ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 96


__ADS_3

Cincin yang dipegang Suta dan diniatkan untuk diberikan ke Maya secara tiba-tiba itu, bukan cincin yang dibeli Suta. Tetapi cincin itu datang sendiri.


Sambil berjalan keluar dari dalam kamarnya, Suta teringat sebelum dia mendapatkan cincin tersebut.


Selama satu minggu Suta bermimpi. Mimpi yang aneh dan sama selama enam hari dan di hari terakhir baru ada perubahan. Mimpi yang setiap dia terbangun dari tidurnya, baru menunjukkan sekitar pukul 02.30 pagi.


Anehnya, setiap habis mimpi itu ada dorongan buat Suta untuk berjalan ke kamar mandi, membasuh apa yang harus dibasuh sesuai urutan.


Setelahnya Suta kembali ke kamar dan larut dalam keheningan menghadap ke arah kiblat. Sebaris doa lalu terucap. Tetapi sayang, hanya seminggu itu dia rajin ibadah malam, seusai itu sesekali saja kalau kebetulan sedang mau, sisanya tidur sampai pagi datang.


Selama enam hari mimpi yang pertama. Suta bertemu dengan seorang kakek yang berdiri di bawah rindangnya pohon. Mereka berdiri dalam jarak yang tak terlalu jauh, lima langkah.


Kakek tua yang tak pernah dilihat Suta itu tersenyum, tanpa mengeluarkan suara. Suta juga tak bisa berkata-kata, serasa mulutnya memiliki kancing, seakan bibirnya lengket karena lem.


Hanya mata bertemu mata, senyum berbalas senyum. Ya, Suta hanya bisa tersenyum.


Lalu sebelum mimpi berakhir, Kakek itu mengangkat tangan kanannya lurus ke depan dengan kepalan tangan seperti menggenggam suatu barang. Ada sinar hijau tipis keluar dari dalam kepalan tangan kakek itu.


Setelahnya usai sudah mimpi Suta. Mimpi yang akhirnya mengganggu jalan pikiran Suta.


Hingga di mimpi ketujuh atau yang terakhir. Suasana berubah. Suta tak lagi berdiri, kakek itu juga tak berdiri. Mereka berdua duduk di atas dua batu pipih, tapi tetap berada di bawahnya rindang pohon, yang seolah menjadi payung bagi mereka. Cahaya matahari pun terasa lebih lembut bagi tubuh.


"Kamu Suta, apa betul?" tanya si kakek.


"Betul, Kakek siapa?" tanya balik Suta.


Akhirnya mereka bicara. Dalam mimpi itu Suta pun berbicara dengan si kakek.


"Aku Kakek Ipoy, Paman dari Ibumu Lala."


"Oh, Kakek." Suta ingin berdiri dan mencium tangan Ipoy.

__ADS_1


Tetapi tidak bisa. Suta tak bisa bangun dari duduknya.


"Tak perlu mendekat. Alam kita sudah berbeda. Nah, aku ingin memberikan sesuatu padamu. Ulurkan tanganmu!"


Suta bimbang sejenak. Tetapi setelah melihat sorot mata Ipoy yang seakan berkata 'turuti perintahku', membuat Suta mengangkat tangannya lurus ke depan dengan telapak tangan terbuka ke atas. Siap menerima sesuatu yang dijanjikan Ipoy.


"Terima ini, hingga kamu tak perlu takut dengan ular manapun, baik itu ular asli atau jin ular," ucap Ipoy yang perlahan-lahan tubuhnya menjadi sinar dan menghilang.


Suta yang pandangannya tertarik pada cincin berbatu hijau keputihan di tangannya itu, tak melihat betapa Ipoy telah menghilang.


Cincin itu terbuat dari perak, batu hijau keputihan yang menjadi mata cincin juga tak besar. Tetapi sinar yang keluar dari cincin itu cemerlang.


Hingga perhatian Suta terusik oleh suara berisik di belakangnya.


Ketika Suta menengok, dia melihat ada beberapa ular yang tampak sedang berusaha kabur dari dirinya. Suara berisik itu datang dari para ular.


Waktu Suta berdiri keheranan, saat itulah dia tersadar dari mimpinya. Seperti biasa, dia turun ke lantai bawah, menuju ke kamar mandi sebab di lantai atas hanya ada satu kamar dan jalan menuju ke tempat jemuran baju saja.


