
Langkah kaki Rey sebentar lagi akan memasuki kamarnya.
Di balik bantal, mata ular Bwalika mengawasi tanpa berkedip detik-detik Rey akan memasuki kamar. Kemudian akan berjalan ke arah kasur, mengambil ponsel dan 'hap' kena tangkap deh alias kena gigit.
Tugas selesai dan Bwalika bisa pulang tanpa Dina harus marah. Karena Dina tak melihat, tahu begini... dia kerjai saja Ami saat jauh dari Dina.
Namun waktu Rey mau memasuki kamar, terdengar suara bel.
"Eh, kok udah pulang aja? Cepet, amat!" Rey pun memutar tubuh dan berjalan ke depan untuk membuka pintu rumah.
Kepala ular Bwalika keluar dari bantal. Matanya memandang ke arah bayangan Rey dengan sorot kecewa. Dia terpaksa harus menunggu beberapa kejap lagi.
"Mama, Papa... kok, udah pulang aja?" ucap Rey begitu buka pintu.
Memang sih ada dua orang yang berdiri di depan pintu rumah Rey, cowok dan cewek. Tetapi jelas bukan kedua orang tua Rey, karena kedua tamunya sepasang anak muda. Usia kisaran dua puluh.
"Duh, Sayang... masa anak kita segede ini?"
"Hihihi, yang ada malah rebutan minta minum air galon ku, deh. Papanya nggak ada, eh Mamanya di sosor. Ranjang bisa patah Papa!"
"Ngapain sih ke mari Bang Acung?" tanya Rey agak ketus pada pria berkulit hitam manis dan tubuh sedikit lebih kekar darinya.
Tetapi pandangan mata Rey seperti orang sedang menatap lukisan kesukaannya, pada sosok gadis berkulit putih dan berambut hitam lurus. Gadis yang tak bisa dibilang gadis lagi.
"Dasar ya, anak durhaka! Sama Papanya ngomong ketus, sama Mamanya menatap nafsu!"
Pipi Rey kena dicubit pelan jemari lentik si gadis cantik.
"Biasa, anak sekarang lebih dewasa daripada umurnya. Lebih senang melakukan hal dewasa sebelum usianya cukup. Eh, pas jebol kebingungan sendiri, ujungnya... bikin dosa lagi deh buang nyawa manusia." Acung menatap pada gadisnya.
"Kan Bang Acung sama Kak Mawar yang ajarin gue! Udah, mau masuk apa cuma mau ngobrol di teras?" tanya Rey.
"Enaknya si di kamar lo. Cuma ya lo kudu jadi penjaga dulu sebentar. Habis gue udahan, ya Mawar sih siap aja. Gimana, setuju kan?" Acung tersenyum lebar pada Rey.
__ADS_1
"Mau bilang nggak setuju rugi. Mau bilang setuju, bakal nunggu sejam. Apa nggak bisa ikut gabung?" tanya Rey sambil tangannya dengan berani meraba lengan Mawar.
Acung dan Mawar saling menatap, lalu keduanya mengangguk. Tandanya setuju.
Rey bersorak girang, lalu dia memberi ruang buat Mawar dan Acung berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Acung itu tetangga rumah Rey, berusia sekitar dua puluh satu atau enam tahun lebih tua dari Rey. Cuma meski usia Acung terbilang muda, dia sudah menjadi guru bagi Rey.
Apa yang diajarkan Acung bukan hal yang baik. Rey yang saat itu masih terkena virus cinta monyet, di mana cukup puas saling menatap wajah dengan cewek yang disukainya, sudah bahagia walau sekedar pegangan tangan bersama gadis yang dicintainya, bangga mengaku si A sebagai pacar dan si B kekasihnya serta si C selingkuhannya, akhirnya berubah 180 derajat.
Di depan Rey, Acung dan Mawar tak hanya mempertontonkan belaka, tapi juga mengajarkan dan mengajak Rey ikut menghirup aroma tubuh Mawar lebih dekat dan intim.
Rey terjebak pada dunia pergaulan bebas. Sudah berjalan tiga bulan ini. Dia pun tak lagi sekedar berpegang tangan dengan cewek yang menaksir padanya, kamar menjadi saksi bisu apa yang dilakukan remaja itu pada teman lawan jenisnya.
