
Abay telah sadar. Dia kaget karena melihat Suta berdiri di dekatnya. Sudah cukup lama dia tak bertemu Suta. Sejak Dina pergi dari rumah Wati, hanya terhitung beberapa kali Abay menemui Wati dan melihat Suta.
Tetapi akhirnya, setelah kasus Maya yang gagal dijadikan tumbal. Abay tak pernah datang lagi ke rumah Wati.
Kini Suta berada di dekatnya. Abay yang menatap Suta tercekat, karena dia seperti melihat sosok Sasan pada diri Suta, meski ada sebagian paras Lala juga.
"Kamu Suta, kan?" tanya Abay setengah tak percaya. Karena yang dia ingat, dia tertabrak motor dan sepertinya dia tak mengabari Wati.
Bagaimana mau mengabari Wati, jika Abay jatuh pingsan.
"Iya, Pa," jawab Suta yang memang menyebut Abay sebagai papa. Mengikuti gaya Ami.
"Kamu tahu Papa di sini?" tanya Abay lagi.
"Tadinya tak tahu. Eh, secara tak sengaja melihat Papa. Jadi tahu, deh."
"Secara tak sengaja seperti apa maksudmu?" Abay kebingungan.
"Oma Wati kan sakit Pa. Tadi sempat di rawat di ruang IGD ini. Tetapi sekarang sudah di bawa ke kamar khusus, koma. Apa sebabnya, aku belum tahu. Karena sejak tadi menunggui Papa."
"Oma koma, kamu tahu darimana?" tanya Abay dan itu pertanyaan yang aneh. Karena saat ini saja dia berada di rumah sakit.
Apa mungkin Abay tak mendengar Suta menyebut ruang IGD?
Apa Abay tak melihat dirinya berada di mana?
Entahlah, yang pasti saat ini Abay sedang menatap ketakutan ke arah belakang Suta. Hanya saja Suta belum 'ngeh'.
"Ya, tahu dong Pa. Satu, kita ada di rumah sakit. Dua, waktu aku menemukan Oma pingsan di rumah, aku pasang kaca di dekat hidungnya ada ada embun tipis di atas kaca. Tiga, terus bawa deh Oma ke sini. Empat, berdasarkan keterangan dokter yang aku dengar, Oma harus dibawa ke ruang khusus untuk bisa tetap hidup dengan bantuan alat khusus."
Tetapi Abay tak mendengar ucapan Suta itu. Kepalanya bergerak-gerak, seakan ingin sembunyi dan tak mau terlihat wajahnya.
Abay melihat di belakang Suta berdiri Nyi Malini.
Namun meski wajah Nyi Malini terkesan angker, dia tak bergeming di tempatnya. Sama sekali tak menunjukkan dirinya berhasrat maju ke depan menghampiri Abay.
Walau Suta sedang tak memakai cincin yang masih berada di tangan Yuri, hanya saja di garis jari Suta ada terbentuk garis seperti cincin. Dari garis itulah terlihat sinar hijau keputihan tipis yang ditakuti Nyi Malini.
Suta tak tahu keberadaan Nyi Malini, Abay tak paham Nyi Malini takut pada Suta. Jika saja Abay mengetahui Nyi Malini tak mau mendekat karena ada Suta di dekatnya, dia mungkin tak akan berpisah dengan adik beda ibunya Dina itu.
Nyi Malini lalu mengundurkan dirinya, dia berikan senyum dan kerling memikat pada Abay.
Abay tertegun.
__ADS_1
"Papa kenapa?" tanya Suta yang merasa bingung.
"Tidak apa-apa. Oh, ya... kita harus keluar dari sini" ucap Abay.
***
Abay beberapa kali harus mengucapkan terima kasih pada Dayat, bapaknya Maya itu menolongnya membayar biaya rumah sakit.
Abay lupa uangnya telah diberikan ke bocah tak dikenal itu.
Saat ini di depan kamar khusus berdiri Ami ditemani Maya dan Suta. Mereka berdiri di depan kaca jendela menatap Wati yang tidur di ranjang pasien dengan banyaknya alat kedokteran di dekat Wati.
