ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 105


__ADS_3

Pagi-pagi Abay pamit dari Teguh. Semalaman mereka berdua tidak tidur.


Namun subuh tadi merupakan subuh paling nikmat bagi Abay. Dia kembali jalankan ibadahnya setelah bertahun-tahun dilupakan.


Sejak Abay berpisah dengan Endah, ibunya Dina. Dia masih menjalani ibadahnya, meski bolong-bolong. Namun setelah dia bertemu Nyi Malini, menjadikan manusia ular itu sebagai istri rahasianya, semua berubah.


Tak ada lagi keinginan Abay untuk ibadah. Yang dia tahu hanya jalani hidup, tanpa perlu meminta ampunan. Senang-senang dengan dosa sebagai bonusnya.


Walau di sisi lain Abay sering memberikan bantuan uang bagi Wati, tetapi itu belum cukup untuk membayar lunas dosanya. Meski dia cukup sering hambur-hambur uang buat orang lain yang dia anggap membutuhkan, itu pun belum bisa menghapus dosanya.


Kecuali Abay mau melepaskan Nyi Malini. Dia harus berpisah dengan istri rahasianya itu. Tetapi dia tak tahu caranya seperti apa. Satu sisi lain, dia teringat pada ancaman Nyi Malini beberapa tahun lalu.


Kala itu Abay bertanya pada Nyi Malini, jika dia mempunyai keinginan untuk melepas jabatannya sebagai juru kunci dan suami bagi Nyi Malini.


"Jika kamu mau pergi, aku tak akan memaksa. Pergilah, tetapi aku akan ambil semua yang pernah aku berikan padamu. Berikut bunganya, yakni kamu harus tinggal di istanaku sebagai budak untuk waktu yang cukup lama. Jika di dunia, maka itu bisa berusia setahun atau tiga tahun. Sementara itu, tubuhmu yang terkesan mati akan menjadi masalah. Jika tubuh kaku dan dinginmu dibenamkan ke kubur, maka kamu akan selamanya berada di istanaku. Karena kamu mati dikubur hidup-hidup, seperti korban tumbal yang selama ini aku ambil."


Abay pun tak berani. Dia tak mau kembali jatuh miskin. Namun yang paling memberatkan, siapa yang tahu jika sebenarnya dia belum mati dan hanya tertidur panjang. Dia percaya, begitu ada seorang yang melihat tubuhnya kaku dan bersuhu dingin, gelapnya liang lahat akan menjadi rumah barunya.


Tetapi ada satu hal lagi yang sengaja tak diberi tahu Nyi Malini. Abay jika pun berhasil melewati waktu menjadi budak di istananya dan kembali hidup di dunia manusia, Abay akan menjadi orang gila.


Lamunan Abay telah habis. Dia sudah sampai di rumahnya, rumah yang tak diketahui Dina dan yang lainnya. Padahal jaraknya tak terlalu jauh, hanya sekitar 1 kilo. Tetapi tak ada yang bisa tahu di mana dia tinggal, sebab keadaan dirinya ketika pulang ke rumah itu disembunyikan Nyi Malini.


Namun saat Abay membuka pintu pagar, dia sedikit tertegun. Ada perasaan takut dan keinginan untuk kabur. Tetapi pada akhirnya, dia memilih untuk masuk ke dalam rumah. Sebab dirinya dipanggil suara Nyi Malini yang mengucap rindu dengan penuh kemesraan.


Bisikan Nyi Malini itu mengatakan, dirinya menunggu untuk memberi hadiah bagi Abay, karena tumbal yang semalam telah berhasil ditangkap.


Tetapi Abay sebenarnya tertipu.


*


Pagi-pagi Dina sudah siap untuk berangkat. Dia tak membawa barang banyak, hanya sebuah tas ransel berisi pakaiannya saja. Kalung pemberian Sasan sudah dipakai, begitu juga tasbih yang dia jadikan gelang.

__ADS_1


Rencananya Sasan akan mengantar Dina sampai ke tempat agen travel. Dia sudah siap di atas motor yang dihadiahkan Nini Ai. Entah ke mana Nini Ai, setelah mengatakan mau pergi dari rumah, sejak itu tak pernah pulang, meski hanya sesaat.


Saat ini Dina sedang berpelukan dengan Euis. Sementara Kukun berdiri diam dengan wajah pucat dan kecewa.


Jika Euis menangis karena merasa kehilangan sahabat terbaiknya, Kukun bersedih hati karena cinta tak terbalas.


