ISTRI RAHASIA

ISTRI RAHASIA
Istri Rahasia Bab 81


__ADS_3

Ami diikuti Suta berlari masuk ke dalam rumah. Namun sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, di depan pintu mereka berdua berhenti dan melihat Wati bak orang gila berlari ke arah pintu, sepertinya mau keluar.


"Oma ada apa?" tanya Ami menatap pada kertas yang dipegang Wati. Dia curiga.


"Dina mana? Mana Dina?" tanya Wati dengan bahasa dibolak-balik.


"Maksud Oma?" Ami tampak bingung.


"Katakan, apa yang kamu bilang ke Dina? Kenapa dia pergi dari rumah? Oh, kalian berdua ini seperti minyak dan air, tak bisa bersatu. Oh, bukan... kamu yang jahat, mulutmu terlalu usil!" Wati bicara cepat dengan nada marah.


Wajah Ami memerah, lalu berubah pucat. Dia marah mendengar dirinya dituduh Wati, sekaligus dia malu karena ada Suta yang turut mendengar.


"Maaf, sebenarnya ada apa ya Oma?" Suta turut bicara.


"Kamu siapa?" tanya Wati menatap Suta yang berdiri di depan pintu. Menghalangi dirinya.


"Suta, temannya Dina," jawab Suta.


"Ah, iya. Oma ingat kamu," ucap Wati baru sadar wajah Suta tak asing di matanya


"Sebenarnya ada apa, kok Oma marah-marah sama Kak Ami?" tanya Suta sambil melirik Ami yang berdiri disebelahnya dengan wajah masih terlihat pucat.


Wati menarik napas terlebih dahulu, lalu dia sodorkan kertas yang dipegangnya ke arah Suta.


"Bacalah!" perintah Wati.


Suta meraih kertas dan mulai membaca.


'Oma, aku ijin pergi dengan Ayah kandungku. 2 tahun lagi aku pulang.'


Suta tampak kaget. Dina pergi? Pergi ke mana? Buat apa Dina pergi? Terus siapa ayah kandung Dina?


Ami mempunyai pikiran serupa Suta. Karena saat Suta membaca isi tulisan yang ada di kertas, dia ikut membacanya.


Membaca itu, Ami pun lega. Karena Dina pergi bukan akibat dari seringnya mereka adu mulut, membikin ribut hingga 'pecah' kepala Wati.


"Maaf, Oma... kalau dibaca dari surat yang ditulis Dina ini. Berarti Kak Ami tak salah. Karena Dina beritahu, dia pergi ikut Ayah kandungnya. Berarti dia pergi bersama Papa Abay, dong. Jadi bukan salah Kak Ami!" ucap Suta membela Ami.


"Iya, Oma tadi tak bisa berpikir dengan jernih. Maafin Oma ya Ami!" pinta Wati menatap Ami.


Ami mengangguk.

__ADS_1


Saat itulah terdengar suara seseorang dari luar rumah. Wajah Wati, Ami dan Suta berubah kaget.


*


Lala membesut keringat di jidat dan lehernya. Walau jarak warung dan rumah tak terlalu jauh, sekitar 50 meter. Namun membawa tabung gas 3 kilo cukup melelahkan baginya.


Setibanya di dapur rumah, suasana dapur tak terlalu terang. Mati lampu. Karenanya dia menyalakan sebatang lilin agar pencahayaan di dapur cukup terang.


Lala pun mulai sibuk membuka segel plastik tabung gas, sambil telinganya mendengar suara dari kamar mandi yang berada di belakang dapur. Sepertinya suaminya sedang mandi, karena anaknya yang kecil adiknya Suta sedang tidur di lantai di depan televisi.


Setelah segel terbuka, Lala pun memasang tabung gas. Lalu terburu-buru bangkit untuk mengambil panci kecil guna memasak air. Sedianya dia ingin membuat segelas kopi untuk suami tercinta.


Hingga Lala tak mendengar bunyi desis halus dari selang gas bocor.


Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Entah nasib buruk atau memang sudah takdirnya. Begitu Lala memutar kenop kompor gas. Terdengar suara ledakan kencang.


Tubuh Lala terpental ke belakang dan membentur tembok, lalu percikan gas terbang ke arah api lilin. Api pun membesar dan menempel di benda yang mudah terbakar.


Ledakan itu membuat tetangga rumah kaget dan semakin kaget ketika menemukan api mulai membakar rumah.


Ketika api bisa dipadamkan, tiga nyawa ikut terbakar bersama rumah yang sebagian dindingnya hangus terbakar. Meski tindakan tetangga termasuk cepat, sayangnya tetap terlambat.


*


Abay yang semalam kena dimarahi Nyi Malini dan hampir saja mati terjerat ekor ular Nyi Malini, bergegas naik ke atas motornya. Dia telah mandi dan memakai baju rapi, tinggal pergi ke rumah Wati menemui Dina.


