ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 28


__ADS_3

Dua orang bocah perempuan itu berjalan menyelusuri jalan lingkungan perumahan. Dari seragam merah putih yang mereka pakai dan juga posisi matahari yang menjurus ke barat, kedua bocah itu dalam perjalanan pulang.


Kedua bocah itu yang satu lebih cantik dari temannya, bertubuh ramping dibanding temannya yang lebih berisi, pun tingginya berbeda dari temannya yang lebih pendek.


Bocah cantik itu Dina, sementara temannya itu Maya. Mereka berdua teman sekelas di kelas IV A dan juga teman main di rumah, mereka tinggal di satu RT yang sama.


"Eh, Dina mau ke mana?" teriak Maya yang melihat Dina berlari ke arah rumah kosong di sebelah kiri mereka.


Rumah itu tak terurus. Selain tumbuh rumput liar di halaman, juga ada banyak sampah berserakan. Pagar pun dalam keadaan setengah roboh.


Maya melihat Dina seenaknya melompati pagar tanpa rasa takut sama sekali.


"Ular!" teriak suara dari rumah kosong.


"Suta, diam dan jangan bergerak!" bentak Dina yang sudah berada di dekat Suta.


Dina mengenal Suta si anak baru seminggu di kelas sebelah. Mereka saling mengenal, waktu jam olahraga bersama, pas waktu mengambil nilai lari dan senam.


Suta menurut. Dia berdiri diam dengan mata menatap takut pada seekor ular berkepala segitiga sebesar lengan. Ular bersisik hitam dengan ekor putih itu merayap di dekat kakinya.


Dina berjongkok, sekilas dia melirik ke arah tangan kiri Suta yang memegang sebuah dompet.


"Dina, hati-hati!" teriak Maya dengan wajah panik karena melihat keberanian Dina memegang ular.


"Tidak apa-apa May! Ularnya baik, kok!" Dina menengok dan tertawa pada Maya.


Maya menjerit ngeri melihat kepala ular itu berada di depan wajah Dina. Sementara Suta tak berani bersuara, takut karena dia berisik ular itu tertarik dan berbalik badan ke arahnya.


"Ih, geli!" Dina tertawa ketika lidah ular yang bercabang dua dan berwarna keunguan itu menjilat pipinya.


Lalu Dina berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah kosong yang pintunya terbuka.


"Dina mau ke mana?" tanya Maya cemas. Dia tak bisa mengejar karena dia takut melompat pagar.


Berbeda dengan Suta yang segera mengambil jurus langkah seribu. Dia menaiki pagar yang setengah roboh. Lalu melompat dan berdiri di samping Maya.


"Ah, lega!" seru Suta bersyukur.


"Iya, tapi nasib Dina gimana?" cemas Maya sambil banting kaki kirinya.


"Loh, kamu kan tadi lihat sendiri, Dina tak takut ular. Dia hebat!" Suta mengacungkan jempol.


"Iya, beda sama kamu yang ketakutan. Mukamu saja masih pucat, tuh!" ejek Maya.

__ADS_1


"Coba kamu tadi di sana!" Suta menujuk ke tempat dia berdiri tadi di halaman rumah. "Tanggung kamu bakal langsung kurus!"


"Ih, ngeledek ya! Aku itu gemuk karena biasa makan enak. Memangnya kamu, paling makan oncom terus!" Maya melotot ke Suta yang bertubuh tinggi kurus.


"Eh, kok kamu bisa tahu kalau aku suka makan oncom? Ah, aku tahu... kamu cinta ya sama aku yang ganteng ini?" tawa Suta keras.


"Idih, jangan kebanyakan nonton sinetron, dong! Masih kecil, belum boleh pacaran!" Maya menatap kesal.


"Eh, Dina udah keluar!" Suta menujuk ke Dina.


Tampak Dina berjalan santai dari dalam rumah menuju ke tempat kedua temannya berdiri. Dia baru saja dari kamar belakang rumah kosong, melepas ular yang ditangkap. Dia sedikit agak lama karena dia berbicara pada ular. Meminta ular itu tak keluar dari rumah kosong, kalau bisa pergi saja yang jauh ke tempat tiada manusia melalui lubang air.


Tetapi yang terjadi, ular itu berganti rupa menjadi wanita muda berwajah oval yang cantik dengan dagu panjangnya dan berbelah. Dia memakai gaun hitam dan putih.


