ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 112


__ADS_3

"Dina."


Maya setengah berlari mendatangi Dina. Dia tak akan pernah lupa wajah cantik Dina, meski tinggi dan bentuk tubuh Dina berubah lebih tinggi dan lebih padat.


Di mata Maya, Dina gadis muda yang montok.


Sementara Dina sedikit pangling. Maya berubah drastis. Tak ada pipi berdaging tebal Maya, tak terlihat hidung pesek temannya itu, tak ada dagu kedua sahabat baiknya itu dan yang terpenting tubuh Maya lebih kurus. Bahkan jauh lebih ramping dari dirinya sendiri.


Dina mengagumi perubahan bentuk tubuh Maya. Meski tinggi tubuh Maya tak banyak bertambah, dari Maya yang dulu gemuk kini mendadak langsing.


Di mata Dina, Maya menjadi gadis yang imut.


"Aku Maya," ucap Maya sambil goyang-goyang tangannya di depan mata Dina.


Maya melakukan itu karena mata Dina tak berkedip dan tampak seperti orang bengong.


"Nggak pakai T di belakang, kan?" Dina menggoda Maya.


"Wah, jadi Mayat dong! Nggak lah, meski semua orang bakal jadi mayat, tapi Maya yang berdiri di depan kamu belum jadi mayat!" Maya tertawa pelan. Tak bisa kencang, karena mereka berada di area rumah sakit.


"Ya, tak seperti Oma Wati yang mungkin sebentar lagi jadi mayat. Ya, kan?" Dina berkata datar.


Bukan Dina tak ingin Wati kembali sehat. Namun perasaannya mengatakan hidup Wati sebaiknya usai sampai di sini.


"Loh, bukannya berdoa Oma kembali sehat. Kok, kamu malah berharap Oma meninggal dunia?" Maya berubah wajahnya. Kaget dan bingung.


Dina menarik tangan Maya, lalu diajaknya jalan pelan-pelan.


"Sekarang aku mau tanya sama kamu, jika Oma kembali pulang ke rumah, bagiamana reaksi Kak Ami? Mungkin dalam sehari-dua hari aku dan Kak Ami bisa saja berdamai, Oma pun senang. Selanjutnya? Jika kami berdua bertengkar? Apa hati Oma tak akan sedih?" Dina berhenti.


Saat itu mereka berdua berada di depan pintu lift.


"Kamu ada benarnya. Tadi pas Meri datang dan aku bertanya, kok kamu tak terlihat. Ami sedikit berubah wajahnya. Antara suka dan tidak suka." Maya mengingat kejadian tadi.


Meri yang datang lebih dulu, tanpa Dina. Dia melihat Maya dan Ami sedang duduk sambil makan kentang goreng berdua.


Mereka duduk dengan di tengah-tengah digelar bungkus kentang goreng yang dirobek, lalu isinya si kentang goreng dimakan bersama-sama.


Kebetulan posisi duduk Maya dapat melihat arah kedatangan Meri. Karena itu Maya berhenti makan dan menegur Meri.


"Loh, katanya sama Dina? Mana Dina, kok tak terlihat?" tanya Maya sambil berdiri.

__ADS_1


Ketika berdiri itulah, Maya yang tak sengaja menatap Ami, dapat melihat perubahan wajah Ami.


Padahal sebelumnya wajah Ami meski pun sedih, tetapi tak sedingin saat ini.


"Dina ke parkiran dulu. Katanya ada temannya," jawab Meri jujur dan tak ditutupi.


Terdengar dengus Ami.


"Oma di mana?" tanya Meri ke Maya.


"Itu!" Maya menunjuk ke arah jendela kamar yang sengaja tak ditutup tirainya.


Meri lantas mengarah ke cermin di temani Maya. Mereka berdua melihat Wati tertidur dengan tenang, tak bergerak. Namun alat medis kedokteran yang dipasang sangat lengkap, memberikan tanda Wati masih bertahan napasnya.


"Kasihan ya, Oma. Oya, kira-kira siapa yang bayar biaya perawatan? Kan ini mahal!" bisik Meri.


"Itu urusan orang tua, deh. Kita mah nggak usah ikut campur."


"Betul juga, ya. Kita sebaiknya banyak-banyak baca doa deh. Meminta sama Tuhan, yang terbaik buat Oma," ucap Meri.