Maksudnya sih ingin bertanya pada Dina, apa semalam ada menemukan kejadian aneh. Hanya saja sepanjang jalan, Abay belum menemukan cara yang tepat untuk bertanya.


Sampai mendekati rumah Wati, Abay masih belum bisa menemukan kata yang tepat, yang bisa dia jadikan pertanyaan pada Dina.


"Lihat situasi dan kondisi aja, deh! Paling nggak, aku bisa mulai dengan alasan mengantar dia berangkat sekolah. Ya, siapa tahu dia sendiri nanti yang akan cerita, ada pengalaman apa semalam," desis Abay yang mempercepat laju motornya.


Tak lama Abay pun sampai dan sebelum dia parkir motor, dia sudah melihat di depan pintu rumah Wati berdiri Ami dan seorang remaja pria.


Walau melihat dari arah belakang, Abay masih bisa mengenali Dina atau Ami. Dina tak hanya tinggi, tetapi memiliki rambut sepundak beda dengan Ami yang sepunggung.


"Kamu belum berangkat sekolah, Ami? Dina mana?" tanya Abay sambil melangkah masuk ke arah rumah. Motornya diparkir di luar pagar.


"Loh, Papa Abay nggak pergi sama Dina?" tanya Ami setelah memutar tubuhnya dan berhasil meredam rasa kagetnya. Dia pun menatap Abay dengan sorot terheran-heran.


"Memangnya Dina pergi ke mana?" Abay berhenti sejenak.

__ADS_1


"Dina memangnya tak ikut pergi sama kamu?" Wati keluar dari rumah dan mengulang pertanyaan Ami terhadap Abay.


"Aneh, aku saja baru datang, Bu. Darimana bisa aku pergi sama Dina?" Abay bergantian menatap wajah Wati, Ami, Suta dan terakhir pada kertas yang berada di tangan Suta.


"Ah, Iya... ini ada surat dari Dian, Oom!" Suta melangkah maju dan memberikan surat ke tangan Abay.


Begitu surat diterima Abay, Suta mendengar dering teleponnya.


Cepat Suta mengangkat telepon yang berasal dari Adul, sesuai dengan nama yang tertera di layar.


Saat itu juga Abay membaca surat dan dia kaget ketika tahu Dina telah pergi dengan Sasan, ayah kandung Dina.


"Hah, apa? Bang Adul tak bohong kan?" teriak Suta yang membuat semua orang ikut kaget.


Suta tak hanya berteriak kencang, dia pun tampak panik dan terus saja berlari pergi.


"Hei, Suta ada apa?" tanya Ami berteriak.


"Rumahku kebakaran!" jawab Suta tak berhenti berlari.


Ami dan Wati saling memandang. Sementara Abay seperti orang linglung dan menyebut satu nama.


"Sasan. Ya, pasti Sasan!" ucap Abay cukup keras.


Suta tidak beruntung. Kalau saja dia mendengar nama Sasan disebut Abay, sebelum dia menerima telepon dari Adul, maka dia akan segera tahu jika ayahnya dan ayah Dina sama.


Meski Lala telah menikah lagi, dia sudah memberitahukan Suta nama ayah kandung Suta. Tepatnya minggu lalu. Suta sudah berusia hampir 15 tahun, sudah cukup pantas untuk tahu riwayat hidupnya yang asli.


Tindakan yang tepat, karena Lala hari ini telah pergi ke dunia lain. Setidaknya dia telah berbuat sesuatu untuk Suta.


Hanya saja, Suta tak bisa mendengar cerita dari Abay. Hingga masa depannya dengan Dina nanti akan sedikit berguncang jalannya.


"Papa panggil siapa?" tanya Ami yang tak begitu mendengar jelas nama Sasan. Karena dia terfokus pada keterangan Suta tentang kebakaran rumah.


"Kamu pergi sekolah, sudah waktunya. Ini buat kamu!" Abay berikan uang selembar senilai lima puluh ribu.


Ami menolak dengan cara menggelengkan kepala.


"Kenapa nggak mau?" tanya Abay menatap Ami. Dalam hatinya bertanya-tanya, apa Ami sudah tahu mengenai uang tumbal yang dia tak sengaja berikan kemarin? Uang yang ada simbol ular.


"Kan uang yang kemarin masih banyak Pa. Aku sih suka uang, tapi ya nggak perlu terlalu rakus juga. Besok kalau habis kan juga Papa kasih!" Ami tertawa, lalu dia melangkah pergi dengan langkah lebar. Tentunya setelah berpamitan dengan Abay.

__ADS_1


Sayang, Ami tak memilih untuk mendengar cerita Abay. Kalau tidak, dia akan bisa jelaskan pada Suta, nama ayah kandung Dina itu Sasan.


__ADS_2