ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 69


__ADS_3

Abay parkir motornya terburu-buru, lalu berlari masuk ke pekarangan rumah Wati. Di mana ada Wati dan Dina sedang berjongkok di dekat Ami. Ada sepeda terjatuh di antara mereka.


"Ada apa ini?" tanya Abay yang begitu melihat Ami, dia tahu anak itu jatuh pingsan.


Ketika bola mata Abay turun ke bawah, dia melihat ada darah Ami mulai turun membasahi pahanya.


"Kak Ami mau naik sepeda, mendadak kakinya terpeleset dan jatuh duduk di batang sepeda," jelas Dina.


Saat Dina sedang menjelaskan kronologis kecelakaan Ami, ada banyak orang berdatangan.


"Kaka... apa boleh Oma pinjam mobil bawa Ami ke rumah sakit?" tanya Wati pada seorang anak muda yang ikut datang.


"Boleh, Oma. Aku keluarkan mobil dulu." Kaka si pemuda yang baru datang itu kembali berlari pulang. Rumahnya tepat di depan rumah Wati.


Kebetulan ibunya Kaka juga hadir, begitu juga tetangga yang lain. Hari sabtu pagi yang heboh.


Mobil pun sudah siap.


"Ibu naik duluan ke mobil!" seru Abay sambil mengangkat tubuh Ami.


"Aku ikut ya, Pa!" pinta Dina.


"Kamu di rumah saja!" tolak Abay.


Mobil sedan hitam Kaka, kini diisi ibunya dan Wati yang duduk di belakang menemani Ami. Abay duduk di depan bersama Kaka.


Dina ditemani Maya dan yang lain hanya bisa melihat mobil melaju pergi. Dalam hatinya Dina berdoa, Ami akan baik-baik saja.


Semua orang pun bubar, kecuali Maya yang tak membiarkan Dina seorang diri.


Dina lalu mengajak Maya duduk di lantai teras rumah, sambil melihat ke arah motor Abay yang terparkir di luar pagar.


"Kak Ami kenapa sih?" tanya Maya.


"Tadinya aku disuruh Oma pergi ke warung baru itu loh. Tetapi Kak Ami yang lagi senang naik sepeda, menawarkan dirinya yang pergi. Ya udah, selembar kertas barang yang mau di beli sama uang aku serahkan pada Kak Ami." Dina menarik napas.


"Terus, terus?" tanya Maya tak sabar.


"Tahunya, pas kaki Kak Ami menjejak pedal sepeda. Entah kenapa dia terpeleset dan jatuh duduk di batang sepeda. Sisanya, kamu lihat sendiri kan?" Dina menutup ceritanya dengan pertanyaan.


"Iya, aku lihat. Tapi kayaknya aku tahu deh kenapa Kak Ami yang pingin pergi ke warung baru itu," ucap Maya.


"Sok tahu kamu, memangnya kamu cacing dalam perut Kak Ami apa?" tawa Dina.


"Tapi beneran, kok. Di sebelah warung baru itu kan ada warnet game online tuh. Penjaganya itu ganteng, namanya kalau nggak salah itu Harry. Kak Ami yang cerita, katanya dia suka melihat si Harry itu. Parah Kak Ami...."

__ADS_1


"Parah kenapa?" tanya Dina.


"Dia kan sudah pacaran sama Bang Adul. Masa iya matanya masih suka melirik cowok lain. Kecil-kecil aja udah genit, gimana besarnya nanti. Bisa jadi buaya perempuan dia!" Maya berdecak.


"Gaya kamu, kayak sudah gede aja!" seru Dina tertawa, tetapi dalam hati dia kaget karena baru tahu kabar ini. Ami pacaran sama Adul.


"Aku sih masih kecil, tapi badanku gede!" Maya tertawa lucu.


Dina pun tertular dengan virus tawa Maya.


"Oya, kamu nggak mau ikuti jejak Kak Ami?" tanya Maya.


"Jejak apa?" Dina balik bertanya.


Kebetulan saat itu lewat tukang ketoprak. Maya lalu bangkit berdiri.


"Bang Michael, ketopraknya tiga piring!" teriak Maya dari teras rumah Dina.


Pedagang ketoprak keliling berhenti tepat di depan pagar rumah yang terbuka lebar.


"Pedas atau tidak, Maya?" tanya Michael si pedagang ketoprak yang tinggi kurus, saking tingginya atap gerobak ketoprak hanya sebatas lehernya.


"Pedas, seperti biasanya." Maya menjawab lantang.


"Ok, tunggu!"


"Apa itu?" Michael menengok ke Maya.