Seperti pasien koma biasanya. Ada monitor yang berfungsi memonitor kinerja organ tubuh seperti detak jantung, kadar oksigen dalam darah, tekanan darah dan lainnya. Lalu ada ventilator, infus dan banyak lainnya.
Ketiga remaja tersebut berdiri diam.
Di belakang mereka, di bangku duduk Marina ditemani Tini istrinya Andi. Lalu Abay, Dayat dan Andi.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Ibu Wati?" tanya Abay setelah merasa cukup bicara terima kasih pada Dayat dan berjanji akan membayar hutangnya itu.
Walau Dayat menolak dibayar.
Dayat dan Andi saling menatap lebih dulu. Andi memberi kode untuk Dayat membuka mulut pertama kali.
"Namun kata dokter, ruh nya seperti tak mau pergi. Ada hal yang mengganjal," sambung Andi.
"Kebetulan dokter yang menangani ini termasuk bagus ilmu agamanya," lanjut Dayat.
"Dia guru ngaji di rumahnya, terus juga termasuk aktif di mesjid dekat tempat tinggalnya," timpal Andi.
"Sudah terbiasa pula bimbing orang yang sedang sakaratul maut," imbuh Dayat.
"Menurut dokter itu, namanya dokter Wahid, Ibu Wati sepertinya belum rela pergi dari dunia ini." Andi menarik napas panjang.
"Dia seperti menunggu kedatangan seseorang," jelas Dayat.
"Pasti Dina!" serobot Abay yang saat Andi dan Dayat bicara tadi, kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri.
Pasalnya Abay duduk di tengah-tengah. Sementara tadi Andi dan Dayat saling bergiliran bicaranya.
"Kami berdua berpikir seperti itu!" tegas Dayat.
"Kang Abay tahu di mana Dina sekarang?" tanya Andi.
__ADS_1
"Aku tak tahu Pak RT. Sudah dua tahun ini Dina tak ada kabarnya." Abay menghela napas.
Semua orang terdiam.
*
Dina telah sampai di depan rumah Wati. Dia membonceng ojek motor selepas turun dari mobil travel di halaman kantornya. Dari tempat itu sampai ke rumah ada sekitar 10 kilo lagi.
Ketika dalam perjalanan menuju rumah Wati siang ini, langit mendung dan petir beberapa kali turun ke bumi.
"Pak ini uangnya," ucap Dina sambil memberikan uang sebesar seratus ribu.
Dina membelakangi rumah Wati. Rumah yang dirindukannya selama dua tahun terakhir.
"Neng, kembaliannya kurang dua puluh," jawab si Bapak ojek.
"Bawa saja semua Pak. Tadi saya lupa bilang tak usah dikembalikan." Dina tersenyum, lalu memutar tubuhnya.
"Neng."
Dina yang baru saja mengucap salam sekali itu, menengok ke belakang.
"Neng serius nih kasih uang ongkos sebanyak ini?" Uang seratus ribu pemberian Dina diperlihatkan lagi oleh si Bapak ojek.
"Serius, Pak. Ambil aja!" Dina tersenyum geli.
"Tapi ini saya nggak lagi di rekam kan Neng?" tanya si Bapak ngasal.
"Pak, maaf saya ingin sekali bertemu sama Oma. Sudah kangen!" ucap Dina yang tak ingin berlama-lama bicara dengan si Bapak ojek.
Bapak ojek pun pamit dari hadapan Dina.
Mungkin karena cuaca gelap dan angin yang cukup kencang berhembus, ditambah sinar biru dari langit yang berasal dari petir, membuat suasana depan gang rumah Wati terlihat sepi.
Karena itu Dina tak bisa mendapat kabar, jika di rumah saat ini tak ada orang. Semua sedang di rumah sakit, menunggu Wati yang dibawa ke rumah sakit.
Hujan turun mendadak.
Dina yang tak bisa masuk ke dalam rumah, karena pagar terkunci. Terpaksa berdiri basah-basahan.
Terpaksa Dina pun berlari mencari tempat perlindungan.
"Dina, ya! Sini masuk!"
__ADS_1