ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 64


__ADS_3

"Dina, sentilkan jarimu ke depan. Ke arah tiga orang pemuda itu."


Dina kaget mendengar bisikan Bwalika di dekat telinganya. Tetapi dia tak berpikir panjang.


Dengan cepat Dina sentilkan jarinya ke depan.


Terdengar ledakan hebat. Tiga gelas kopi yang dipesan Adul, Wendi dan Ipul mendadak pecah. Setengah gelas kopi yang ada di dalam gelas muncrat ke atas dan membasahi wajah Wendi dan Ipul. Adul juga terkena cipratan kopi, tetapi yang terkena hanya baju di sekitar perutnya.


Teriakan kesakitan terdengar dari dua mulut Wendi dan Ipul. Adul juga menjerit, namun nadanya kaget tak sama dengan kedua temannya.


"Aduh, panas!" teriak Wendi dan Ipul yang berusaha mengipasi wajah mereka.


Percuma, karena muka Wendi dan Ipul melepuh dan timbul gunung-gunung kecil, yang jika meletus akan muncul air di sekitar wajah. Keadaan yang menyakitkan.


"Iya, kok bisa air kopinya panas? Harusnya hangat," teriak Adul kaget.


Keanehan terjadi, seharusnya meski cipratan air kopi mengenai tubuh tak akan membuat kulit terbakar dan melepuh.


"Hei, mereka kenapa?" teriak Ami kaget.


Maya menatap takut, sementara Dina bengong dan merasa bersalah.


Kalau saja Dina tahu akibat sentilan jarinya, akan membuat celaka dua pria yang tak dikenalnya, dia tak akan mau menuruti perintah Bwalika. Satu pria, yaitu Adul sudah dilihatnya dan dia mulai teringat pada Adul, yang pernah dilihatnya di depan rumah Suta.


Tak hanya kelompok Dina yang menatap bengong, tetapi juga mereka yang berada di dalam warung sempat panik. Ledakan dari tiga gelas yang pecah itu membuat mereka berpikir ada ledakan petasan, tetapi ketika terdengar teriakan kesakitan Wendi dan Ipul, yang ada malah bengong dan saling menatap tak mengerti, apa yang sedang terjadi.


"Kita pulang aja, yuk!" ajak Dina yang terus saja berjalan pulang.


Ami dan Maya terpaksa mengikuti. Tak ada yang pedulikan kepergian mereka bertiga, karena semua sibuk bertanya pada Adul dan mencoba menolong Wendi dan Ipul.


Mulai detik ini, wajah Wendi dan Ipul akan rusak dan cacat. Mereka berdua sama sekali tak mengerti, gerangan apa yang terjadi? Mengapa gelas bisa meledak tiba-tiba? Lalu kenapa bisa air kopi yang sudah berubah hangat, begitu terkena kulit wajah berubah seperti air yang baru mendidih membakar kulit?


Sebuah misteri.

__ADS_1


Tetapi Adul beruntung, karena dia sempat berdiri dan juga kaget mendengar rencana jahat Wendi dan Ipul.


*


Abay turun dari kasur. Dengan gerak cepat dia pakai bajunya lagi, lalu menatap pada ular yang melingkar di atas kasur. Ada dua ekor ular berukuran berbeda, yang sebesar paha dengan mahkota kecil di atas kepala bersisik emas dan hitam, yang berukuran sebetis berwarna seputih salju.


Siang ini hari yang melelahkan bagi Abay. Dia harus bertarung dengan dua manusia ular. Setelah Nyi Malini datang Garini sebagai lawannya. Pertempuran yang menguras tenaga.


Di kamar ada kursi kebesaran dengan bantalan sofa berselimut kain beludru merah. Kursi kayu jati yang diberi cat warna emas.


Hanya ada satu kursi di kamar, tetapi mempunyai dua meja kecil di kiri kanan. Meja yang kanan terisi piring emas dengan aneka macam buah di atasnya. Ada anggur, apel, jeruk dan delima. Meja kiri ada teko terbuat dari kristal dengan gelas berbahan sama, di dalam teko terlihat air berwarna merah.


Tangan Abay mengambil teko dan gelas, lalu menuang air ke dalam gelas dan tak lama air pun berpindah ke dalam perutnya. Rasanya sungguh manis dan membuat tenaganya kembali dengan cepat.


Setelah minum, mata Abay mencorong melihat ke arah kasur. Dua ekor ular jelmaan Nyi Malini dan Garini masih tertidur pulas.


