
Ketika Ami di dalam kamar ditemani Wati, Dina dan Maya. Maka Abay sedang menatap Adul dari kepala sampai kaki.
"Kamu siapa?" tanya Abay ketus.
"Adul, Paman," jawab Adul sopan.
"Kamu sepertinya sudah tua, berapa usiamu?"
"Sebulan lagi enam belas tahun, Paman."
"Berarti bukan teman Ami dan Dina kan?"
"Maaf, Paman. Aku teman mereka berdua, sama Maya pun kenal."
"Jangan bohong! Kamu teman yang ada maksudkan?" tanya Abay menuduh.
"Aku tak paham Paman!" seru Adul.
"Siapa pacarmu? Ami apa Dina?" Abay bertanya langsung.
Adul memerah wajahnya.
"Mendadak bisu? Apa kamu tak berani mengakui? Jangan jadi cowok pengecut!"
Karena perkataan Abay itu, harga diri Adul pun terusik. Dengan beranikan diri, Adul pun menjawab.
"Aku sedang dekat sama Ami, Paman."
"Pacar Ami?" desak Abay.
"Bisa dibilang begitu!" Adul tundukkan kepala, karena takut melihat sorot mata Abay.
"Bagus, kamu sudah jujur. Ini buat kamu!" Abay keluarkan uang sebanyak satu juta.
"Buat apa ini Paman?" tanya Adul sambil menatap Abay. Uang tak disentuhnya, masih berada di genggaman Abay.
"Buat ganti uang kamu yang terpakai untuk traktir Ami. Mulai sekarang, jauhi Ami!" Abay memaksa Adul menerima uangnya, lalu dia memutar tubuh Adul untuk selanjutnya didorong pergi.
Adul menjerit kaget. Tak menyangka dirinya diusir Abay yang dia kenal sebagai ayahnya Dina.
Tetapi Adul tak langsung berjalan keluar dari rumah. Dia berhenti dan memutar tubuhnya untuk menatap Abay berani.
"Mau apa kamu masih di sini? Apa mau aku tempeleng?" ancam Abay.
"Maaf, Paman... aku tak bisa terima uang Paman!" Adul lempar uang yang dia terima ke udara, lalu dia cepat putar badan dan berlari pergi.
__ADS_1
"Anak tak tahu sopan santun! Tak ada adab dan akhlak!" teriak Abay gusar menatap kepergian Adul.
Adul pergi dengan hati sakit dan tak bisa menerima perlakuan Abay. Sayangnya, dia tak bisa membalas dan tak tahu apa harus membalas perbuatan Abay. Baginya, Abay itu orang tua dan melawan orang tua bukan caranya. Hanya saja, baru kali ini dia diusir dan diperlakukan seperti ini.
Adul mengalami dilema dalam hatinya, di satu sisi dia masih suka jadi kekasih Ami, masih ingin cinta monyet-nya bersatu dengan cinta Ami. Tetapi rintangan yang menghadangnya, entah dia bisa atau tidak melewatinya.
Teriakan Abay di luar rumah mengundang Dina dan Maya untuk keluar dari kamar Ami. Kedua remaja itu masih sempat melihat uang dilempar Adul, lalu kaburnya Adul dan mendengar umpatan Abay.
Begitu Abay memutar tubuh ke belakang, dia kaget melihat adanya Dina dan Maya berdiri di depan pintu rumah.
"Dina, ikut Papa!" ajak Abay yang lalu memutar tubuhnya dan berjalan ke motor.
Abay tak pedulikan lembaran uang di lantai pekarangan rumah.
Dina membuang napas terlebih dahulu, lalu berjalan menuju Abay.
"Dina, uangnya tak diambil dulu?" tanya Maya yang ikut melangkah di samping Dina.
"Rejekimu, tuh! Ambil saja!" bisik Dina.
Maya kaget sekaligus senang. Matanya sudah menghitung, ada sepuluh lembar uang seratus ribu rupiah. Total sejuta akan masuk ke kantongnya.
Motor yang dibawa Abay dan Dina menjadi penumpangnya pun pergi. Di mana Maya dengan tanpa malu-malu mengumpulkan uang yang berceceran.
Mata Dina menatap ke arah danau, melihat orang-orang yang duduk memancing di kejauhan, menyaksikan burung liar terbang dan memandang bangunan sejauh mata menyorot.
Abay mendatangi Dina yang duduk di kursi plastik dengan meja panjang sebagai tempat dia menaruh tangan.
Di tangan Abay terdapat dua gelas es kelapa. Sementara itu bertepatan dengan kedatangan Abay, ada berjalan seorang pria muda dengan kedua tangan membawa dua mangkuk soto mie.
