ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 127


__ADS_3

Abay didorong masuk ke dalam kamar Nyi Malini. Karena didorong, tubuh Abay jatuh berguling-guling dan baru berhenti ketika ekor ular Nyi Malini menahan laju tubuhnya.


Abay merasa kepalanya pusing dan tubuhnya terasa sakit. Mau hancur tulang rasanya, karena lantai batu yang keras dan benjol-benjol, seperti jalan setapak yang sengaja dibuat untuk refleksi tapak kaki.


Namun di tempat Abay berada saat ini, dia melihat lantai marmer yang bening seperti kaca. Terbayang rupa Nyi Malini yang duduk di kursi kebesaran.


Di samping kiri dan kanan ratu ular tersebut berdiri sepasang pelayan gadis ular. Tetapi kedua pelayan itu bukan memegang kipas besar, di tangan mereka berdua yang ada sebuah tongkat yang ujungnya golok besar.


Jika Abay disuruh memegang tongkat golok tersebut, belum tentu dia sanggup. Karena saking besarnya dan itu dia tebak melalui ketukan ujung tongkat yang dibenturkan ke lantai.


Abay saja sampai bergetar tubuhnya.


"Angkat kepalamu, Abay!"


Abay yang saat itu dalam posisi duduk bersimpuh dan kepala tertunduk, lalu mengangkat kepalanya. Dilihatnya Nyi Malini semakin cantik, tetapi wajahnya sangat galak dan dingin.


"Apa kamu mau hidup lagi di dunia?" tanya Nyi Malini.


Abay ingin menjawab iya, tetapi dia curiga. Tentu ada syarat yang diajukan Nyi Malini. Tak akan semudah itu Nyi Malini menawarkan sesuatu, buktinya saat ini dia menjadi budak setelah mendapatkan kekayaan.


"Jika kamu mau, aku bisa kembalikan dirimu ke dunia lagi. Kamu bisa hidup kembali dan menjalani hidup normal. Sampai sekarang tubuh kasarmu masih belum tertimbun tanah dan bersatu dengan bumi. Masih ada di rumahmu dijaga anak-anakku," ucap Nyi Malini yang menyebut para ular penjaga tubuh Abay sebagai anak-anaknya.


Abay belum menjawab.


"Jika kamu setuju, aku akan berikan lagi harta kekayaan berlimpah bagimu. Bahkan kamu tak perlu mencari tumbal."


Abay mulai tertarik.


*


Rombongan pengantar jenazah Suta dan Said sudah pulang. Tampak wajah sedih Sasan, Dina, Ami, Maya dan Yuri masih terlihat.


Hal yang wajar, Sasan sedih karena dia kehilangan anaknya. Bahkan dia sudah mendengar cerita tentang kematian Lala bersama suami baru dan adiknya Suta, yang mati karena ledakan tabung gas yang membakar rumah.


Sasan sangat bersedih, dua wanita yang pernah singgah di hatinya telah lebih dulu pulang ke asal, dua anaknya dari dua wanita tersebut tertinggal satu, yakni anaknya Endah yang cantik, Dina. Sementara Lala dan Suta sudah pergi selama-lamanya.


Dina juga sedih, kalau dia tahu Suta itu adiknya. Dia akan menahan Suta untuk tetap tinggal di rumah Wati, tentunya merayu Ami lebih dulu.

__ADS_1


Ami sedih karena dia menyimpan rasa suka pada Suta, begitu juga Maya dan Yuri.


Bedanya Yuri yang paling terpukul atas kehilangan Suta. Memang dia termasuk baru bertemu dengan Suta, tetapi dia sudah mendapatkan pertolongan pemuda yang dia cintai itu.


Walau usia Yuri menjelang 16 tahun, tetapi benih cintanya untuk Suta mulai hadir. Kesalahan yang disesali gadis itu, karena dia tidak mengembalikan cincin milik Suta yang jatuh, malah dia simpan dan anggap sebagai tanda ikatan.


Padahal Yuri pernah selamat dari gangguan jin ular Nyi Malini, berkat doa sebelum tidur dan juga pinjaman cincin dari Suta.


Dina pernah mengatakan pada Yuri, cincin Suta itu memiliki kekuatan yang ditakuti oleh ular baik ular dunia maupun luar dunia. Cincin itu menyimpan kekuatan doa yang besar yang khusus dibuat untuk melawan jin ular.


