berjaga-jaga dari godaan setan, kan?" lanjut Andi.


"Di sini kita bicara seandainya Oma Wati terputus napasnya dalam waktu dekat ini. Jika ternyata Oma Wati bisa sehat dari sakitnya, kita tak akan melarang kamu tinggal di sana lagi. Karena yang berhak mengeluarkan kamu dari rumah ya Oma Wati," ucap Dayat.


"Selain itu, kami pikir dengan kamu tinggal di musholla itu jalan yang terbaik. Kamu tak perlu tinggal di jalan dan berpotensi tak lanjut sekolah," kata Andi.


Suta pelan-pelan mengangguk. Karena saat ini dia sedang tak bisa berpikir banyak. Sebab masih tertuju pada kesehatan Wati.


*


"Oma." Dina menangis dalam doanya. Di depannya layar ponselnya terbuka dan memperlihatkan foto Wati.

__ADS_1


__ADS_2