
"Manusia ular apa Kak?" tanya Dina yang memutuskan untuk berpura-pura. Dia mendapat petunjuk dari Bwalika.
Sebelumnya Bwalika mengatakan pada Dina, agar tutup mulut dan biarkan Ami tak tahu tentang manusia ular Nyi Malini. Biar yang gaib dan rahasia, tak perlu dibuka terlalu lebar.
Apalagi mengingat sikap Ami selama ini.
Dina yang tak ingin berbohong, terpaksa harus menuruti permintaan Bwalika. Karena dia pun pernah mendapat celaka dari mulut usil Ami yang suka berbohong dan tak bisa menyimpan rahasia, tak hanya sekali.
"Tadi itu ada manusia ular besar banget. Bagian tubuh atas wujudnya wanita cantik habis, bagian tubuh bawah badan ular. Dan... tunggu!" Ami melotot pada Dina.
Dina bergeming.
Saat ini Ami mulai bangkit duduk, setelah dia tersadar dari pingsannya, dia hanya bisa duduk di atas ranjang. Masih takut bertemu si manusia ular.
Dina ikut duduk di atas kasur Ami, lebih tepatnya di pinggir ranjang.
Ami masih terus memandangi Dina. Dia seperti teringat sesuatu. Hingga dia akhirnya tertawa.
"Kenapa tertawa Kak?" tanya Dina heran.
"Manusia ular itu setelah aku ingat-ingat dan pikir, wajahnya mirip sama kamu. Sama cantiknya dan...."
"Kak Ami ngomong apa, sih? Jangan bilang Kak Ami sudah stress, ya!" Saking kesalnya Dina disamakan dengan Nyi Malini, dia pun berucap dengan nada gusar.
"Jelas-jelas gue tadi ketemu manusia ular. Wajah si manusia ular itu serupa lo. Kayak kembar... eh, jangan-jangan manusia ular itu Ibu lo, ya?" ucap Ami kasar dan mengejek. Bahkan dia berteriak segala.
Dina sangat marah. Dia tak terima dirinya dianggap memiliki ibu manusia ular. Tetapi dia termasuk pintar menahan ledakan emosinya, namun ucapannya sangat tajam.
"Sepertinya Kak Ami perlu minum obat penenang. Besok aku akan bilang pada Oma, Kak Ami dibawa saja ke psikiater," ucap Dina sambil berdiri dari duduknya.
"Ada apa ini?" tanya Wati yang mendadak berdiri di depan pintu.
Wati kebetulan terjaga dari tidurnya dan ingin ke kamar mandi, karena kebelet. Tetapi waktu dia buka pintu, terdengar teriakan Ami.
Ami yang mau menjawab ucapan Dina yang menyindir, lantas terdiam. Baru saja dia mau membuka mulut, tahu-tahu Dina yang lebih dulu berbicara pada Wati.
__ADS_1
"Tadi aku dengar Kak Ami teriak, eh pas aku datangi dia sudah jatuh pingsan Oma. Begitu bangun dari pingsannya, mendadak Kak Ami stress. Katanya melihat manusia ular. Apa Oma percaya? Aku takut Kak Ami itu begini!" Dina melintangkan jari telunjuk di jidatnya. Tanda kalau Ami kemungkinan gila.
"Loh, gue itu memang benar lihat manusia ular dan berdiri di pintu kamar," bantah Ami.
"Itu Oma yang berdiri, bukan manusia ular!" Dengan lihainya Dina menyambut ucapan Ami. Bahkan membawa Wati segala.
Wati pun melotot pada Ami. Tentu saja dia tak senang dirinya dianggap manusia ular oleh Ami.
"Bukan Oma, tapi tadi bener ada manusia ular dan dia... dia... mau bunuh gue!" Ami membantah lagi dan selama dia bicara, matanya terfokus pada Dina.
"Terus manusia ularnya mirip sama lo!" tuduh Ami.
Ami menyamakan Dina dengan Nyi Malini sebenarnya demi satu alasan kebencian, karena Dina jauh lebih cantik dari dirinya. Beda jauh kelasnya, kulit mungkin sama putih, tetapi Dina lebih mulus dan terlihat lembut. Wajah mungkin sama cantik, tetapi Dina punya daya pesona lebih tinggi dan tak jarang teman prianya yang datang main ke rumah bertujuan untuk melihat Dina.
