
Alam malam seharusnya terang benderang karena purnama sudah waktunya hadir. Hanya saja, purnama bertugas sampai jam sebelas malam tadi dan sampai sekarang mendekati tepat berada di atas kepala, ada awan hitam yang menyelimuti purnama. Kurang lebih lima puluh menit sudah sejak awal mendung itu datang.
Karena suasana yang kurang bersahabat, yang mana angin dingin ikut berhembus datang, membuat suasana di sekitar rumah Wati tampak lenggang.
Tak ada gelak tawa remaja yang berkumpul menghabiskan malam minggu. Tak terdengar suara bapak-bapak yang membentuk kelompok kecil mengobrol sana-sini. Sepi dan sunyi.
Pedagang nasi goreng saja tak ada yang lewat, begitu juga sate ayam keliling tak terdengar suara panggilan menjual dagangannya.
Suasana di dalam rumah Wati pun sama saja. Hening.
Wati sudah ada di kamarnya, sudah tidur sejak dari jam sembilan tadi.
Ami baru pulang jam sepuluh malam tadi, dia main ke rumah salah satu temannya di gang sebelah. Begitu pulang, dia memilih tinggal di kamar, menurut pengakuannya pada Dina, dia merasa badannya sedikit sakit. Walhasil, begitu naik ke ranjang, matanya pun menutup rapat.
Dina sampai detik ini masih terjaga. Dia sedang tenggelam dalam keasyikan menonton drama asia di laptop, kali ini dari negeri Gajah Putih. Cerita drama berbalut cinta dan komedi.
Suara tawa Dina terdengar renyah, tetapi hanya sesaat karena dia melihat kedatangan makhluk yang selama ini sudah lama tak dilihatnya. Bwalika hadir di sudut kamar.
"Kak Lika." Dina menutup laptopnya.
Bwalika memberi kode agar suara Dina tak terlalu besar.
"Ada apa Kak?" tanya Dina dengan nada diturunkan.
"Tunggu saja, nanti kamu juga akan tahu!" desis Bwalika.
Dina terdiam. Ingin bertanya, tapi dia memilih menutup mulutnya. Namun hatinya bertanya dengan sejuta pertanyaan, ada apa dengan Bwalika? Mengapa wajahnya terlihat tegang? Kenapa? Dan lainnya.
*
Sasan menatap rembulan malam yang bersinar terang. Di tempatnya saat ini yang berjarak sangat jauh dari rumah Dina, purnama terlihat berbeda. Lebih terang dan tak tertutup awan hitam sama sekali. Kurang lebih setengah jam lagi jam dua belas malam.
Sasan sudah bertahun-tahun bekerja sebagai mandor di kolam peternakan ikan. Ada tiga jenis ikan yang dibudidayakan, ikan mas dan lele yang bisa dikonsumsi, satunya lagi ikan arwana yang khusus untuk diperjualbelikan bagi pencinta ikan hias.
Tak hanya Sasan yang bertugas di tambak, ada enam orang lain yang menempati dua bangunan kecil dari lima bangunan yang ada. Sisa bangunan buat menaruh pakan ikan, alat penunjang kehidupan sehari-hari, juga ruang mesin pompa dan genset.
Sasan saat itu duduk di kursi panjang depan kamarnya yang ditempati dua orang lainnya. Mengawasi dua orang pegawai yang sedang keliling.
Segelas kopi yang sudah dingin berada di samping kiri Sasan.
Suara pintu terdengar terbuka, Sasan menengok dan dia melihat Yayat keluar dari kamar. Yayat ini teman sekamarnya, satunya lagi Kukun.
"Sendirian aja Kang?" tanya Yayat yang badannya jauh lebih kekar dan berkulit gelap dibanding Sasan.
"Tadinya iya, sekarang ada kamu. Duduk sini, Yat!" Sasan menengok ke sampingnya yang masih kosong. Masih di satu kursi kayu panjang yang sama.
__ADS_1
"Memang mau duduk Kang." Yayat tertawa.
"Kukun mana?" tanya Sasan.
"Biasa, sedang ngobrol sama pacarnya via telepon. Oya, tugas keliling malam ini siapa Kang?" tanya Yayat sambil keluarkan rokoknya.
"Ibas sama Juned," jawab Sasan.
"Hehehe, si kembar siam dempet kuku jempol toh." Yayat tertawa.
