
Purnama berganti purnama, waktu pun berlalu cepat. Tak terasa sepuluh bulan sudah sejak kematian Poppy.
Perubahan terjadi pada banyak orang. Begitu juga pada diri Abay, walau dia masih teringat tentang anak kandungnya yang baru berupa gumpalan daging dan darah, yang harus gugur di tangan Nyi Malini, tapi dia terpaksa menjalankan hidupnya seperti biasa lagi.
Tugas Abay ada dua, mencari pengikut baru dan memberi tumbal untuk menjadi budak di kerajaan Nyi Malini.
Pagi ini, di hari orang masih sibuk bekerja karena belum waktunya akhir pekan, Abay parkir motornya di dekat gerobak kecil pedagang ketupat sayur. Gerobak yang berdiam diri di pinggir jalan, di dekat pohon besar.
Wajah pedagang ketupat sayur yang awalnya mendung, kini berubah cerah sama dengan keadaan langit yang terang. Dia berdiri dari duduknya dan menghampiri Abay yang baru turun dari motor.
"Mau beli ketupat Kang?" tanya si pedagang ketupat sayur yang juga seorang pria berusia sekitar empat puluhan.
"Oh, ini bukan nasi kuning ya Kang?" Abay balik bertanya.
"Bukan, Kang. Ini ketupat sayur," jawab si pedagang ketupat dengan nada kecewa.
Padahal kalau Abay jadi membeli sepiring, akan menjadi piring yang ketiga yang terjual dalam waktu hampir sembilan puluh menit berjualan. Sejak pukul setengah enam gerobak nangkring di tempatnya, sekarang mendekati jam tujuh pagi.
"Pakai sayur apa?" tanya Abay.
"Sayur soun dicampur petai dan irisan tempe tahu kecil-kecil. Ada telur rebus, tempe sama tahu nya juga dipotong agak besar. Enak kok, Kang!" rayu si pedagang ketupat sayur.
"Duh, cari nasi kuning di mana ya, Kang?" tanya Abay dengan mata menatap jauh ke arah jalan, tetapi diam-diam matanya melirik ke si pedagang.
Pedagang ketupat sayur membuang napas kecewa, karena Abay sekedar bertanya bukan membeli. Tetapi dia pun harus membuka mulut, kasihan pada Abay biar tak tersesat jalan.
"Ke depan lagi Kang, sekitar lima ratus meter. Pastinya nggak tahu, belum pernah ukur jalan soalnya. Repot, soalnya cuma punya penggaris plastik tiga puluh senti panjangnya. Bikin capai, kan?" terang si pedagang ketupat sayur dengan nada bercanda, biar hati tak terlalu kecewa karena gagal dapat pelanggan.
"Hahaha, bisa aja si Akang ini. Ya, udah satu piring ketupat sayurnya komplit. Kasih dua telur, tempe sama tahu di piring pisah. Oya, kerupuk juga di piring beda ya." Abay tertawa.
"Nggak jadi beli nasi kuning Kang?" tanya si pedagang ketupat dengan wajah yang kembali berubah ceria.
"Loh, memang dari awal niatnya mau sarapan ketupat sayur. Habisnya kasihan, lihat si Akang duduk manyun seorang diri. Mana dari jauh udah terlihat dirubungi lalat lagi. Hahaha."
"Bisa aja si Akang. Ya, udah duduk dulu Kang. Mau pedas atau tidak ketupatnya?"
"Pedas, dong!" jawab Abay yang lalu berjalan ke arah bangku kayu panjang yang bisa dipakai untuk dua orang.
__ADS_1
Selain bangku panjang itu, ada juga tiga bangku plastik bakso yang kosong tak terisi. Sayangnya tak ada meja. Tetapi cukuplah bangku bisa dimanfaatkan untuk menaruh piring.
"Kang, ada minum kan?" teriak Abay di kursinya. Dia memilih duduk di kursi plastik dan menata bangku kayu panjang di depannya.
"Teh pahit mau kan Kang?"
"Ok," jawab Abay singkat, padat dan jelas.