Walau Ami punya badan yang lebih sehat dari Dina, alias sedikit lebih padat dan montok, tetapi tetap saja kalah tinggi dan langsing dari Dina. Kalau saja Dina sepantaran tingginya, bisa jadi tubuh Dina akan jauh lebih padat berisi dibanding dirinya.
Ditambah, Dina mempunyai sikap yang jauh lebih baik dan disukai banyak orang, meski Dina sangat jarang berdekatan dengan teman pria. Namun bukan berarti Dina menghina seorang pria yang terjelek sekalipun, tetap ada senyum dan tetap ada batasan.
Beda dengan Ami, yang akan gusar dan mencemooh, jika ada pria seumuran berwajah jelek senyam-senyum tak jelas di depannya.
Entah darimana Dina belajar pintar bicara seperti Ami.
Ami juga merasa heran, mendadak Dina sangat menguasai keadaan. Dia lupa, kalau dirinya lah yang telah memberi contoh pada Dina, dengan ulahnya selama ini.
"Ami, Oma selama ini menutup mulut, karena beranggapan kamu itu pada dasarnya anak baik. Tetapi bukan berarti Oma tak menilai dirimu. Sekarang Oma akan bicara jujur, berhenti mempunyai hati ular. Cucu Oma tak boleh punya hati kotor!" seru Wati.
Ami terdiam. Begitu juga Dina.
"Lagipula Dina ada benarnya, tak ada manusia ular di sini, di kamar ini. Yang ada hanya kamu, Dina dan Oma. Sudahlah, ini sudah malam. Waktunya kalian berdua istirahat, besok kan sekolah," ucap Wati.
Menjawab ucapan Wati, Dina buru-buru keluar dari kamar Ami.
Sementara Wati menatap Ami.
"Oma cuma mau pesan sama kamu, sebelum tidur sebaiknya berdoa dulu, minta dalam tidurmu tak diganggu mimpi buruk atau gangguan jin. Kamu mau paham kan?" tanya Wati dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Iya, Oma," jawab Ami singkat.
Wati lalu menutup pintu kamar Ami. Melihat itu, Ami mau memanggil Wati, tapi tak jadi.
Niat Ami memanggil Wati itu, karena dia tak mau tidur seorang diri dan meminta ijin Wati untuk berbaring di ranjang yang sama, kalau tak di kamar Wati ya di kamarnya sendiri.
Namun Ami takut Wati malah akan mentertawakan dirinya. Padahal belum tentu Wati menolak, hanya saja dia sudah takut terlebih dahulu sama Wati.
Ami takut dianggap penakut oleh Wati.
Karena itu Ami hanya bisa menatap daun pintu kamarnya dan tertawa tanpa suara.
"Awas saja lo, Dina! Gue bakal balas ucapan nyelekit lo tadi, tunggu tanggal mainnya!" desis Ami yang tak akan bisa wujudkan niatnya dalam waktu dekat.
Beda Ami, beda Dina.
Di dalam kamarnya, Dina telah ditunggu Bwalika yang menanti dengan senyum lebar.
"Hebat kamu!" Bwalika acungkan jempol nya sebagai isyarat pujian.
"Kenapa Kak?" tanya Dina yang sama sekali tak takut maupun jijik melihat Bwalika yang hadir dengan tubuh setengah manusia dan setengah ular.
'Ternyata kamu punya mulut setajam silet juga. Puas aku melihat wajah pucat Ami yang tak bisa membalas ucapanmu tadi," jelas Bwalika.
Dina tak menjawab, malah dia tak senang atas pujian Bwalika.
"Kalau begitu, aku pergi dulu! Sampai berjumpa lagi." Bwalika terus saja menghilang dari hadapan Dina.
Selepas Bwalika pergi, air mata Dina merambat turun.
"Aku berdosa, telah berbohong dan bicara kasar pada Kak Ami. Ya Allah, maafkan aku!" seru Dina dalam doanya.
Lalu Dina beranjak naik, hanya untuk sekedar menutup mata tanpa bisa tertidur nyenyak, hingga nanti dia akan keluar rumah di waktu subuh belum lagi tiba.
***
__ADS_1
"Nini Ai bilang, kalau anak bernama Dina ini tak mau ikut aku pergi dari rumahnya, aku harus serahkan surat di dalam kantongku ini. Kok, aku jadi penasaran. Buka apa jangan?" tanya Sasan yang berjalan mendekati rumah Wati, bertemu Dina.