ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 27


__ADS_3

"Ular!" Sasan meloncat, karena dia melihat ada ular merambat di dekat kaki Abay.


Abay menengok ke bawah, di dekat kakinya terlihat seekor ular bersisik putih seukuran dua jari besarnya. Lidah ular yang merah menjulur keluar dan menjilat jemari Abay yang terlihat menongol keluar dari sendal yang dia pakai.


"Tak perlu takut San! Aku beritahu padamu, karena suatu kejadian aneh, aku pun bisa menjadi pawang ular," terang Abay yang lalu menunduk dan mengambil ular putih tersebut yang panjangnya sekitar setengah meter.


"Iya, kamu kan bersekutu dengan jin ular," ucap Sasan dalam hati.


"Apa kamu takut?" tanya Abay dengan sorot mata aneh. Tangan kirinya membelai kepala ular.


"Jujur, iya. Kalau kena digigit kan... bisa-bisa lima lembar kain putih jadi pakaianku selanjutnya." Sasan tampak takut.


"Hahaha, baiklah! Nah, kamu pergi sana!" Abay lempar ular itu ke arah rimbun pohon, setelah sebelumnya dia berbisik sejenak.


"Eh, kok dilempar? Nanti bisa menggigit anak kecil yang lagi main gimana?" tanya Sasan.


"Oh, jadi kamu mau ular itu menjadi pendengar yang baik di antara kita?"


"Bukan begitu!" Sasan terlihat seperti orang bingung. "Ya, mungkin ular itu tak akan mencelakai anak-anak."


"Memang tidak akan!"


"Oya, bagaimana cerita selanjutnya antara kamu dan Endah?"


"Tak enak kalau kamu berdiri!" Abay melirik bagian kosong bangku taman.


Sasan lantas duduk.


"Ketika Dina berusia sekitar setahun, kalau aku tak salah hitung... Endah mendadak minta dipulangkan ke rumah Bapaknya. Dia tak perlu aku antar, karena setelah bicara dia pun segera pergi membawa Dina. Alasan dia pergi karena aku malas. Tapi aku tahu itu bukan alasan sebenarnya...."


"Ah, masa? Bukannya kamu waktu di kampung terkenal sebagai pemuda paling malas?" tegur Sasan.


"Hahaha, anggap saja begitu. Tetapi jika aku malas, kenapa aku kaya raya seperti ini? Punya motor dan bisa membayar makanmu?" sindir Abay


Sasan tak bisa menjawab.

__ADS_1


"Aku lanjutkan. Hari berlalu, aku yang ditinggal pergi pun tenggelam dalam keinginan mengubah hidupku. Aku putuskan untuk pergi ke kota. Sebelum itu, aku ingin melihat Dina. Tetapi yang aku temui pemandangan yang bikin aku meledak marah. Endah bermesraan dengan Idang di ruang tamu, sementara Dina dibiarkan main sendiri." Wajah Abay mendadak sedih.


"Oh, pintar sekali Abay bersandiwara?" kata hati Sasan.


"Kamu tahu apa yang aku lakukan pada saat itu?" tanya Abay tajam.


"Aku mana tahu!" Sasan menggelengkan kepala lemah.


"Aku marahi Endah dan Idang. Lalu saat aku mau ambil Dina dan bermaksud mengajaknya ikut ke kota, aku kena dihajar Idang dan parahnya... mertuaku membantu Idang. Aku pulang ke rumah dengan tubuh dan hati terluka. Besoknya aku pun pergi, aku tak mau lagi mengurus hal-hal yang tak penting di kampung. Tetapi sekarang aku menyesal!" Abay membuang napas berat.


"Apa yang membuatmu menyesal?" tanya Sasan.


"Aku tak sempat membawa Dina keluar dari kampung. Ya, aku merindu anak itu. Meski dia memiliki darah dan dagingmu!" Abay mengeluh.


Ingin rasanya Sasan memaki Abay berhenti berbohong, lalu mendesak untuk memberi tahu kabar yang sebenarnya tentang keberadaan Dina. Tetapi dia masih mampu menahan gejolak perasaannya itu. Dia takut kalau terlalu mengancam yang ada dia tak akan pernah bertemu Dina.


