ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 29


__ADS_3

Sebuah sepeda motor berhenti di depan Dina dan Maya. Penumpangnya seorang ibu yang wajahnya terlihat masih muda.


Suta yang berdiri di belakang Dina dan Maya, lalu berteriak.


"Mama."


Dina dan Maya saling memandang. Ternyata yang datang itu ibunya Suta.


"Anak manis, siapa Ibumu?" tanya Lala sambil menunjuk Dina. Dia tak turun dari motornya.


Dina menatap heran dan curiga pada Lala. Juga hatinya tak senang, datang-datang ibunya Suta itu main bertanya tentang ibunya.


Jika Dina menjawab tak tahu, dia berpikir urusan akan panjang. Karena dia memang tak tahu siapa nama ibunya, Abay tak pernah memberitahu padanya.


"Santi," jawab Dina yang masih menghormati ibunya Suta.


Dina menyebut nama Santi bukan tanpa alasan. Selain Santi menjadi ibu sambung yang terakhir, sebab Abay belum ada kabar sudah menikah lagi. Juga dia diasuh oleh Sanusi dan Wati, kedua orang tua Santi. Kakek dan nenek sambung Dina yang baik hati.


"Oh, Tante pikir tadinya kamu anak dari teman sekampung dulu. Wajah kalian serupa," jawab Lala.


Sementara Suta sudah berdiri di sebelah motor.


"Aku belum pernah main ke kampung kelahiran Mama, kapan Mama mau ajak aku ke sana?" tanya Suta.


"Hei, siapa namamu?" Lala tak gubris pertanyaan Suta.


"Dina, Tante. Ini Maya. Kami teman satu sekolah sama Suta," jawab Dina dengan memberikan keterangan yang dianggapnya perlu. Matanya tertuju ke jok belakang.


"Oya, Dina... liburan nanti, apa kamu mau ikut pulang kampung bersama Suta? Kalau iya, temanku itu pasti kaget melihatmu. Kamu pantas jadi anaknya!" ucap Lala yakin.


"Maaf Tante. Aku liburan nanti mau jalan-jalan sama Papaku. Aku pulang dulu ya, Tante!" Dina menarik tangan Maya.


"Tunggu, siapa nama Papamu itu, Dina?" tanya Lala.


Dina tak menjawab. Dia menaruh rasa curiga yang besar pada Lala. Lagipula tadi dia melihat sesuatu yang aneh duduk di jok belakang motor. Seekor harimau.


Sejak kecil Dina terbiasa melihat makhluk dunia lain. Tetapi mulutnya lebih banyak terkunci, hingga orang-orang tak ada yang tahu, jika dia punya kemampuan itu.


Harimau yang dilihat Dina duduk di belakang Lala itu berwarna belang hitam putih. Tetapi tak terlihat galak, karena fungsi harimau itu sekedar menjadi pelindung bagi Lala.


Dina pun tahu, Lala sendiri tak tahu kalau dirinya dibayangi harimau.


"Mama aneh!" seru Suta.


Lala tersentak kaget mendengar seruan Suta. Kepalanya yang tertuju pada bayangan Lala, kini berpindah ke arah Suta yang berdiri di dekatnya.

__ADS_1


"Aneh kenapa?" tanya Lala.


"Itu, Mama begitu mau tahu siapa Ibu dan Bapaknya Dina. Memangnya ada apa sih Ma?" tanya balik Suta.


"Oh, Mama cuma teringat pada teman kecil di kampung dulu. Tadinya Mama berharap Dina menyebut nama Endah sebagai Ibunya. Kan Mama jadi bisa bertemu teman lama di sini. Cuma ya, ternyata bukan." Lala tersenyum pada Suta.


"Oya, Ma... tadi itu aku hampir kena gigit ular!"


"Eh, di mana kejadiannya?" tanya Lala kaget.


"Di rumah itu!" Suta menunjuk ke rumah kosong. Dia sudah naik ke atas motor.


"Terus gimana?" Lala menyalakan mesin motor.


"Untung ada Dina. Hebat dia, ularnya kena ditangkap sama dia. Anehnya, ularnya itu kok jinak ya sama dia?"


"Oh, ada kejadian seperti itu? Apa dia punya ular di rumahnya atau ular itu peliharaan dia?"


"Aku tak tahu Ma. Kan belum pernah main ke rumahnya."