"Lama, jangan pakai lama ngulek bumbunya. Bumbu kasar aja, biar ada rasa kacangnya."


"Ok, sip. Dijamin beres!" Michael kasih kode jempol.


Maya lalu duduk di sebelah Dina.


"Oya, sampai mana tadi?" tanya Maya.


"Jejak Kak Ami," jawab Dina yang masih ingat.


"Eh, iya... kenapa kamu tak ikuti jejak Kak Ami pacaran? Aku jamin, kamu akan lebih menang dari dia. Secara kamu kan lebih sip eh cantik dari Kak Ami." Maya tertawa pelan.


"Pacaran? Kamu kan tahu kalau aku itu...."


"Masih kecil, masih sekolah dan tugasnya itu belajar bukan pacaran. Ya, kan?" Maya memotong ucapan Dina secepat kilat.


"Kamu udah tahu, pakai nanya!" Dina cubit tangan Maya.

__ADS_1


"Ya, udah kalau begitu masuk deh, ambil air minum sama uang." Maya dengan seenaknya menyuruh Dina.


"Kalau ambil air minum aku paham. Nah, kalau ambil uang... maksudnya apa nih?" tanya Dina dengan senyum dikulum. Padahal dalam hatinya dia sudah menebak, paling Maya minta dibayarin.


"Hihihi, tadi kan aku pesan tiga piring. Cuma uang yang ada cukup buat bayar satu piring aja. Sisa yang dua, masa iya bayar pakai daun?" Maya kedip-kedipkan matanya.


"Bilang aja minta ditraktir!" Dina lalu berdiri.


"Hihihi, malu ah bilang seperti itu. Kan kamu itu teman yang paling baik dan perhatian. Rajin menabung buat traktir teman." Maya tertawa lepas.


"Dasar, pantas aja badanmu sebesar tong! Makan terus kerjanya." Dina lalu berjalan masuk ke dalam rumah.


*


Ketika mobil Kaka berhenti di depan rumah Wati, di teras rumah sedang berkumpul Dina, Maya dan Adul yang sengaja lewat depan rumah.


Karena melihat di teras rumah ada Dina dan Maya, Adul pun beranikan diri untuk mampir.


Baru saja Adul mau menanyakan Ami, eh mobil telah parkir di depan rumah.


Pertama kali yang keluar itu Wati, disusul Ami dan ibunya Kaka. Baru terakhir Abay turun, sementara Kaka majukan mobilnya untuk terus diparkir di depan pagar rumahnya sendiri.


Kaka turun dari mobil dan terus masuk ke rumahnya, diturut oleh ibunya yang merasa cukup berbasa-basi sejenak.


"Kak Ami baik-baik saja kan Oma?" tanya Dina pada Wati, karena dia melihat wajah Ami masih pucat, dia alihkan pertanyaan pada Wati.


Wati menghela napas. Dia teringat saat dirinya dan Abay duduk di hadapan dokter Adinda.


"Ami gimana kondisinya Dok?" tanya Wati.


"Secara fisik, cukup dia istirahat dan minum obat, kesehatannya akan baik-baik saja."


"Tapi apa ada kasus lainya, Dok? Di luar urusan fisik itu?" tanya Abay pada dokter Adinda.


"Ya, ada kasus dibilang luar biasa iya, dibilang tidak... entahlah! Tergantung pada suami Ami nantinya," jelas dokter Adinda.


"Ami kan masih kecil, Dok. Kok, bawa suami segala?" tanya Wati heran.


Helaan napas dokter Adinda terdengar, tetapi berhubung dia harus memberitahukan hasil diagnosa pasien dalam hal ini Ami adanya, dia harus bicara secara terus terang sesuai kode etik kedokteran.


"Selaput dara Ami pecah. Dia sudah tak perawan lagi. Benturan antara batang sepeda dengan tulang selangkanya membuat tekanan yang besar dan mengakibatkan pecahnya selaput dara Ami," tutur dokter Adinda.


"Ah!" terdengar jeritan kaget Wati dan Abay secara bersamaan.


Air mata Wati pun mengucur tanpa bisa dicegah lagi. Dia merasa kasihan pada Ami, sekaligus berharap di masa depan nanti Ami akan menemukan suami yang mau mengerti keadaannya. Ami masih perawan, tetapi bisa juga tak disebut perawan karena kondisi tubuhnya, akibat kecelakaan kecil berbuah fatal.

__ADS_1


Hanya saja, jalan masa depan Ami itu siapa yang tahu?


Akhirnya Wati dan Abay membawa pulang Ami yang diijinkan pulang oleh dokter Adinda. Tentunya dengan membawa obat yang harus dia minum.


__ADS_2