"Bisa aja kamu." Sasan ikut tertawa.
"Oya, Kang... mau rokok?" Yayat sodorkan rokoknya.
Sasan tak malu-malu, dia ambil sebatang.
"Kamu tak bikin kopi?" tanya Sasan.
"Oh, itu nanti Kukun yang bakal bikin. Dia tadi kalah taruhan sama aku," jawab Yayat.
"Taruhan apa?" tanya Sasan.
"Aku bilang sama dia, paling nanti si Cici nelepon. Tapi dia bilang Cici udah tidur. Akhirnya kami taruhan, dalam waktu lima menit ke depan, kalau betul Cici tak menelepon aku bakal bikin kopi, sebaliknya dia akan bikin kopi kalau tebakanku benar," ucap Yayat.
"Oh, begitu. Aku pikir kalian main judi!" Sasan menatap Yayat.
"Sudah dapat belum?" tanya Sasan.
"Belum, kalah langkah sama si Kukun. Tahunya Cici lebih suka sama dia. Yo wis, mengalah deh! Oya, Kang Sasan sendiri... apa tak ingin menikah?" tanya Yayat.
"Siapa yang mau sama duda tua kayak aku, Yat? Mana jelek lagi!" Sasan tersenyum.
"Ah, merendah. Buktinya itu berjibun cewek yang ngantri. Ada si Leha, si Tini, si Suriyah sama siapa itu yang kecil mungil... oh, iya si Eka. Kang Sasan kan paling ganteng di sini," ucap Yayat.
Sasan hanya tersenyum.
Baru saja Yayat mau mengajak bicara lagi, mendadak dia melihat kehadiran bayangan orang lain.
Sasan berdiri menyambut bayangan itu, seorang perempuan tua dengan tanda lahir di alis.
"Nini Ai," ucap Sasan.
"Kamu ke sini, San!" Nini Ai melambaikan tangannya.
Sasan pun menghampiri Nini Ai yang berdiri di jarak lima meter darinya, lalu setelah sampai dia diajak menjauh lagi kurang lebih sepuluh meter dari tempat semula.
__ADS_1
"Ada apa Ni?" tanya Sasan.
"Besok kamu mau kan pergi menjemput seseorang?" Nini Ai balik bertanya.
"Menjemput siapa?"
"Calon muridku. Bagaimana?"
"Jemput di mana Ni?"
"Di rumahnya."
"Siapa dia?"
"Seorang anak remaja perempuan. Besar kemungkinannya ada hubungan sama kamu."
Sasan terdiam.
"Kalau kamu setuju, malam ini juga berangkat. Jadi besok subuh, kamu sudah sampai rumahnya dan bawa dia ke sini."
"Apa benar anak ini ada hubungannya denganku?" tanya Sasan.
"Saat kamu lihat dia, kamu akan tahu sendiri apa hubungan antara kalian berdua."
Sasan penasaran, rasa ingin tahunya pun besar. Karena itu dia menganggukkan kepala, setuju untuk berangkat.
"Nah, kalau begitu tepat jam satu pagi nanti, kamu ke rumahku dan mulai perjalanan jauh."
"Tunggu Ni, memangnya aku harus jemput di mana?" tanya Sasan.
Nini Ai pun berikan alamat rumah yang membuat Sasan kaget. Karena alamat yang disebut Nini Ai itu jauh dan berbeda kota.
"Tapi apa mungkin sampai di waktu subuh nanti Ni?" tanya Sasan.
"Kamu datang saja ke rumahku, nanti juga tahu sendiri!"
Sasan pun mengiyakan, lalu berpisah dengan Nini Ai.
*
"Sudah dimulai, kamu cepat berdiri di depan pintu kamar. Tetap berdiri diam di situ dan jangan melangkah keluar dari garis!" ucap Bwalika pada Dina.
Walau curiga, Dina menurut. Dia pun membuka pintu kamarnya dan melihat ke lantai, ada garis berbentuk setengah lingkaran yang berada di depan pintu kamar, garis berwarna merah.
"Arahkan matamu ke kamar Ami. Lihat saja apa yang akan terjadi!" bisik Bwalika yang lalu bersembunyi di sudut kamar Dina.
__ADS_1
Mata Dina menatap pintu kamar Ami. Tak ada apa-apa, tetapi dia merasa ada hawa yang aneh terpancar keluar dari kamar Ami.