"Kamu jangan lupa, main ke sini dan bawa suamimu!" ucap Euis sambil menghapus air matanya, setelah melepaskan pelukannya.


"Waduh, kamu ini ada-ada saja. Aku masih belum kepikiran nikah muda. Masih ada yang harus dikerjakan. Memangnya kamu, udah ngebet tuh sama Kukun," goda Dina sambil melirik Kukun.


Jika Euis tersipu malu, Kukun diam saja.


"Eh, Kun... dengar ya! Seharusnya kamu bisa mengalihkan cintamu untuk Euis. Jujur saja, aku tahu kamu cinta padaku. Tetapi aku tak bisa menerima cintamu, karena aku tahu kamu bukan jodohku. Nah, di sini ada Euis, kamu harus bisa jaga dan cintai dia baik-baik," ucap Dina tanpa ditutupi.


Kukun merasa harga dirinya sedikit terkoyak. Sebab Dina bicara dengan suara cukup keras. Hingga Sasan tertarik perhatiannya.


"Siapa bilang aku cinta kamu sebagai pacar. Aku cuma sayang sama kamu sebagai teman," jawab Kukun menutupi rasa malunya.


Euis tersenyum lebar, dia mengerling ke Kukun. Kukun menatap Euis, dia sudah tahu sejak dulu Euis ada suka padanya, sejak masih SD malah.


Tetapi waktu itu Euis masih terlihat jelek. Sekarang, Kukuh merasa Euis punya daya tarik tersendiri.


Dina pun naik ke atas motor dan melambai tangan pada kedua teman terbaiknya, selama tinggal di rumah Nini Ai. Kini mereka harus berpisah dan dia akan bertemu lagi dengan teman terbaiknya yang lain, yakni Maya.


Dalam benaknya, Dina bertanya-tanya bagaimana rupa Maya saat ini, apa lebih gemuk lagi atau sudah berubah banyak. Dia tak bisa menelepon Maya, karena memang selama dia tinggal bersama Nini Ai, dia lupa membawa ponselnya yang lama.


Hingga Dina tak tahu kabar dari Maya dan sebaliknya.


Namun selain ingin bertemu Maya, yang sangat dinantikan Dina itu pertemuannya dengan Wati.


Apa neneknya itu baik-baik saja?

__ADS_1


Meski Wati bukan nenek kandung Dina, tapi bagi Dina sudah seperti neneknya yang asli.


Teringat Wati, hati Dina terasa dingin. Sejak semalam dia merasa keadaan Wati tak baik-baik saja.


Jika ada Wati, maka ada Ami.


Dina tak tahu bagaimana dia harus merespon pertemuannya dengan Ami. Apa Ami sudah berubah? Atau masih seperti dulu, bermulut dua yang bicaranya mengandung racun.


Dina pun menunggu waktu pertemuannya dengan Wati, Maya dan Ami dengan tak sabar.


*


Pagi-pagi Wati membuka matanya. Dia melihat Ami tertidur di lantai. Ya, saat subuh tadi Ami berada di dalam kamar Wati. Bergantian dengan Suta yang pergi ke musholla.


Wati pun memanggil Ami yang masih memakai mukena dan ketiduran di atas sajadah.


Ada senyum Wati terkembang, karena dia melihat Ami terlihat cantik dengan memakai mukena. Bisa dibilang, dia hanya 2 kali dalam setahun bisa melihat Ami memakai mukena. Sisanya bisa dibilang, susah baginya menyuruh Ami beribadah.


Tetapi bukan berarti Ami tak beribadah, dia tetap jalankan ibadahnya. Tetapi itu juga kalau lagi mau saja. Kalau tidak mau, dia tak akan pergi ibadah. Kecuali saat hari raya, jika tidak sedang menstruasi, maka dia akan menemani Wati pergi ke lapangan RW untuk ikut sholat Ied.


"Oma sudah sadar?" tanya Ami sambil membuka mukenanya.


"Pakai lagi mukenanya, Oma mau lihat!" pinta Wati.


"Buat apa Oma, kan aku sudah selesai Subuh. Oya, Oma lapar tidak? Itu di depan ada tukang bubur ayam lewat."


Di luar memang terdengar suara tukang bubur ayam berteriak.


Ami lalu berjalan keluar. Dia tak peduli dengan permintaan Wati.


"Jika saja Dina, tentu dia mau menerima permintaanku. Oh, Ami... semoga kamu dapat jalani hidup ini dengan baik seorang diri ya, Nak."

__ADS_1


__ADS_2