Kalau saja Abay tak dibantu dengan air minum warna merah, dia tak akan sanggup bertahan dari pagi sampai siang seperti ini. Bermain-main di atas ranjang.


"Oh, sampai kapan aku terus seperti ini?" bisik hati Abay, lalu tangan kanannya terulur memetik sebuah anggur.


Abay lalu memasukan buah anggur ke dalam mulutnya dan mengunyah.


"Nenek yang kemarin itu... namanya siapa ya? Ah, Nini Ai... di mana aku bisa temukan dia?" Abay teringat pada pertemuannya dengan Nini Ai.


Abay menghela napas, matanya terpejam.


"Nini Ai bilang, dia menyuruhku ikut padanya dan menderita beberapa waktu. Ikut ke mana dan penderitaan apa yang bakal aku temui dan alami? Ya, kalau aku berhasil pergi dari Nyi Malini, kalau tidak... apa tak akan sia-sia perbuatanku itu?" Abay mengeluh dalam hatinya.


Mendadak mata Abay yang terpejam terbuka, karena dia mendengar suara sepasang bocah yang ramai di dekatnya.


"Aku bilang juga apa, Ayah itu cuma pejamkan mata saja. Dia tak tertidur."


"Iya, deh. Kakak yang paling benar!"

__ADS_1


Abay tersenyum kecut. Di depannya ada sepasang bocah manusia ular, anaknya dari Nyi Malini dan Garini. Terbesar dengan wajah anggun itu Makila, anaknya dengan Nyi Malini. Si kecil dengan wajah centil dipanggil Gayini, anaknya dengan Garini.


"Kalian mau apa ke sini?" tanya Abay heran. Tetapi dalam hatinya dia menangis, seandainya saja Makila dan Gayini itu anaknya di dunia nyata, betapa akan bahagia dirinya.


Abay merindukan seorang anak. Keinginan hampir seluruh orang dewasa di dunia ini, mempunyai keturunan sebagai pewaris jalan kehidupan mereka, meski tak harus sama persis, namun siklus kehidupan berjalan seperti itu. Ada yang mati ada yang lahir, yang tua memberikan kesempatan yang muda untuk datang ke dunia.


Tetapi sayangnya Abay tak bisa. Hampir saja dia akan punya anak dari benihnya, tetapi telah dibikin mati oleh Nyi Malini, calon anaknya itu mati di rahim ibunya.


Poppy, Abay teringat pada istrinya itu. Wanita yang punya pengalaman dalam urusan melayani pria. Beda dengan istri-istrinya yang terdahulu. Terutama dengan Endah, yang terkesan terpaksa melayani dirinya.


Bicara Endah, tentunya ada Dina. Abay mencintai Dina, dia sangat sayang pada anak itu, meski begitu kebenaran tak bisa ditutupi. Walau dia mengakui Dina sebagai anaknya, cuma bukan anak kandungnya.


Abay tak sanggup membayangkan ketika Dina tahu kebenaran akan hidupnya.


Sasan, ayah kandung Dina masih hidup, sementara Endah si ibu telah mati akibat di tangan Nyi Malini, Abay yang meminta itu.


Kembali pada Makila dan Gayini, Abay senang melihat kedua anaknya itu. Tetapi sayangnya, dia tak bisa menceritakan dengan bangga pada semua orang. Memperlihatkan kedua anaknya pada khalayak ramai jelas tak mungkin.


Abay tahu, jika manusia lainnya tahu dirinya punya anak jin ular, dia tak akan pernah mendapat pujian. Yang ada malah orang akan menghina dirinya dan menjauh darinya.


"Ayah sedang berpikir apa?" tanya Makila.


"Aku tahu, Ayah itu sedang berpikir kapan bisa bersatu dengan kita di kerajaan kita, Kak!" tebak Gayini.


"Apa itu betul Ayah?" Makila menatap Abay.


"Tentu saja betul. Saat Ayah berkumpul bersama kita, aku akan sering bermain dengan Ayah!" Gayini tertawa kecil.


"Main apa? Yang ada Ayah akan bekerja keras menjadi budak di kerajaan kita, kamu kan tahu itu!" sanggah Makila.


"Meski jadi budak, kita akan sering bertemu Ayah. Tak seperti sekarang, tak bisa terlalu sering bertemu dengan Ayah." Gayini membantah.


Abay memilih kedua anaknya yang berwujud manusia ular itu saling berdebat, karena saat ini matanya terpejam dengan air mata mengalir di sudut hatinya.

__ADS_1


"Aku akan jadi budak di kerajaan ular nanti!" batin Abay sendu.


__ADS_2