"Aaw! Nakal ya tangan lo, Rey. Main raba pinggang aja!" Mawar tertawa pada Rey.
"Baru pinggang kan Kak... nanti yang lain, ya!" pinta Rey.
"Maunya nambah. Hihihi," tawa Mawar.
"Ular!"
Bwalika yang tak sabar menunggu di atas kasur, di balik bantal dekat ponsel Rey. Pun bergerak turun.
Bwalika tak sekedar merayap turun, tetapi dia juga membelah dirinya menjadi tiga dan ukuran tubuhnya di perbesar. Saat ini tiga ular belang hitam putih sebesar lengan bayi merayap keluar kamar.
Meski ukuran ular jelmaan Bwalika tak terlalu besar, hanya saja racunnya lebih berbahaya. Karena tak ada obat yang bisa menetralisir racun ular Bwalika yang berasal dari alam lain itu, kecuali ada yang paham akan ilmu gaib dan mempunyai kekuatan iman yang besar.
Ketika Bwalika mendekati pintu kamar Rey, dia mendengar jejak kaki tiga orang yang mempunyai getaran berbeda di lantai. Yang paling halus getarannya itu milik Mawar.
Jeritan ketiga anak manusia naas itu kembali terdengar. Namun berbeda hawanya, jika yang pertama berhawa takut dan kaget. Maka yang kedua berbau kematian.
Teriakan yang panjang.
__ADS_1
Rey terkena gigitan ular di lehernya, ular Bwalika melompat terbang ke arahnya.
Acung terkena pahanya dan ular itu masih menempel di tubuhnya, saat badannya ambruk ke lantai.
Mawar dua kali kena gigit di betisnya, kiri dan kanan. Dia pun menjadi orang pertama yang melihat detik-detik jiwa Rey terputus dengan wajah menghitam. Sementara Acung sudah jatuh pingsan dengan wajah berdarah akibat patahnya tulang hidung, kala badannya jatuh ke lantai, mukanya membentur keras lantai keramik rumah Rey.
Sementara itu, Mawar baru bisa menutup matanya ketika melihat kedatangan beberapa orang tetangga yang tertarik teriakan mereka bertiga. Ketika dia sadar nanti, hanya dirinya yang selamat, namun kedua kakinya lutut ke bawah cacat permanen.
Ular Bwalika sendiri, sudah menghilang entah ke mana.
*
Hari berlalu.
Beruntung saat ini tanggal merah. Jadi Ami tak perlu ijin sekolah lagi. Dia merasa malu masuk sekolah dengan kepala terbebat perban. Luka di kepalanya mendapatkan lima jahitan. Luka yang cukup lebar.
Pagi itu, Dina masuk ke kamar Ami dengan tangan memegang mangkuk berisi bubur ayam, disuruh Wati.
Setibanya di kamar Ami yang mana dulu merupakan kamar Dina, tampak Ami sedang kesal karena tak bisa menghubungi Rey.
"Ih, ke mana sih Bang Rey? Apa mati? Susah amat dihubunginya?" umpat Ami menumpahkan rasa kesalnya.
"Kak, sarapan bubur ayam dulu. Tadi Oma baru beli di pasar," ucap Dina yang telah berjalan masuk ke kamar.
Ami melirik, tapi tak menjawab. Karena dia lagi-lagi menekan tombol hijau di layar ponselnya di bawah nama Rey, ponsel baru yang didapat dari Abay sebagai ganti rugi 'ulah nakal' Dina yang mendorong dirinya dulu.
Suatu akal-akalan Ami yang berhasil dengan sukses, dia dapat ganti ponsel baru yang lebih mahal dan bagus dari punyanya yang hancur.
"Kak, bubur ayamnya!" seru Dina.
"Berisik, tunggu telepon gue ke Bang Rey nyambung nih!" Mata Ami membesar menatap Dina.
Dina pun menaruh mangkuk bubur ayam di atas meja belajar Ami. Dia tak mau menguping pembicaraan Ami dan Rey.
__ADS_1
"Halo, Bang Rey... kok, lama baru diangkat. Kangen tahu... eh, maaf Ibu... aku pikir tadi Bang Rey... oh, apa? Bang Rey mati... saksi mata bilang dia digigit ular?"
Ponsel Ami terlepas dari tangannya. Untung jatuhnya ke kasur, kalau tidak bisa jadi Dina lagi yang disalahkannya.