Sejak itulah, selama enam bulan terakhir cincin itu menjadi milik Suta. Namun dia jarang memakainya, sebab lingkaran cincin hanya muat di jari kelingkingnya.


*


Ketika Ami dan Maya sedang ribut dan Suta ingin berikan cincin ke Maya. Di tempat terpisah, ada Dina yang menerima kunjungan Euis dan Kukun.


"Asli loh, aku takut banget waktu kamu jatuh tertidur sehabis menelan apa yang diberikan Ki Roto padamu," ucap Euis entah sudah ke berapa kalinya, karena mereka berkumpul sudah lebih dari 60 menit.


"Iya, aku juga takut kalau kamu nangis kejer. Kan di situ nggak ada yang jual balon," canda Dina saking herannya, Euis berkata hal yang sama sekali lagi.


"Hahaha, tangis Euis itu berhenti kalau dia ketemu permen telor cicak. Kalau balon yang ada 'duar' hatinya sangat kacau," guyon Kukun tak mau kalah.


"Wah, sepertinya kalian berdua sudah konspirasi ya, mau ngeledek aku!" Euis pura-pura cemberut.

__ADS_1


"Nah, gitu dong cemberut. Kamu makin cantik tahu, tuh lihat Kukun aja memandang cinta padamu," goda Dina sambil merangkul Euis yang duduk di sampingnya dan melirik ke Kukun yang berada di depannya.


Kukun tersentak kaget. Tetapi baru dia mau menimpali ucapan Dina, sudah keduluan Euis.


"Di mata Kukun mah cuma ada kamu, Din. Aku mana dianggap," keluh Euis.


"Kamu salah, Euis!" Dina mencubit pipi Euis.


"Darimana bisa salah? Setiap pria itu suka yang cantik, eh wanita juga deh sama suka yang ganteng. Nah, kamu cantik dan Kukun... mungkin di mata kamu dia biasa saja, tetapi di mataku luar biasa gantengnya." Euis sekilas menatap Kukun.


Kasihan Kukun, dia serba salah. Mau berucap, takut membuat sakit hati Euis. Karena Euis benar, di matanya hanya ada Dina, meski dia tak yakin Dina mempunyai hasrat yang sama dengannya. Tetapi bukannya cinta itu bisa datang karena usaha. Kan panah cinta itu kadang terlepas dengan cara-cara yang aneh. Ada yang tanpa berusaha bisa bertemu dengan cintanya, itu loh cinta pandangan pertama dalam pertemuan yang tak disengaja dan disangka, ada juga cinta yang terikat karena sudah dijodohkan sebelumnya, ada juga cinta yang karena usaha, ada cinta yang timbul karena rasa iba dan macam lainnya.


"Kan aku sudah bilang, suatu hari aku akan pergi dari sini. Aku tak akan berlama-lama di sini. Sementara kamu dan Kukun, akan tetap di sini. Jadi semestinya kalian berdua berjodoh," ucap Dina.


"Apa, kamu mau pergi? Kapan?" tanya Kukun yang akhirnya menemukan celah untuk bicara.


"Oya, kamu dapat kabar apa dari Bibi Endang?" Dina sengaja tak pedulikan Kukun. Biarlah dia dianggap sombong oleh Kukun, sengaja biar Kukun benci padanya dan beralih pada Euis.


Kukun bengong, karena pertanyaannya tak mendapat jawaban memuaskan dari Dina, yang ada malah tak dijawab sama sekali.


"Kata Bibi Endang, musholla di sana jadi lebih hidup. Malah ada rencana mau dibangun lebih besar dan dijadikan mesjid. Biar bisa sholat Jumat. Di sana kan belum pernah ada sholat Jumat itu," terang Euis.


"Oya, sudah malam. Waktunya aku tidur. Besok kita lanjut lagi." Dina lalu mencium pipi kanan-kiri Euis dan tanpa melihat Kukun, dia berjalan masuk ke rumah.


"Kita pulang, sudah malam!" ajak Euis ke Kukun.


Kukun tersentak sadar, pandangan matanya yang tertuju pada bayangan Dina menyorot kecewa.


*


"Berhenti!" teriak Suta kencang.

__ADS_1


__ADS_2