"Kak, aku pamit pulang, ya." Wajah Yuri terlihat lelah.


"Mau aku antar? Tapi jalan kaki. Soalnya aku tak punya motor," ucap Dina.


"Tak usah Kak, aku sendiri saja. Kakak kan butuh istirahat." Yuri menggeleng.


"Atau begini saja, biar aku antar aku sampai depan gang, setuju?" tanya Dina.


Yuri mengangguk.


Dina dan Yuri pun mulai berjalan meninggalkan rumah Wati. Sepanjang jalan mereka tak bicara, hingga sampai di depan mulut gang, di mana nanti Yuri akan berbelok ke kanan.


"Kamu yakin, apa tak mau diantar sampai rumah?" tanya Dina menegaskan.


"Tak perlu Kak." Yuri menggelengkan kepala.


"Begini saja, kita makan bakso dulu, yuk! Itu di rumah sana!" Dina menunjuk ke arah sebuah rumah yang halaman depannya di jadikan warung bakso.


Yuri tak menolak, karena dia merasakan cacing perutnya sudah berteriak minta makan.


Sebenarnya tadi Yuri ditawari makan bersama dengan para pengantar jenazah. Di tempat Dina, setiap habis mengantar jenazah ke tempat pemakaman umum, para pengantar akan disediakan menu makanan untuk disantap bersama. Biaya untuk itu biasanya dari uang kas RT dan juga patungan warga.


Terkadang menunya itu berganti-ganti, sesuai adanya uang saja. Tetapi yang jarang berganti itu ayam goreng.


Sekarang perut Yuri terasa lapar. Dia tak sempat sarapan pagi.


Ketika Dina dan Yuri masuk ke dalam warung bakso, ada seorang nenek tua yang berbelok masuk ke dalam gang rumah. Nini Ai yang datang.

__ADS_1


"Bang, baksonya dua ya. Bakso urat, kasih tetelan ya Bang," pinta Dina sementara Yuri sudah duduk lebih dulu.


Dari 3 meja yang ada, hanya mereka berdua yang menjadi pembelinya. Warung bakso dalam keadaan kosong.


Ada dua orang pelayan yang melayani Dina dan Yuri, sepasang suami istri.


"Minumnya apa Dik?" tanya si istri.


"Es teh manis Mbak," jawab Yuri.


"Aku es teh jeruk," ucap Dina.


"Sebentar, ya!"


Dina mengangguk, sementara Yuri keluarkan lagi cincin milik Suta.


"Aku tak mau terima, kamu pegang saja!" Dina yang melihat Yuri mengeluarkan cincin, langsung menolak meski Yuri belum bicara.


"Ya, terus gimana dong Kak? Aku rasa cincin ini tak pantas di tanganku!" Yuri menatap kecewa Dina.


"Mana sini cincin itu?" Dina meminta cincin dari Yuri.


Yuri tersenyum lega. Dia berikan cincin ke tangan Dina. Tetapi pada akhirnya dia kaget.


Karena saat Dina menerima cincin, pergelangan tangan kiri Yuri ditangkap Dina dan cincin masuk dengan mulus ke jari manis Yuri.


Sudah begitu, cincin susah untuk dibuka, meski Yuri berusaha untuk melepaskannya.


"Kalau kamu mau buka cincin itu, jalan satu-satunya potong cincin itu." Dina tersenyum.


Tadi waktu Dina memasukan cincin ke jari Yuri, dia sedikit menekan cincin hingga tak bisa lepas dari jari Yuri.


Yuri hanya bisa bengong.


"Mengenai Suta, sudah waktunya mulai detik ini kamu lupakan dia!" seru Dina, yang berhenti karena mangkok bakso dan minuman es sudah datang.


"Kok gitu Kak?" tanya Yuri heran.

__ADS_1


"Sekarang, kalau kamu pikirin Suta, apa Suta bisa hidup lagi? Nggak kan? Yang ada malah kamu sedih kepanjangan. Bukan berarti kamu lupakan Suta 100 persen, yang perlu kamu lakukan itu ya berdoa buat Suta, kenang hal yang baik dari dirinya dan buang jauh pikiran buruk. Kamu bukan penyebab Suta ketemu ajalnya. Yuk, makan bakso dulu!"


__ADS_2