"Coba kamu tanya Medi, bagaimana kabar tentang anakmu di kampung? Jujur saja, aku malas pulang ke kampung, bagiku kota ini lah tempat aku lahir dan mati nanti. Karena itu aku tak mau berhubungan dengan orang kampung lagi. Kecuali yang seperti dirimu, tak sengaja bertemu." Abay menyentuh pundak kiri Sasan.


Sasan sekedar mengangguk.


"Apa aku boleh ke rumahmu?" tanya Sasan.


"Asal kamu tak takut pada ular, boleh saja!" jawab Abay.


Mendengar kata ular, Sasan bergidik hatinya. Tubuhnya sedikit bergetar. Dia bukan takut pada ular, cuma kalau yang dia temui itu jin yang berupa ular ini yang membuatnya takut.


"Tetapi maaf, aku bercanda. Di rumahku mana ada ular. Cuma aku tak bisa ajak kamu pulang!" Abay gelengkan kepalanya berkali-kali, lalu berdecak sedih.


"Kenapa?" tanya Sasan.


"Aku ini masuk dalam ikatan persaudaraan suami takut istri, San. Istriku akan marah besar, jika aku mengajak orang ke rumah. Jadi, maaf saja!" Abay mencari tangan Sasan untuk digenggamnya.


"Ya, kalau memang tak boleh, biarlah aku pulang saja!" Sasan lepaskan genggaman tangan Abay dari tangannya.


"Oya, kamu ambil ini!"

__ADS_1


Abay keluarkan sebuah amplop dari dalam kantong celana belakang. Amplop pemberian Nyi Malini. Waktu dia berbisik pada ular putih sebelum dilempar, dia meminta diberikan amplop berisi segepok uang.


"Tak usah Bay!" Sasan menolak dengan kedua tangan terangkat sebatas pundak.


"Ambil saja! Siapa tahu bisa buat modal kamu dagang!" paksa Abay.


Sasan pun menerima amplop dari tangan Abay.


"Kalau aku mau bertemu denganmu lagi, di mana aku harus mencarimu? Maksudku... setelah aku pulang dari kampung. Soalnya aku tertarik dengan perkataanmu, kalau Mang Ipoy tak lagi marah padaku. Aku ingin mencoba membuktikan itu!"


"Aku pikir, kamu tak perlu pulang San! Bisa saja hati Mang Ipoy berubah angin, dari yang baik menjadi jahat. Kamu pun tak perlu mencariku, karena aku tak tahu ke depannya aku akan tinggal di mana, istriku ada rencana mengajak aku pindah rumah," jawab Abay dengan wajah sedih.


"Baik, aku pamit Bay!" Sasan pun tak mau lama-lama lagi berada di dekat Abay.


Yang pasti Sasan menaruh curiga pada Abay, ada banyak kebohongan yang dia temui dari pembicaraannya bersama Abay. Seluruh cerita Abay itu bohong belaka.


"Aku tak mengantar!" seru Abay.


"Ya, tak perlu. Aku datang dengan kakiku sendiri dan pergiku pun sama!" jawab Sasan yang perlahan-lahan bayangannya menghilang.


Saat itulah ular putih yang dilempar Abay tadi, kembali mendatangi.


Abay menurunkan telapak tangannya, ular putih itu pun naik ke atas tangan Abay.


"Apa kamu tak curiga dengan kehadiran orang tadi?"


Aneh, ular putih itu bisa bicara dan hanya Abay yang bisa mendengar.


"Buat apa curiga? Untuk apa kamu ke sini Garini?" tanya Abay yang melihat kepala ular sebagai wajah Garini.


"Nyi Malini membisiki, kalau pria tadi seperti membawa misi yang akan membuat dirimu terpisah dengan kami semua," jawab Garini.


"Hahaha, tak mungkin! Jika benar dia berbuat itu, kenapa dia tak memberi nasihat padaku?" tanya Abay.


"Iya, ya... benar juga katamu! Apalagi Nyi Malini pun mengabulkan permintaanmu untuk memberi uang pada pria itu! Kalau begitu apa Nyi Malini salah? Tapi mana mungkin dia bisa salah?" tanya Garini.

__ADS_1


Jika Garini tak tahu jawabannya, begitu juga Abay.


__ADS_2