Abay mengajak Dina makan soto mie, minum es kelapa sambil menikmati suasana danau yang berada di dalam kompleks perumahan, danau buatan yang sengaja dibangun untuk menampung air dan tempat warga berkumpul dengan segala macam aktifitas. Ada yang memancing, ada yang sekedar berkumpul dan ada yang berwisata kuliner. Terserah mereka saja.
"Makan dulu!" suruh Abay pada Dina.
Dina mengiyakan.
Keduanya sambil makan pun bicara basa-basi. Abay posisikan diri sebagai ayah yang baik. Dia bertanya tentang sekolah Dina, apa yang kurang dan bisa dia bantu. Dengan jujur Dina berkata ingin sekali ikut kursus bahasa asing, dia ingin menguasai setidaknya dua bahasa asing.
"Menurut Papa bahasa asing apa yang harus aku pelajari? Inggris, Arab, Spanyol atau apa?" tanya Dina.
"Papa mah orang tak berpendidikan Dina. Terserah saja apa maumu!" sahut Abay.
Di sebelah kiri Dina itu ada seorang bapak muda yang sedang duduk bersama istri dan anaknya. Mungkin karena mendengar pertanyaan Dina, dia tertarik untuk menjawab.
"Maaf, apa boleh Oom ikut sumbang saran?"
__ADS_1
Abay dan Dina menatap ke kiri, mereka temui wajah bersahabat dari seorang pria berkacamata.
"Dengan siapa ya?" tanya Abay.
"Oh, aku Lalang dan Nita striku serta si kecil Lani," jelas Lalang sambil perkenalkan anak istrinya.
Abay dan Dina lalu sebut nama mereka sendiri-sendiri.
"Tadi aku senang dengar pertanyaan Dina yang tertarik untuk belajar. Apa boleh usul saran?" tanya Lalang.
"Boleh, Oom." Dina mengangguk.
"Belajar bahasa asing itu perlu, karena kita ini bisa disebut manusia dunia. Ya siapa tahu Dina nanti bisa jalan-jalan ke luar negeri atau malah jadi wanita bisnis yang hebat. Bahasa asing yang diperlukan itu...." Lalang berhenti.
"Apa Oom?" tanya Dina tak sabar.
"Nomor satu tentunya bahasa Inggris yang diakui sebagai bahasa dunia," jelas Lalang.
Dina mengangguk.
"Bahasa berikutnya itu, tergantung apa Dina mau keliling dunia atau hanya di satu negara saja!" seru Lalang.
"Kalau keliling dunia bukannya cukup dengan bahasa Inggris, Oom?" tanya Dina.
"Itu betul, tetapi kalau kamu mau pergi ke benua Amerika Selatan maupun tengah, di sana penduduknya lebih paham bahasa Spanyol. Peluang menciptakan bisnis juga besar di sana. Begitu juga negeri Arab." Lalang tersenyum.
"Benar juga ya, Oom."
"Tetapi menguasai bahasa Mandarin juga bagus, ada banyak perusahaan berasal dari negeri Tirai Bambu itu. Bahasa Korea dan Jepang juga sangat bagus." Lalang tersenyum.
"Jadi bahasa asing mana dong yang harus aku pelajari, Oom? Kalau semuanya itu bagus?" tanya Dina.
"Kalau kamu ingin lanjutkan belajar dengan gratis, kamu bisa coba kuasai bahasa Jerman. Negara Tembok Berlin itu memberikan beasiswa pada mahasiswa dari negara belahan manapun untuk belajar, tetapi dengan syarat harus lulus nilai bahasa Jerman-nya. Biar lebih mudah beradaptasi. Bahasa Perancis, Portugal dan Italia juga bagus. Oh, lupa... bahasa Rusia pun menarik untuk dipelajari karena negara Beruang Merah itu termasuk negara besar." Lalang terus saja bicara tentang pengetahuan yang dia punya.
"Kalau begitu bahasa asing mana yang terbaik buat aku pelajari, Oom?" tanya Dina.
"Semua ilmu bahasa manapun bagus Dina. Kuncinya cuma satu, bahasa mana yang paling kamu suka. Itu saja! Karena masa depanmu itu sebenarnya urusanmu sendiri, orang tua sekedar mendukung dan mengeluarkan uang." Lalang tersenyum.
"Oh, iya. Terima kasih Oom. Nanti deh, aku pikir lagi, bahasa asing mana yang harus aku pelajari." Dina mengucap terima kasih.
Setelah berbincang beberapa saat, Lalang sekeluarga pamit pulang. Mereka pun pulang bukan tanpa hasil, Abay dengan setengah memaksa menyuruh Lalang simpan uang untuk jajan Lani. Mie ayam dan segala macam yang dimakan juga jadi tanggung Abay.
"Aku senang berkenalan dengan Oom Lalang tadi. Jika saja Papa bisa seperti dia, betapa aku akan bahagia!" Dina menatap Abay.
"Apa maksudmu, Dina?" tanya Abay kurang senang.
__ADS_1