"Apa jangan-jangan Dina punya tangan dingin yang ditakuti ular, ya?" tanya Lala pada dirinya sendiri.


Tetapi Suta mendengar ucapan Lala itu, karenanya dia pun bersuara.


"Oh, begini... kamu pernah melihat Mama pegang bunga tidak?"


"Tidak, Ma. Di rumah itu Papa yang suka bunga. Eh, aku juga deh!"


"Nah, kalau begitu kalian berdua punya tangan dingin terhadap tumbuhan. Tangan Mama itu panas, bikin bunga mati dan layu."


"Oh, aku paham. Aku punya tangan dingin pada bunga, tetapi tangan panas pada binatang ikan. Soalnya ikan ****** yang baru beli, eh besoknya mati. Hehehe."


"Ya, seperti itulah!" sahut Lala.


Lalu keduanya pun terdiam.


*


Sesampainya di depan pagar rumah, Wati tampak sedang keluar rumah membawa tas plastik berisi sampah dapur.


"Eh, kalian baru pulang? Main ke mana tadi?" tanya Wati.


"Tak main ke mana-mana Oma. Tetapi seru, ada pengalaman unik yang menegangkan!" sahut Maya.


"Wah, Oma jadi penasaran!"

__ADS_1


"Ih, Oma kepo!" sahut Maya.


"Ayo, kalian berdua masuk. Makan siang dulu, terus ceritain ke Oma pengamalan seru tadi!" Wati menyuruh kedua anak itu masuk rumah.


"Aku pulang dulu Oma. Takut Mama nyariin!" jawab Maya.


"Mamamu lagi pergi. Tadi titip kamu ke Oma. Jadi masuk ke rumah, Oma masak semur ayam."


Dina cepat menarik tangan Maya. Mereka berdua setengah berlari masuk ke teras rumah. Setelah terburu-buru membuka sepatu dan kaos kaki, mereka pun masuk ke dalam rumah. Tujuan mereka meja makan.


"Dina, Maya... jangan lari di dalam rumah!" teriak Sanusi yang lagi asyik mengisi buku TTS alias teka-teki silang.


Dina dan Maya pun lantas berhenti berlari. Tetapi langkah kaki mereka termasuk cepat.


Tak lama Wati masuk ke rumah. Dia duduk di sebelah Sanusi.


"Tadi sudah ditanya, kenapa Dina dan Maya pulang telat?" tanya Sanusi sambil melirik ke Wati.


"Sudah. Mereka bilang sih ketemu pengalaman seru."


"Seru apa? Apa mereka jadi pahlawan memberantas kejahatan?" tanya Sanusi yang berhenti mengisi buku TTS. Kacamata yang dipakainya dinaikan ke kepala.


"Wah, betul kata orang. Semakin bertambah usia menjadi tua dan sepuh, pola pikir bisa berubah menjadi anak kecil. Apa Bapak teringat film superhero waktu kecil dulu?" tanya Wati.


"Film apa? Kan waktu kecil dulu, lebih banyak baca komik. Hehehe. Oya, kacamataku mana? Tadi perasaan ada di atas meja? Kok, Ibu main pindahin saja?" tanya Sanusi tak senang.


"Duh, Bapak sudah pikun, nih! Kacamata ada di atas kepala, kok malah nuduh Ibu?" tawa Wati.


"Masa?" Tangan Sanusi terangkat dan benar saja dia menyentuh kacamatanya. Untuk menutupi malu, dia pun tertawa.


"Oya, Pak... sudah dapat kabar dari Abay? Kapan dia mau main ke mari menemui Dina?" tanya Wati.


"Belum dapat kabar. Entah ke mana anak itu!"


"Siapa anak itu Pak?" tanya Wati menggoda.


"Ya, Abay. Dia kan sudah seperti anak kita, Bu. Setelah kepergian Santi. Tetapi entah, apa dia mau menerima warisan rumah ini atau tidak?"


"Ibu pikir Abay akan menolak. Buktinya uang hasil jual rumah saja tak mau dia ambil. Apa kita kasih ke Dina saja?" saran Wati.


"Kita lihat saja nanti, Bu. Karena kita juga punya keponakan dan cucu yang masih tersangkut hubungan darah," ucap Sanusi.


"Sayangnya, mereka jarang main ke sini Pak!" keluh Wati.


Mendadak terdengar suara salam di depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2