"Sedelapan!" canda Maya untuk mengganti kata setuju.


Maya dan Meri memutar tubuh. Mereka berdiri berhadapan dengan Ami yang masih duduk di tempatnya.


"Habisin aja Kak, aku mau ke bawah dulu!" seru Maya.


"Kalau begitu titip beli minum dingin sama rujak, deh! Gue lebih baik makan pedes, dibanding harus ngomong pedes!" balas Ami.


"Iya, Kak!" Maya lalu meminta Meri temani Ami, sementara dia mau turun beli pesanan Ami.


Setahu Maya, di bagian belakang rumah sakit ada minimarket dan ada banyak penjual makanan kaki lima. Syukur-syukur ada penjual rujak, kalau tak ada paling beli gorengan dengan minta cabai rawit yang banyak. Kalau perlu sekilo.


"Eh, itu pintu lift udah kebuka," ajak Dina yang membuat Maya sadar dari lamunannya.


"Jangan naik dulu, kita ke bagian belakang rumah sakit dulu!" Maya tarik tangan Dina untuk ikut dengannya.


"Mau ngapain?" tanya Dina terheran-heran.


"Kak Ami pesan beli minuman dingin sama rujak," terang Maya.


"Oke, yuk!" Dina pun setuju.

__ADS_1


*


Beruntung tukang rujak masih terlihat nongkrong di pinggir jalan, di dekat minimarket.


Maya mengajak Dina untuk beli rujak terlebih dahulu, baru mengarah ke minimarket.


"Bang, rujaknya dua bungkus. Bikin pedes banget, ya!" pesan Maya.


"Lagi ngidam ya, Neng?" tanya tukang rujak menggoda.


"Ih, kita mah masih kecil Bang. Masih sekolah," ucap Maya.


"Wah, kirain udah putus eh lulus sekolah. Kalau nggak Abang mau deh punya menantu keponakan si Neng ini. Cantik," tawa si tukang rujak menunjuk Dina.


Dina hanya tersenyum. Dia tak marah.


"Idih, jualan apa mau cari jodoh. Bikinin ya Bang, nggak pakai lama! Mau ke minimarket dulu!" Maya buru-buru menarik tangan Dina.


Ada rasa bangga terselip di hati Maya. Saat berjalan bersama Dina, banyak mata yang melihat ke arah mereka. Meski Maya tahu mata itu lebih condong terfokus ke Dina, setidaknya dia punya rasa bangga temannya menjadi pusat perhatian.


"Oya, Din. Ngomong-ngomong sekolah, kamu ke sini dalam rangka libur sekolah atau mau pindah sekolah sekalian?" tanya Maya sebelum mereka masuk ke minimarket.


"Aku ada bawa surat pindah sekolah. Mungkin nanti mau minta tolong Pak RT untuk bantu daftarin ke sekolah baru. Di mana saja, asal aku bisa sekolah," ucap Dina.


"Sama Papaku saja, paling nanti kita bisa sekolah bareng," jawab Maya sambil mendorong pintu.


"Asal Papamu tak keberatan." Dina merasa senang atas tawaran Maya.


"Santai aja. Kalau perlu, kamu tinggal saja di rumahku. Daripada di rumah Oma, sama Kak Ami dan Suta," ucap Maya yang baru menceritakan tentang Suta.


"Suta?" tanya Dina menegaskan. Tangannya yang mau membuka pintu kulkas minuman dingin, yang dipenuhi aneka macam merek minuman teh pun berhenti.


"Iya, Suta sudah tinggal di rumah Oma Wati, sejak kamu pergi. Kalau tak salah pas di hari di mana kamu pergi dari rumah Oma, keluarga Suta meninggal dunia karena kebakaran. Suta hidup sendiri setelah itu. Lalu diangkat Oma sebagai cucu angkat," tutur Maya yang telah mengambil empat botol minuman mineral dan dimasukkan ke dalam keranjang.


"Oh," sambutan Dina pendek. Karena dia tak tahu harus berkomentar apa.


Setelah Dina mengambil air minum dingin rasa teh, mereka berdua mencari makanan ringan.


Saat sampai di depan kasir. Maya mendadak berteriak.


"Celaka!"

__ADS_1


__ADS_2