
Nyi Malini terbelalak. Sinar hijau keputihan itu lagi, sinar yang sama waktu dia gagal mengambil tumbal Maya. Samar-samar dia melihat pula Ipoy si kakek tua itu berdiri di belakang Yuri.
Senyum tipis Ipoy berbalas teriakan kesakitan Nyi Malini.
Tarikan napas lega Yuri terdengar. Nyi Malini melarikan diri dari kamarnya. Meski untuk itu dia terbelalak, karena Nyi Malini keluar bukan melarang pintu kamar, tetapi menerobos tembok kamar.
Nyi Malini sudah menghilang. Yuri yang merasa lega, lututnya mendadak lemas dan jatuh tertidur di lantai kamar, pulas sampai pagi menjelang.
*
Abay yang mau pamit pulang dari rumah Teguh, terpaksa membatalkan. Sebab mendadak badai angin datang dan hujan yang turun menderas secara tiba-tiba.
Sudah jam 12 malam lewat. Sebenarnya sudah waktunya jam tidur malam. Namun Teguh bukan orang yang mudah tidur cepat, dia sudah terkena insomnia, paling cepat dia tidur nanti jam 1. Paling telat bisa sehabis subuh. Lagipula dia tak harus bangun lebih awal untuk buka bengkel, ada adik dan iparnya yang jadi anak buah. Padahal bengkel motor yang dia punya tidak besar, tetapi cukup ramai.
"Kita ngobrol lagi aja Kang, tapi nggak bisa di sini. Ayo, masuk!" ajak Teguh yang lalu berjalan lebih dulu masuk ke rumahnya.
Abay meragu, sebab sekilas dia melihat ke atas langit, seperti ada bayangan ular hitam menggantung di langit. Itu terlihat tepat saat ada kilatan petir dan ledakan yang timbul, sebelum Teguh bicara tadi.
"Kang Abay ayo masuk ke ruang tamu. Berdiri di sana sama aja mandi hujan. Anginnya kencang." Teguh memanggil Abay, dia sudah berdiri di depan pintu rumah yang terbuka.
Abay membenarkan ucapan Teguh, dia pun memutar tubuhnya dan sempat menghapus wajahnya yang terkena cipratan air hujan, akibat hembusan angin.
Kini Abay telah duduk di ruang tamu rumah Teguh. Kursi yang ada di ruang tamu, kursi kayu berukir dan dicat warna hitam.
"Aku bikin kopi lagi ya, Kang. Tunggu!" Teguh tak menanti jawaban Abay, karena dia sudah berjalan masuk ke arah dapur.
Abay yang ditinggal sendiri, matanya sedikit mengawasi keadaan ruang tamu rumah Teguh.
Ruang tamu yang tak terbilang besar, namun terasa cukup luas. Karena tak ada banyak barang, hanya kursi dan meja tamu. Lalu ada meja sudut yang diatasnya ada kipas angin duduk sedang yang bersih dari debu.
__ADS_1
Di meja juga tak ada vas bunga, hanya ada asbak dan sebungkus rokok dengan korek api gas di atasnya.
Abay bukan perokok aktif, meski dia beberapa kali menghisap asap nikotin itu. Namun itu saat dia mau saja. Kalau Teguh memang sepertinya perokok aktif, tadi saja waktu berbicara di teras rumah sudah habis sebungkus.
Di dinding ruang tamu, selain ada jam dinding berbentuk bulat dan bergambar kepala binatang ular.
Ah, ular!
Abay bengong sesaat. Dia mendadak teringat Nyi Malini. Sementara itu pula, mengapit jam dinding terpasang dua pigura foto. Satu foto saat Teguh dan istrinya memakai pakaian adat pengantin, satu lagi Teguh berdiri di belakang istrinya yang duduk menggendong seorang anak pria kecil berusia sekitar setahun.
Mata Abay beralih ke foto dan terpaku di sana. Tak berkedip, menatap perubahan di dalam foto. Bukan lagi Teguh dan istrinya, tetapi dia dan Nyi Malini. Bukan lagi Teguh berserta anak dan istrinya, tetapi dia berserta Nyi Malini yang memangku ular.