"Sudah kuduga, Kakak bukan ular asli! Kakak cantik!" puji Dina.


"Hihihi, salah besar! Aku ini jin, keadaan diriku yang asli jauh dari kata cantik. Apa kamu mau melihat wujud sebenarnya diriku, Dina?"


"Tak perlu!" Dina menggeleng. "Eh, iya... kok, bisa tahu namaku?"


"Aku ini jin, jadi aku bisa mengawasi dirimu semau diriku. Oya, namaku Bwalika. Mari kita berteman!"


"Namanya susah, aku panggil Lika saja, ya!" seru Dina.


Dina berpikir sejenak, lalu dia mengangguk.


"Asal kamu tak mengigit manusia, ya boleh saja!"


"Itu bisa dipenuhi! Aku hanya akan menggigit orang yang jahat padamu saja!" Bwalika tertawa.


"Jangan!" Dina cepat mencegah.


"Kenapa?" Bwalika tampak bingung.


"Orang jahat itu akan dapat hukumannya sendiri. Kan ada penjara. Terus juga ada dosa," jawab Dina seenaknya. "Lagian kan bisa maaf-maafan. Jadi yang jahat bisa berubah baik."


Bwalika ingin tertawa, tetapi dia tahan itu. Karena yang diucapkan Dina itu sebuah pemikiran yang polos dan lugu.


"Aku keluar, kasihan temanku menunggu di luar!" Dina putar tubuhnya dan melangkah pergi.


Senyum Bwalika baru menghilang, ketika bayangan tubuh Dina menjauh.


"Anak yang baik. Meski aku harus berkorban jiwa, aku rela. Semoga saja di usia menjelang dewasa nanti, dirimu tak mengalami kejadian yang menakutkan Dina!" bisik Bwalika yang tubuhnya menghilang perlahan-lahan.

__ADS_1


Kembali pada Dina yang telah berkumpul dengan Maya dan Suta.


"Kamu ngapain tadi?" tanya Dina dengan sorot menuntut penjelasan.


"Karena dompet ini!" Suta menunjukkan dompet warna merah kusam dengan motif bunga.


"Paling dompet kosong," celetuk Maya.


"Enak aja! Ada kok, tadi aku raba eh ada isinya. Cuma belum dilihat aja!" jawab Suta yakin.


"Coba dibuka!" pinta Maya cepat.


"Tunggu, dulu!" cegah Dina.


Tangan Suta yang mau membuka resleting dompet tertunda. Kepalanya yang menunduk, kini terangkat dengan mata menatap Dina.


"Kamu kok bisa melihat ada dompet di tempat tadi?" tanya Dina.


"Oh, itu melihat tak sengaja. Waktu aku menendang kaleng minuman kosong di depan pagar. Eh, mataku melihat ada dompet. Terbayang kalau ada uang di dalamnya, ya aku ambil!"


"Hihihi, mata ijo." Maya terkekeh geli.


"Memangnya kamu enggak apa? Aku yakin, jajan kamu pasti banyak kan?" sindir Suta cepat.


"Idih, kok tahu? Wah, jangan-jangan kamu suka perhatiin aku. Cinta ya?" tanya Maya mengulang ucapan Suta, yang dia modifikasi sedikit.


Suta melotot.


"Hehehe, sudah kalian tak usah ribut. Nanti kalau udah gede, malah saling suka. Maksudku saat udah nggak sekolah lagi, kalau masih sekolah kewajiban kita ya belajar!" cerocos Dina.


"Setuju!" sorak Maya.


"Ini dompetnya jadi dibuka apa nggak?" tanya Suta.


"Buka, buka, buka!" Maya berkata sampai tiga kali. Matanya menatap ke dompet.


Suta pun membuka dompet. Tetapi begitu terbuka, dia mengeluarkan gulungan kertas yang diikat tali gelang, masih ada uang koin pecahan seratus rupiah berjumlah lima, terakhir ada kertas lain yang kumal.


"Ya, isinya cuma seribu lima ratus perak," ucap Suta dengan telapak tangan terbuka memperlihatkan apa yang dia dapat dari dalam dompet.


"Maya, pulang yuk! Harta karun yang didapat Suta tak bisa dibagi-bagi." Dina menarik tangan Maya.


"Suta, selamat jajan permen telor cicak, ya!" Maya tertawa ngakak.

__ADS_1


Tetapi mendadak perjalanan Dina dan Maya terhenti.


__ADS_2