Tak lama pesanan Abay pun datang. Yang pertama kali diberikan itu piring berisi ketupat yang diiris dan diberi kuah berwarna putih kekuningan, di mana terlihat soun yang bercampur dengan irisan tempe, tahu dipotong memanjang tipis dan tak tertinggal hijaunya petai sebagai pelengkap. Piring satunya lagi terisi dua telur rebus, tempe dan tahu coklat.
Kemudian datang lagi sepiring kerupuk merah kecil-kecil dan tempat sambal. Sisanya segelas teh pahit pun diberikan.
Dua piring berada di atas bangku kayu, sementara satu piring berisi ketupat berada di telapak tangan kiri Abay. Beberapa kali Abay menyendok sambal dan dicampur ke piring ketupatnya.
Selama proses makan, Abay sengaja tak mengajak bicara si pedagang. Hanya saja mulutnya berdecap-decap keenakan.
"Enak ini!" seru Abay.
Berikutnya pujian Abay berganti.
"Lezat dan sedap!"
Abay sempat mendengar helaan napas si pedagang ketupat sayur yang resah, gelisah dan sedih.
"Kang, berapa semua?" tanya Abay.
Lamunan si pedagang ketupat sayur pun terhenti. Dia menengok ke Abay lebih dulu, baru bangkit berdiri dan menghampiri Abay.
"Ketupatnya aja itu enam ribu. Telur tiga ribuan, tempe sama tahu seribu satunya. Jadi total...." Jemari si pedagang ketupat sayur tampak menghitung.
"Ini, tak perlu dihitung lagi. Ambil semua!" Abay lambaikan uang berjumlah lima ratus ribu.
Tetapi bukannya menerima, si pedagang ketupat sayur malah celingukan ke kanan-kiri, sempat pula berputar badan dan berdiri membelakangi Abay.
"Cari apa Kang?" tanya Abay.
"Kamera, Kang!" sahut si pedagang ketupat sayur, yang tak lama badannya kembali menghadap Abay.
__ADS_1
"Kamera apa?" tanya Abay lagi dengan kening berkerut.
Sekejap Abay sadar akan arti kelakuan aneh si pedagang ketupat sayur. Tawanya pun pecah.
"Hahaha, aku ini bukan orang yang suka ngerjain orang lain dengan membikin apa itu namanya... kontan, ya?"
"Konten, Kang. Aku baca itu!" ralat si pedagang ketupat sayur.
"Iya, itu. Aku tak bikin itu kok, Kang. Uang ini murni aku berikan sebanyak ini, karena aku menghargai lebih rasa ketupat sayur yang Akang jual, lezat dan nikmat. Lihat, nih!" Abay sedikit mengangkat bajunya dan memperlihatkan perutnya yang berubah besar seperti mangkuk.
"Terima kasih ya, Kang."
Uang pun berpindah tangan dan tinggal dengan nyaman di kantung saku kaos si pedagang ketupat sayur.
Abay tak langsung pergi. Dia menanti si pedagang ketupat sayur selesai mengangkat piring kotor dan gelas kosong.
"Nambah air teh segelas berapa Kang?" teriak Abay.
"Tak perlu bayar, gratis. Jangankan satu gelas, satu teko juga boleh Kang," jawab si pedagang ketupat sayur untuk membalas kebaikan Abay.
"Cukup segelas Kang. Kalau kurang nanti tambah lagi, deh. Kalau satu teko mana kuat," sahut Abay.
Segelas air teh pahit pun diberikan untuk Abay lagi.
"Namanya siapa Kang?" tanya Abay.
"Jajang, Kang."
"Aku, Abay. Duduk dulu, Kang. Kita ngobrol. Iseng nih, soalnya aku tak ada kerjaan lain."
Jajang mengambil bangku plastik yang lain, lalu duduk di depan Abay terpisah bangku panjang.
"Kang ada kopi nggak?" tanya Abay.
"Tak punya, Kang. Eh, itu ada yang lewat!"
Kebetulan saat itu ada seorang pemuda tanggung sedang berjalan membawa termos di tangan dan satu plastik kresek hitam.
__ADS_1
"Bandi, sini. Beli kopinya dulu!" panggil Jajang.
Remaja itu tampak ragu. Terlihat dari sorot matanya yang terlihat segan pada Jajang.