Namun yang membuat wajah Abay terlihat pucat, bukan karena perubahan foto itu. Namun sepasang mata Nyi Malini yang menyorot kejam dan penuh dendam padanya.
"Oh, apa Nyi Malini gagal?" bisik hati Abay.
Abay tak tahu, lamunannya sudah berjalan cukup lama. Sampai-sampai Teguh yang sudah menghisap rokok hampir setengah batang pun merasa heran.
Teguh tak menegur, karena dia berpikir Abay itu sedang merenung.
Sebelumnya di teras, meski Abay belum mau bercerita tentang rahasia hatinya dan Teguh tak mau memaksa. Namun Teguh terus bicara tentang betapa pentingnya untuk bertobat, menyesali apa yang terjadi di masa lalu, meski itu dibuat semenit yang lalu sekalipun.
Karena Teguh percaya, dengan bertobat dan sering-sering meminta maaf akan kesalahan atau merasa tak ada salah sekalipun, itu baginya merupakan kebahagiaan sejati. Namun dia tak memaksakan pendapatnya ini pada orang lain, beda orang beda akal dan hati.
Teguh sekedar bercerita berdasarkan pengalamannya dulu. Dia dulu orang yang nakal dan pemalas. Hingga titik balik hidupnya itu terjadi di saat mendiang ibunya mendekati sehari mau ajalnya.
Kala itu Teguh meminta maaf pada ibunya dan meminta restu, karena dia harus menikah atas kesalahan yang telah dia perbuat, akibat gelap mata.
Ibunya lalu berkata padanya.
__ADS_1
"Semoga setelah dirimu meminta maaf pada Ibu, kebahagiaan hidupmu akan datang lebih baik lagi. Kamu janji ya, Teguh... harus terus berdoa memohon ampun dan mengatakan penyesalanmu, karena itu tandanya kamu menyadari betapa dirimu itu manusia yang sesungguhnya lemah dan tak punya kekuatan apa-apa."
Kata-kata ibunya itulah yang mencambuk Teguh. Hingga akhirnya dia bisa seperti ini, bisa mempunyai bengkel sendiri dan hidup bahagia dengan istrinya. Dulu dia pun orang yang tak terbilang ramah pada orang lain, selalu ingin menangnya sendiri. Kini dia mau menerima Abay yang notabene belum dikenalnya, bahkan dengan ikhlas mau membantu Abay.
Kata-kata ibunya itu pula yang disampaikan Teguh ke Abay, kala di teras tadi.
Sebab itu Teguh membiarkan Abay melamun, karena dia berpikir Abay sedang merenungi apa yang dia katakan barusan.
Namun ketika melihat wajah Abay yang tegang dan kaku, lalu pucat dengan sinar mata ketakutan. Teguh tahu, dia telah salah mengira.
"Kang Abay ada apa?" tanya Teguh sedikit tinggi suaranya.
Rintik hujan yang deras membuat Teguh harus bicara keras.
Abay tak merespon. Malah tubuhnya terlihat bergetar.
"Kang Abay, sadar Kang!" teriak Teguh, lalu tangannya bergerak untuk menyentuh tubuh Abay.
Hasilnya, malah Teguh menjerit kaget. Tangannya terpental, sebab dia merasakan ada daya tolak keluar dari dalam tubuh Abay. Tak hanya itu, dia pun seakan menyentuh dinding tak terlihat bersuhu dingin, seperti dia memegang es batu. Namun setelah merasakan hawa dingin, tangannya pun terpental.
Abay juga ikut menjerit, hanya untuk jatuh pingsan setelahnya.
Teguh panik. Mana di rumahnya dia hanya seorang diri. Istri dan anaknya sedang menginap di rumah adik istrinya. Besok pagi ada acara aqiqah di rumah adik istrinya itu.
Sementara Teguh tak menginap, karena ada undangan tahlil dan menemani Abay. Dia pun sudah melapor lewat telepon pada istrinya itu.
Mendadak Teguh mendengar Abay mengigau.
"Ampun Nyi Malini, jangan bawa aku pergi!"
__ADS_1