
"Tidak bawa. Apa perlu bawa cincin itu Ni?" tanya Dina.
"Oh, ya sudah. Kita terus masuk saja." Nini Ai pun bergerak untuk membuka pagar rumah.
"Apa cincin itu sangat diperlukan Ni? Kalau iya, aku bisa minta diantar ke sini," ucap Dina.
"Tak perlu, cincin itu bisa jadi sudah tak ada gunanya. Meski pun ada, melawan banyak manusia ular pun mungkin akan percuma. Kamu harus andalkan dirimu sendiri nanti, tapi jangan lupa tetap berdoa dan meminta bantuan pada Maha Kuasa."
"Aku paham Ni." Dina mengangguk hormat.
Pintu pagar pun dibuka. Dina menutup terlebih dahulu pagar rumah, baru mengikuti Nini Ai.
"Bau amis ularnya kuat sekali Ni," bisik Dina.
Saat itu Nini Ai tak menjawab, karena telunjuk kanannya mengarah ke celah pintu. Dari telunjuknya keluar sinar putih.
Dina melihat ada kepala ular kecil warna putih yang menjulur keluar melalui celah pintu, pecah kepalanya terkena sinar putih dari telunjuk Nini Ai.
"Kamu bersiap!" perintah Nini Ai.
Dina menjawab dengan mengucap doa yang pernah diajarkan Nini Ai padanya. Selepas berdoa, terlihat perubahan di wajahnya.
Saat ini sepasang mata Dina bersinar lebih tajam lagi, ada semangat api yang kuat. Garis wajahnya pun terkesan kuat, hingga kecantikannya berganti dengan kegagahan yang anggun.
Nini Ai tak menaruh tangannya ke daun pintu. Tetapi meski begitu, pintu terdorong terbuka dengan tenaga angin yang keluar dari telapak tangannya.
Telinga Nini Ai dan Dina mendengar suara desis yang ramai, bunyi tanda kemarahan dan siapnya ular untuk menyerang musuhnya. Dalam hal ini tentu saja kedua manusia yang akan masuk ke dalam rumah Abay.
Begitu langkah kaki Nini Ai dan Dina masuk ke dalam rumah, mata mereka melihat bukit ular.
Bukit ular tersebut pecah dan runtuh, longsoran ular tersebut bak banjir bandang menyerah ke arah Nini Ai dan Dina. Gelombang air bah ular berusaha menyerang ke arah Nini Ai dan Dina.
Ular besar dan kecil jenis berbeda, satu yang sama semuanya ular beracun. Uap racun ketika para ular membuka mulut membuat udara di dalam rumah terasa lebih panas.
__ADS_1
"Tahan napas!" teriak Nini Ai yang sibuk gerakan kedua tangannya ke arah para ular.
Kalau saja tak ada Nini Ai, Dina kemungkinan akan bingung dan memilih kabur. Jika hanya satu sampai sepuluh ekor ular, tentu Dina tak takut. Ini jumlahnya ratusan.
Angin dari tangan Nini Ai membuat sebagian ular terpental ke belakang, ada yang mati tapi ada juga yang masih bisa bergerak untuk menyerang lagi.
Dina tak tinggal diam, dia juga gerakan tangannya. Hingga dia melihat tubuh Abay yang sudah ditinggal para ular penjaga tubuhnya.
Tadi Dina tak terlalu memperhatikan. Kini setelah tahu ada Abay, dia timbul amarah. Sepasang matanya semakin bersinar dan mendadak dia menjerit keras.
Setelahnya Dina mengamuk. Dia injak kepala ular, dia membungkuk untuk menyapu ular dengan tangannya. Kadang dia ambil ular lalu membanting ke lantai.
Penjagalan luar biasa. Darah pecah, cairan racun ular bertebaran, tubuh ular hancur dan bangkai berserakan.
Dina masih mengamuk. Nini Ai tak kuasa mencegah. Hingga mendadak Dina jatuh pingsan karena tak kuat menahan uap racun.
Namun tangan Nini Ai berhasil menangkap seekor ular kecil berwarna emas, yang hampir saja menggigit ke arah jantung Dina.
Kesal, Nini Ai lalu meremukkan kepala ular emas dengan cengkraman tangannya.
Habis sudah ratusan ekor ular yang disuruh Nyi Malini menjaga tubuh Abay. Tak tersisa satupun dan tak ada yang bisa melarikan diri.
Yang tersisa hanya Nini Ai saja yang bisa berdiri di atas kakinya. Dina tak ada masalah, hanya pingsan saja.
Nini Ai menghela napas. Dia biarkan Dina tertidur pingsan di sebelah Abay, dia baru pindahkan tubuh gadis itu.
Selanjutnya Nini Ai bekerja untuk membereskan bangkai ular dalam satu tumpukan.
Setelah semua bangkai menjadi satu, Nini Ai mencari korek api ke dapur. Setelah ketemu satu korek api gas, dia kembali ke ruang tamu.
Sebelum membakar ular, Nini Ai menutup lebih dulu pintu rumah. Kemudian dia berjalan ke arah tumpukan bangkai ular yang tingginya seperti tinggi tubuhnya.
Beruntung di ruang tamu rumah Abay tak memiliki banyak barang, hanya ada kursi ruang tamu saja, hingga sisa ruangan cukup besar untuk menampung ratusan bangkai ular yang ditumpuk menjadi satu.
__ADS_1
Nini Ai lalu merapal doa dan setelah itu dia menyalakan korek api gas. Tak lama dia meniup ke arah api kecil yang menyala itu.
Ajaib, angin dari korek mendadak membesar setelah ditiup Nini Ai. Api besar itu seperti semburan naga saja, hingga membakar ratusan bangkai ular. Anehnya api itu hanya membakar bangkai, tak ada asap dan tak juga menimbulkan bekas gosong di dinding ruang tamu yang bercat putih.
Nini Ai menunggu hingga seluruh bangkai habis terbakar, ketika api padam yang tersisa hanyalah abu belaka.
Setelah itu Nini Ai berjalan ke arah Dina dan Abay. Lalu dia duduk bersila di samping lengan kanan Dina.
Korek api gas yang masih berada di tangan Nini Ai, kini berpindah di telapak tangan Dina. Lalu Nini Ai keluarkan sebuah obat berbentuk bulat warna hitam, persis biji buah kelengkeng.
Obat dimasukan ke dalam mulut Dina.
"Maaf ya Dina, Nini sengaja bikin kamu pingsan karena menghirup uap racun ular. Karena kamu butuh untuk masuk ke dalam dunia ular, menjemput Abay. Nah, Nini hanya kasih kamu bekal korek api, semoga kamu tahu apa fungsi dari korek api itu," ucap Nini Ai sambil menatap wajah Dina.
"Sekarang bersiaplah, jiwamu akan berpetualang di dunia manusia ular itu. Ambil jiwa Papamu dan lepaskan jiwa-jiwa yang menjadi budak di sana. Kamu pasti bisa, yakinlah pada kekuatan Maha Kuasa." Nini Ai membelai pipi Dina.
Lalu kemudian tangan Nini Ai yang kiri menempel di kepala Dina dan yang kanan berada di ulu hati Dina.
"Ingat Dina, kamu harus berjuang dengan keras, jika tidak sanggup kamu cepat buka matamu."
Dina sepertinya mengerti, dia tampak mengangguk.
Lalu Nini Ai merapal doa dengan kedua tangan berada di tubuh Dina, seperti semula telapak tangan yang kiri di atas kepala dan yang kanan di ulu hati Dina.
***
Dina berdiri bingung. Dia tak tahu dia ada di mana, yang dia tahu di depannya itu ada sebuah lorong cahaya putih.
Ketika Dina tak tahu apa yang harus dia lakukan, mendadak tubuhnya terhisap masuk ke dalam lorong yang berbentuk tabung itu.
Di dalam tabung lorong tak ada yang bisa dilihat Dina, kecuali kabut putih saja. Hingga dia mendengar ucapan Nini Ai di telinganya, yang intinya dia harus menolong jiwa Abay dan lainnya.
Dina sudah siap.
__ADS_1